RSS

Monthly Archives: October 2007

Berkaca pada Cermin yang Memar

Nampaknya gejala disintregrasi bangsa menular pada dunia sastra kita (Yogya). Disadari atau tidak, hal ini berawal dari komentar dianggap tidak berlaku adilnya devisi sastra FKY 2007 pada penyair Yogya. Dari moment itulah kita seakan tersadar betapa miskinnya pengalaman kita dalam demokrasi bersastra yang cerdas, bermoral, dan santun.
Selesainya Festival Puisi Nasional, dijadikan momentum yang sedap bagi para makelar sastra untuk semakin mencarutmarutkan polemik yang tengah berlangsung dengan aji kata-kata. Yang lain sibuk mengumpulkan curhatan kawan yang enggan diketahui namanya oleh orang yang diserang untuk ditulis di media, Minggu Pagi tentu saja. Menjadi begawan, maunya.
Hal ini terlihat ketika sumbat-sumbat kepenyairan terbuka secara tiba-tiba, yang tidak diperkirakan sebelumnya. Munculah eforia (politik?) sastra yang seakan-akan hanya puisi dan penyairlah persoalan utama dalam dunia sastra. Lho, novel, cerpen, naskah drama juga karya sastra, kan? Atau bisa jadi teman-teman kita berharap, tugas yang lainlah menyuburkan yang saya sebutkan belakangan ini. Hal ini mengingatkan saya pada orang-orang partai yang bertugas di Dewan! Yang tak punya kesempatan, silahkan menciptakan sendiri! Jangan coba-coba titip aspirasi!

Puisi Bengkok Meluruskan
Kalau kondisi ini dibiarkan dan tidak dikendalikan, akan memiliki potensi yang besar dalam mempertajam dinding pemisah di antara penggiat sastra di Yogyakarta. Dalam hal ini, saya sepakat dengan pendapat Latief Noor Rochmans, bahwa perlu diadakan suatu dialog yang meluas, terbuka, rasional dan bersikap konstruktif melalui bahasa yang santun tapi mengena antar komunitas yang tengah berseteru, meski terselubung dan bisa jadi tak mau mengakui siapa yang tengah berseteru.
Salah satu tugas yang diemban sebuah karya sastra adalah untuk menuntun masyarakat pada satu perspektif atau wacana yang memberikan kebaruan berpikir untuk menjadi bijak. Kalau para penggiatnya masih ribut perkara ‘dipentingkan’ dan ‘tidak dipentingkan’ bagaimana masyarakat bisa mengambil hikmah dari perjalanan dalam membaca karya sastra.
Seorang nabi (bukankah kabarnya penyair disebut juga nabi), sudah seharusnya memiliki etika dan retorika yang baik untuk berkomunikasi di media yang ditujukan pada orang lain. Terlebih orang yang sedang bertanya perihal berkarya berdampingan. Tentu, etika berbahasa perlu digunakan disini. Tanggapan di media, bukanlah karya sastra yang memiliki batasan etika yang lebih longgar. Ia ada untuk menentukan solusi bersama.
Kenapa demikian? Agar kesalahpahaman dan kerancuan yang dikarenakan salah tafsir dengan tanggapan orang lain di media dapat diminimalisir sekecil mungkin. Dalam hal ini, saya menyukai gaya bertutur Latief Noor Rochmans yang santun. Tentunya saya bukan ahli bahasa yang sedang menilai, saya hanya pembaca yang tengah memperhatikan tulisan-tulisan yang bersliweran sejak sekian bulan lalu.
Mengingat tugas-tugas yang diemban sebuah karya sastra ada hal yang menarik. Dalam dunia sastra, khususnya dalam puisi dan novel, bahasa memiliki andil yang cukup besar dalam penyampaian banyak misi. Terdapat salah satu jargon yang mengaitkan antara politik dan puisi dari mendiang John F. Kennedy yang berbunyi, “Jika politik bengkok, puisi akan meluruskannya.” Nah kalau puisi-nya yang bengkok bagaimana? Kalau penyairnya yang bengkok mau apa?
Konflik merebak, berlangsung menerus bergeser sedikit kembali ke awal. Hal ini tentu saja berimbas kepada pembaca sastra dalam masyarakat juga pengikutnya. Penulis-penulis yang (dianggap) muda mau tak mau musti tahu. Tapi yang dibahas ya perihal sekelompok penyair yang dianggap tidak adil pada sekelompok yang lain, tidak tahu unggah-ungguh. Nah, sebenarnya siapakah penyair yang mana yang merasa kecolongan itu?

