RSS

Monthly Archives: August 2007

WURUNG (Mingguan, Minggu Pagi 5 Agustus 2007)

Pada hari yang telah terpilih, meski tak kau tunggu. Burung-burung pipit yang kau curigai sebagai pembawa pesan dari masa kanak-kanakmu akan lewat, melaluimu sebagai beban yang musti ditandai dengan cara tersendiri. Saat itulah, kau akan lupa menghitung bulu-bulu seekor peri masa lalu yang runtuh di dadamu.
Mereka berlalu, setelah kau siapkan sangkar bermacam raya bagi mereka. Ada yang bersolek, tersenyum melihat caramu tertawa. Kau segera lupa, taman-taman bunga yang kau buat. Kau segera tak ingat warna dini hari kembang matahari yang kau sembunyikan dari aku.
Tapi aku sering merasa tak ingin mengingatkanmu untuk jujur saja. Kita telah menyepakatinya, aku dengan ponyet kecil, dan kau dengan kembang matahari itu. Karenanyalah, kita membiarkan rumput dan karat tumbuh bersama. Sayang, berapa banyak kastil dan harapan telah kau bangun di luar sana? Aku tak ingin tahu.
Burung-burung pipit itu, mereka menyelinap pergi sore lalu. Mencari harapan yang telah kau kutuk membatu. Ada saatnya mereka tak ingin mengingat Jonggrang yang resah dengan kebatuan Bandung Bondowoso. Atau melupakan bagaimana Nawang Wulan dengan sembunyi-sembunyi menciumi tiap helai rambut Jaka Tarub dengan nyaru menjadi bulan pada malam terpilih itu. Kau lupa, untuk menyebut dirimu apa!
Nah, burung-burung pipit itupun mencuri dongeng sendiri. Mereka melepaskan satu persatu helai bulunya. Membakarnya pada persajian kecil yang kau namai aku sebagai apinya, melembutkan abunya untuk dilukiskan pada warna langit. Kau akan segera tahu. Seperti aku, burung-burung pipit itu selalu ingin lupa jalan pulang.
Ada yang datang di antara mereka. Seekor burung gagak dengan pistol kecil terselip di paruhnya. Ah, aku begitu mengenal pistol itu. Pelatuknya akan mengeluarkan bunyi yang tak lagi kita namai. Seperti sunyi dan senyum yang jarang lagi kita sebut. Begitulah, burung gagak itu melepaskan suara seperti burung-burung pipitmu.
Dari sejak mula, Nawang Wulanlah yang melakukan kesalahan, tidak semustinya dia meninggalkan kayangan untuk mencuri sejuk dari telaga Wurung. Oh, mengertilah, ini bukan perkara Tarub yang telah lancang mencuri jiwa seorang bidadari dari atas batu. Sejak mula, sejuk tak boleh diambil dengan diam-diam. Terkutuklah bagi mereka yang tak malu mencuri sejuk dengan melupakan beku dalam hatinya.
Kau akan menjelma Jaka Tarub, dan aku menjadi batu candi. Menyempurnakan sunyi dan harapan yang abadi di Brambanan. Tapi serupa burung penghabisan, aku terlanjur memilih menjadi lempengan pertama tangga wurung. Kau akan melaluiku, meski tak ingin! Aku akan mengejarmu, meski tak mau.
Pada malam bulan tak penuh, dimana kekuatan semesta memuja anasir mula bumi. Kita telah meminum seperempat air telaga di pinggang Lawu. Kau melarangku, aku melarangmu, tapi kita melakukannya bersama. Rambut kita basah, bibir kita basah, burung-burung pipit itu, basah. Tapi kita terlanjur, menantang kutukan telaga Wurung di Lawu.
Batu-batu yang sunyi berdiri, mereka bicara, tersenyum menyambut kekasih baru. Aku kaunamai batu, kau kunamai batu. Burung-burung pipit, berlalu. Jangan cengeng, tak perlu menangis, sudah semustinya aku tak mencuri sejuk darimu! Jadi kau tak perlu menyimpanku sebagai batu.
Tapi burung-burung pipit penyampai pesan masa kanak-kanak telah datang menyemangatimu. Mereka menyimpan cerita sungai, mereka mengantungi cerita laut, mereka menyembunyikan cerita gunung. Kau mempercayai mereka, seperti kepatuhan seorang anak kepada ibunya.
***

