RSS

dejavu, Sayap yang Pecah, 279

27 Jul

Sisa salju, dingin dan mandul. Kelopak senja sedikit telat menurunkan tabir kehiduapn. Tak ada lagi senja yang sama, seperti saat Mahendra memasrahkan nafasnya pada rumput yang menyimpan air seni domba-domba.

Salju yang mulai meleleh. Diam-diam tanah kembali siap terluka. Lalu dengan sedikit senyum kutitipkan isyarat pada siapapun yang mengingat aku. Jika sisa senja menuntut banyak perhatian dan hembus angin lupa berderit, jangan berpura-pura diam dan memanggul sedih. Cepatlah bergegas mainkan kecapimu dan menarilah bersama liukan daun dan celoteh rumput.

Aku di sini pada bilik yang tenang, jauh tersembunyi meski bukan di dalam hutan. Sungai kecil yang berkilauan airnya saat matahari sedikit berbagi hangat, juga bintang-bintang yang mengedip pada pintu yang terbuka, mengisyaratkan semua padamu tentang rahasia di balik semua naskah.

Kekasih, bilakah rindu ini sampai di pelabuhan hatimu, biarkanlah tetap terkemas rapi dan manis, dengan pita merah dan kecupan bibirku sebagai pembungkusnya. Malam-malamku yang padam baru saja mengeja setia, berharap cinta masih berderap di hatimu. Hingga panas semesta tak terasa menesap ke lukaku.

…………
Namaku akan terpahat pada papan kosong atau mungkin batu hitam yang berhati mulia; karena memperbolehkanku menitipkan nama padanya di sebuah acara pemakaman. Aku pergi bersamaan menghilangnya mimpi-mimpi juga elegi. Sudahlah biarkan semuanya berakhir sebegini saja.

Kepergianku tidak membutuhkan penjelasan. Perpisahan bukanlah sesuatu yang pantas dipaparkan. Biarlah semua datang dan pergi dengan keinginannya sendiri. Bahkan tinta seorang penyair pun tak akan sanggup menghentikanku.

Aku pergi dengan sayap terbakar
Kurobek jantungku sendiri dengan kedua tanganku
Meremas detaknya hingga tersiar kabar ke negeri seberang
Hingga darah yang menetes memprasastikan setia dan cintaku
Di dalamnya ada namamu, entah kapan kau tahu
Biarlah dengan demikian cintaku terbalas

Pergilah sudah harapan. Dan hikayat yang tinggal biarlah menjadi catatan bagi sang ahli sejarah, jika itu pantas dijadikan sejarah. Sejarah yang mungkin bisa menjadi dongeng sebelum tidur bagi semua saja.

Biarlah kepergian menjadi sesuatu yang sakral. Jangan mengharap penjelasan. Kelak, aku kan lahir dengan senyum yang sama untuk mengejarmu, menuntut jawaban dari sekian dendam yang belum kau sampaikan padaku.

 
17 Comments

Posted by on July 27, 2007 in Novel

 

Tags: , , , ,

17 responses to “dejavu, Sayap yang Pecah, 279

  1. pembaca

    July 27, 2007 at 12:51 pm

    sekilas, saya merasa bahasa DejaVu jauh lebih padat ketimbang Garis tepi Lesbian. Saya merasakan kesedihannya. sangat. sekalipun beberapa metafor terlalu memaksa. misal, domba domba dan salju bagi saya adalah dunia yang ganjil. karena tak pernah ada ditemukan ada binatang domba di sebuah kutub penuh salju. tapi entahlah. yang ingin saya katakan hanyalah, perasaan sentimentalia cenderung menurunkan kualitas metafor…

     
  2. pembaca

    July 27, 2007 at 12:53 pm

    ya…bener…pengarang sentimentil memang tak ubahnya sopir antar pulau…haha haha

     
  3. jatayu

    July 27, 2007 at 12:56 pm

    sayap yang pecah tu tidak mengingatkan orang pada seekor makhluk tebang. karena seharusnya patah. serupa jatayu. tapi lain kalau yang dimaksudkan adalah jatayu pesawat, itu mungkin bisa pecah. tapi agak mengada – ada deh. menurut saya, orang harus mengontrol diri saat hendak menciptkan sebuah metafor. seorang yang terbawa oleh perasaan adalah pengarang yang buruk…jangan jadi pengarang buruk ya…

     
  4. jatayu

    July 27, 2007 at 12:58 pm

    bagian penutup paragraf ini cukup menyentak dan tidak mengada-ada. semestinya begitu semuanya

     
  5. cinta

    July 27, 2007 at 12:59 pm

    tetapi ini bukanlah sebuah ralat. hanya sebaris surat yang mestinya kamu tanggap. jangan keras kepala dan merasa dipermalukan bila ada yang mengkritik tulisanmu…orang baik terus belajar…dalam hal apapun

     
  6. riki

    July 27, 2007 at 1:01 pm

    dan yang jelas, saya tak merasa ada hubungannya dengan pribadi saya. ini tak dapat menjadi pisau yang mau menusuk saya. ini hanya gurau untuk orang seperti saya yang sudah terlalu berpengalaman…

     
  7. riki

    July 27, 2007 at 1:02 pm

    maksudnya di bidang tikam menikam

     
  8. riki

    July 27, 2007 at 1:02 pm

    sekalipun saya lah selalu yang kebagian tikam. i love love

     
  9. Kurnia

    July 28, 2007 at 9:11 am

    kalau mau yang biasa dan masuk logika berpikir, menulis laporan kegiatan sajalah. Bagi pengarang apa yang tidak mungkin? memangnya sayap tak boleh pecah? justru anda yang terperosok pada kesewenangan kata. kalau rintik hanya boleh untuk hujan? tidak boleh dipakai untuk rindu serupa rintik? atau bagaimana?