Yang Perempuan yang Tak Ada
Ada yang terselip, atau bisa jadi para penonton yang datang dalam Festival Puisi Nasional selama dua hari itu lupa. Bahwa dari sekian penyair yang tampil itu, baik yang dianggap serius tampil maupun yang cengengesan, beridentitas seks Male, lekaki semua.
Rupanya, koreksi yang dilakukan oleh teman-teman melupakan satu perspektif itu. Tentu sebagai penonton saya tidak tahu perihal penyair berjenis kelamin laki-laki saja yang datang (diundang?) dalam festival itu. Mungkin saja tidak ada satupun penyair perempuan yang dianggap cukup pas untuk disejajarkan dengan penyair yang lain malam itu. Atau memang ada misi tersendiri yang kita bersama tidak tahu. Pada hari kedua, saya sempat melihat tiga aktivis feminis datang ke acara tersebut, bisa jadi salah satu dari mereka membatin, “Ah tidak sensitive gender sekali acara sastra ini.”
Mungkin pernyataan tersebut tidak ada korelasinya dengan polemik hadir dan tidak hadirnya Genthong HSA malam itu. Tapi cobalah direnungkan mengapa Devisi Sastra FKY 2007 tidak menghadirkan perempuan penyair sebagai subjek penampil dalam malam festival bertaraf nasional tersebut. Apakah kiranya mereka tidak lolos sensor?
Saya sendiri tak bisa menjawabnya. Karena saya tidak tahu pasti barometer standar yang digunakan teman-teman panitia. Sama tak tahunya saya dengan siapa yang pas disebut penulis muda dan mana saja yang pantas disebut penulis tua. Apakah perempuan penulis dan atau penulis muda telah dimasukkan dalam bingkai second class, meski dengan cara yang samar-samar mereka menguncinya?
Anehnya lagi, teman-teman perempuan penyair tidak mencoba memberikan tanggapan perihal sekian hal tersebut. Kalau demikian, pantas saja mereka tidak dilibatkan sebagai subjek dalam festival tersebut. Lho, ini bukan perihal siapa ingin unjuk gigi, tapi proses diskusi yang diawali dan terjadi di media ini bisa menjadi koreksi bersama untuk berkarya berdampingan.
Janganlah sampai kondisi ini menimbulkan asumsi publik, bahwa sastra semata-mata Male area, yang segala permasalahan dan politik yang berlangsung adalah urusan laki-laki. Perempuan duduk manislah, belajar menulis, mewakili energi keibuan sebagaimana garis yang dicitrakan dalam sosok perempuan.
Pendeknya, dunia sastra, telah menjelma Negara baru, beberapa orang malu-malu ingin disebut raja atau presiden. Beberapa yang lain mau juga disebut MA. Senang kiranya, memperhatikan diskusi yang berkembang di media, tapi kalau mengarah pada disintegrasi, rasanya menjadi sedikit payah. Meski naïf juga memiliki keinginan menyatukan sekawanan orang hebat dan besar dalam satu kelompok.
Ya memang begitu, demikian adanya. Ini negeri syair, yang kesohor karena karyanya, penulisnya, kegiatan-kegiatannya, juga tentu saja mitos-mitos yang berkembang di dalamnya. Maka tak heran ada juga yang menjadi begawan mitos yang terus diasah taringnya untuk kepentingan kelompoknya. Ya tidak apa-apa, proses belajar kan melalui berbagai cara. Termasuk juga tentu saja mencoba-coba menjegal etika dalam berkarya karena tak ingin selamanya menjadi tawar!

Advertisements
 
20 Comments

Posted by on October 21, 2007 in Essay