Hari bagi mempelaimu telah dipersiapkan. Mahkotanya wangi dupa Arab. Daun pacar ditumbuk lebih halus. Tandu dihias lebih megah. Kelambu putih dihiasi kenanga juga melati. Emas diambil lebih banyak. Kepala-kepala kerbau dihias bersama permata dan pita merah. Kau lupa bertanya padaku, apa sesaji kesukaanku, sebagai penyempurna lamaranmu.
Kuku-kukuku masih pendek, mereka lupa cara tumbuh. Rambutku belum panjang, mereka suka berubah ikal. Pipiku masih coklat, mereka benci kemerahan. Mataku masih terpejam, keduanya lupa cara bersinar. Kau harus mengecup ubun-ubunku, terlebih dulu untuk membangunkan harapanku.
Aku akan memilih kebaya sutra dengan prodo paruh burung-burung pipitmu. Pada tiap kancingnya, musti kau tuliskan sajak cinta dari warna putih kedua bola matamu. Aku menginginkan rambutmu, untukku berjalan melalui tanah bebatu kelopak mawar hari itu. Maka kau tak punya pilihan, selain pergi berlalu.
Kau telah mempersiapkan warna gincu untuk mempelaimu yang jelita. Tapi kau lupa kepada siapa meminta pengantinmu. Kau akan selalu berharap Nawang Wulan mengulang kesalahannya, mencuri sejuk dari telaga Wurung di Lawu. Sementara kau sibuk mengubah mantra kutukan, agar Jonggrang tak selamanya menjadi batu.
“Ibalah padaku, sedikit saja, kasihanilah aku, kumohon.”
Tapi ini bukan perkara iba, kasihan dan permohonan. Ini tentang Tuhan yang berjudi dengan Dewa. Kalah dan menang kitalah tumbalnya. Kau menangis, terlanjur memetik pelaminan yang dipersunting oleh angin. Mari, kuajari kau bercinta tanpa mahar!
Kau harus menjadi angin, selalu menjadi angin, untukku bisa memenuhimu. Karena dunia hanyalah pinjaman, seperti Mendut yang meminjamkan tangannya pada perempuan-perempuan pelinting asap tanpa beha. Kau telah kucandu, seperti burung-burung pipit yang mencandumu.
Perjalanan demi perjalanan telah memasuki ingatan dari taman yang kau bangun. Bawalah serta kenangan, karena padanya kau menggantungkan separuh ingatan tentang jalan pulang. Kau harus pulang, kau musti mempersiapkan cara membayar hutang mempelai pada ibu yang menyusuimu. Karena hanya dengan kepulangan, maka kepergianmu dimulai dengan upacara dan persajian yang kau minta.
Ceritakanlah pada Ibu, perihal telaga wurung di Lawu. Tentang lutung dan siamang yang mengeroyok kita minta dibagi hangat. Tentang pohon-pohon jati dan hijau sawi yang menghidupi kita. Tentang harapan dan janji yang mengajari kita hikayat mimpi. Tentang perempuan yang mengganti sunyimu dengan embun pagi.
Maka, ceritakanlah pula padaku tentang senyum Ibu. Cara Ibu menyambutku di depan pintu rumah panggungmu. Cara Ibu mengajariku merapikan ranjang pengantin kita. Cara Ibu mengajariku memeluk dan menciummu. Juga cara Ibu mengajariku menyalakan api untuk menanak nasi. Ceritakanlah padaku, cara Ibu mengenalkan aku pada tanahmu di pulau itu. Sebagai menantu Ibu, ceritakanlah semua padaku.
Pada daun-daun nyiur yang menari. Pada angin yang mengedip pada ombak. Pada biji-biji kelapa perkebunan yang siap digarap. Dan cerita api kecil dalam gorong-gorong yang kau bisikkan pada anak-anakmu kelak. Kau telah tampak perkasa memenuhiku. Alismu melengkung sempurna pengantin pria yang cemas berbahagia.
Aku menyulamkan benang-benang emas pada baju yang akan kau kenakan hari itu. Kain beludru berwarna hitam, beberapa butir permata peninggalan dan emas berbentuk kelopak bunga. Kau pasti tampan saat mengenakannya.
Mungkin, aku dan Ibu akan membahas warna dadamu. Caramu menggelung rambut yang kekal. Caramu meminangku di atas kastil tua dalam sembalik cemara. Oh, aku akan tersenyum malu-malu, Ibu akan tertawa senang, dan adik-adikmu berebut haru. Sementara burung-burung pipitmu, berdiam dalam cemas, menghitung detik yang akan segera datang, menutup kisah Cinderela tepat waktu.
Di luar, suara ombak menawarkan perdamaian. Sunyi suling menggiring ingatan kita tentang gembala-gembala kecil yang menghalau kerbau mereka dari sawah dan lumpur yang bukan miliknya. Aku merasa, semua nyiur dan bakau berhasil meniru sunyi kita. Impian-impian yang membatu pelan-pelan.
Aku telah menjelma Cinderela, dan kau pangeran yang mencari pengantinnya. Sepatu kacaku perlahan segera berubah menjadi abu. Burung-burung pipitmu, ramai memperingatkan kita untuk segera pamit pulang. Tapi kita terlalu asyik. Aku terlalu kerasan lelap di ayunan mata Ibumu. Dan kau diam-diam membaca mantra untuk mengutuk burung-burung pipit menjadi batu. Tapi kau lupa Sayang, hanya Jonggrang saja yang sanggup menjelma batu karena kutukanmu.

Juli, 2007

Advertisements
 
11 Comments

Posted by on August 16, 2007 in Cerita-cerita Pendek

 

Tags: , , , ,