     
  10. Riki Dhamparan Putra

    July 28, 2007 at 2:11 pm

    Bahasa tu membentuk pikiran. bukan pikiran yang membentuk bahasa. bahasa tu sumber pikiran, bukan pikiran yang menciptakan bahasa. justru kalau anda mengada – ada, itu kesewenangan namanya. bahasa dikodratkan lahir untuk menciptakan pengertian atas setiap dunia. bukan untuk mengacaukannya. apa yang kamu rasakan dari rintik rindu? itu adalah istilah yang norak. setiap bahasa menghubungkan diri dengan pembacanya lewat satu jembatan, yaitu rasa. Nah, rasa ini membuat orang tak mungkin berbohong dengan subyek yang merasakannya. jadi jangan mengada – ada.
    kemudian tentang kualitas metafor. mengapa beberapa sajak yang bagus bisa diterima sekalipun tidak ada kaidahnya dalam EYD? pertama – tama anda harus membedakan arti logika di dalam bahasa dengan logika dalam hal lain. faktor utama yang sangat menentukan keberhasilan sebuah metafor bukanlah boong – boongan atau ungkapan yang mengada – ada. tapi keterlibatan. ini susah dijelaskan kecuali anda menulis sajak dengan sungguh – sungguh. waktu Sutardji Calzoum Bakhrie mengatakan ” mari pecahkan botol – botol// ambil lukanya// jadikan bunga//…mari pecahkan jam// ambil tik toknya// jadikan diam//…” orang langsung merasakan betapa hidupnya ungkapan itu. hal apa yang menghubungan botol – luka – bunga? adalah keterlibatan. baik keterlibatan transenden maupun keterlibatan langsung atau lewat pengalaman hidupnya. orang bisa merasakan pedih sajak itu karena satu jembatan : yakni adanya faktor eksistensial yang sama. pengelaman yang sama atau keterlibatan yang sama pada peristiwa botol, luka, jam dan bunga. anda mengerti?
    jadi, jangan berdalih dengan kebebasan berbahasa dalam puisi. sampai mati anda ngotot mengatakan bahwa rintik rindu itu lebih tepat ketimbang rintik air, tetap saja itu bukan ungkapan yang bagus. anda akan terjebak pada dusta bahasa bila tidak sabar dalam mengendapkan suatu peristiwa yang akan anda tuliskan. dusta bahasa akan melahirkan ungkapan murahan..anda mengerti?

     
  11. rusli

    July 29, 2007 at 9:13 am

    mampus pus pus
    meong….logika,?laporan kegiatgan sajalah..? lho beri sedikit waktu saja agar logika menjadi sederhana agar orang orang suka.. itulah kesombongan seorang sastrawan. sudah ya sudahlah..kalau semakin sulit dan rumit, aneh, bagus, katanya. kesewenangan kata? bermain main di kata kata. hebat. elegan dan terkotak..

     
  12. rusli

    July 29, 2007 at 9:19 am

    mampus pus pus
    meong….logika,?laporan kegiatgan sajalah..? lho beri sedikit waktu saja agar logika menjadi sederhana agar orang orang suka.. itulah kesombongan seorang sastrawan. sudah ya sudahlah..kalau semakin sulit dan rumit, aneh, bagus, katanya. kesewenangan kata? bermain main di kata kata. hebat. elegan dan terkotak

     
  13. soebandie

    August 3, 2007 at 2:22 pm

    bagaiamanapun juga, apa yang telah kita tulis adalah hasil dari kontemplasi yang melelahkan. terlepas dari lama atau tidaknya kita mengendap dan menarik diri dari keramaian atau problem atau rutinitas dan pekerjaan. puisi tidak harus “melogika”, tapi logika penting dalam menyampaikan gagasan.

    tetaplah rawat “anak-anak” yang cacat di pangkuanmu…agar ia tetap hidup dan menemui kehidupannya sendiri….

    salam kenal. Agit Yogi Subandi.

     
  14. krida

    August 4, 2007 at 7:40 am

    saya sepakat sajalah.saya baru saja menemukan blog ini. kebetulan kemarin bertemu mbak herlinatiens saat kongres ODHA&OHIDHA di jakarta. saya pikir, saya sangat baik dan cerdas. so smart lah…jarang-jarang bertemu orang seperti dia. sempat menuliskan sebuah puisi untuk saya. saya senang karenanya.

     
  15. Chen Hendrawan

    August 12, 2007 at 6:10 am

    Waaaaa waaaaa, ternyata Cinta nge-blog juga …😀😀 Baru tau😀

    p.s. Sorry, ngeganggu orang-orang yang lagi bising kritik sastra :p

     
  16. art

    February 1, 2009 at 2:02 pm

    sayap yang pecah….novel yg buruk…ga jauh dari seksualitas yg di imajinasikan di dunia metropolis….standard murahan…hanya di buat kompleks…

     
  17. antiart

    May 28, 2010 at 6:03 am

    art patah hati pada ka tiens ya? kasihan betoeeel, jangan-jangan belum membaca bukunya sudah asal komentar. Semangat ka tiens

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: