RSS

Garis Tepi Seorang Lesbian, 57-59

26 Jul

Rafael……….

Kau katakan cinta adalah melakukan, aku menjadi tambah mumet. Terlepas dari kata sepakat ataupun tidak sepakat, aku menjadi bertanya-tanya, melakukan apa? Melakukan yang bagaimana? kalau demikian, melakukan adalah transitif, ia butuh objek. Jadi apa?

Aku sendiri lebih sepakat mengatakan bahwa cinta adalah tidak melakukan sama sekali. Karena itulah cinta bisa bebas, lepas dari segala batasan. Tapi bukan berarti cinta menjadi lepas dari segala batasan. Aku menjadi bingung.

Rafael, kita lanjutkan.
Ketika cinta adalah melakukan, maka ia menjadi terikat, menanggung beban dan konsekuensi untuk berbuat. Adakah keharusan, sebuah kewajiban yang dilakukan untuk dan demi sebuah kewajaran. Bahwa cinta adalah melakukan. Untuk bercinta. Syaratnya; melakukan, harus. Demikiankah? Sebagai contoh misalnya adalah kata perempuan. Perempuan adalah bla bla bla. Jika tidak bla bla bla mala dia bukan perempuan. Untuk menjadi seorang perempuan maka harus bla bla bla. Bukannya ini justru akan menjadi sebuah paradoks? Ketika keharusan ini berhadapan dengan cinta itu sendiri? Aku kurang sepakat. Lebih tegasnya lagi tidak sepakat. Kecuali, jika kau mengajukan argumen yang lebih hebat dan kuat lagi.

Teori berpikirku masih berkutat pada paradoks kucing katamu! Biarlah.

Kemudian kita menuju pada apa yang telah kukatakan sebelumnya padamu. Cinta adalah tidak melakukan sama sekali. Sebetulnya tidak tepat demikian maksudku. Cinta adalah…….
Nah, begitulah! Cinta adalah tidak ada sama sekali. Karena cinta adalah cinta. Tidak ada konsekuensi, tidak ada keharusan. Bebas untuk melakukan ataupun tidak melakukan sama sekali. Dan ini justru inilah yang bisa kita jadikan parameter kita untuk memaknai sebuah cinta yang kita inginkan. Mengukur cinta dengan cara yang memang sangat abstrak. Cinta adalah memilih. Memilih untuk melakukan, atau sebaliknya, tidak melakukan. Memilih untuk tidak memilih sama sekali. Tapi ini tetap pilihan bukan?

Biarkan cinta tetap pada tempatnya yang abstrak. Sistem kompleks ini tidak perlu direduksi dengan; adalah, merupakan, dan banyak bla bla bla yang lain. Masalahnya adalah bagaimana memandang kompleksitas dengan cara yang sederhana. Bukan menyederhanakan kompleksitas. Kursi tetaplah kursi. Bukan papan-papan kayu yang disusun sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk kita duduk. Tapi kursi juga tidak sesederhana ‘kursi’. Kursi juga sistem kompleks bukan? Memang sulit Rafael, untuk membedakan, ketika seseorang mengucapkan; kursi adalah kursi, untuk pertama kali dan kedua kali. Jadi mau bagaimana?

Rafael.
Sepertinya ada tiga tahapan penting, aku nyontek dari buku yang dua hari lalu aku baca, Rafael.
Pertama, memandang kompleksitas sebagai keserdehanaan. Kedua, memandang kompleksitas sebagai hal-hal rumit yang perlu direduksi. Dan yang ketiga adalah memandang kompleksitas secara sederhana. Nah inilah titik dari pencapaian Zen itu! Zen, bicara masalah Zen, mari kita kupas sedikit saja tentang Zen. Seingatku ia adalah ajaran khas murni Budhisme tentang pencapaian pencerahan, sebuah pengalaman, satori. Bukannya Zen meleburkan filsafat-filsafat dan tabiat-tabiat yang aneh? Aku tak paham. Sungguh. Semoga Zen ini dapat membantu melatih pikiranku untuk sampai pada satu titik temu tentang visa dan realitas dasar kehidupanku. Agar aku menjadi sadar akan keterbatasan-keterbatasanku. Tapi tentunya juga menyadari kekuatan-kekuatanku untuk tetap survive di semesta raya ini. Nah, kau tahu Rafael? cintaku pada seorang perempuan bisa membuatku mampu bertahan hidup sampai sekarang ini.

Kini aku tahu, kau tak kan pernah tahu, kalau aku telah melampaui batasan itu. Lesat dan lesat! HIngga mencapai klimaks. Teorimu, teori rasionalitas yang fundamental, dan juga radikal. Kau masih di bawah Rafael? dengan sistem konstruk yang sama? Sebuah paradigma yang bocor, kuno, dan phobia. Kuno! Tapi aku masih menghargai sistem paradoks yang ada di otakmu. Kau brilliant, otakmu cemerlang! di antara mamalia menyusui di kebun binatang itu.

Tapi Rafael, hipotesisku, cara pandang yang dibangun dengan tiga tahapan ini, akan terus bersenggama dan bersentuhan dengan tiga tahapan berikutnya. Sehingga sistem yang semula akan terus mengalami bifurkasi ini, akan menjadi sistem kompleks yang lebih kompleks lagi. Puyeng sekali bukan? Yups, entropi ini akan terus meningkat, meningkat dan meningkat. Untuk lesat dan terus melesat. Membawaku pada kesadaran tingkuat tujuh. Jauh meninggalkanmu yang masih berkutat pada hal-hal dasar yang kuno. Wagu.

Rafael, dimana ilmu-ilmu yang telah kau timba dari banyak negara itu? Rupanya selama disana kau disibukkan dengan ramalan-ramalan kitab dari manusia-manusia yang telah dimusiumkan. Hingga kau tidak punya waktu untuk bersetubuh dengan kenyataan. Tentang angka-angka yang menghasilakn carut marut yang membuat kita bego.

(……………..)
Yah Rafael, karena sampai saat ini aku masih meniadakan konsep pernikahan antara perempuan dan laki-laki, catatan: bukan berarti aku mengharamkan. Pernikahannya! Ingat! bukan wacana tentang pernikahan. Tapi proses pernikahannya. Padahal justru ini yang menghapus konsep pernikahan yang ada pada konstruk pikiranku. Maka sebetulnya aku juga meniadakan proses menuju itu, seperti yang pernah temanku lakukan.

Mungkin ini cukup Rafael. Aku mau beraktivitas. Ada sedikit semangat dan energi, setidaknya untuk satu hari ini. Entah energi darimana, aku tahu, mungkin kiriman dari kekasihku, Rie. Aku merasa sedikit segar, seperti baru saja menghirup bau tanah, kayu, dan pepohonan yang tersiram air hujan. Terimakasih (Tuhan?)

#
Aku ingin menghirup bau tanah. Berenang pada kedalaman kesejukan-Mu, sesaat saja untuk meleburkan duka lara ini. Kenapa aku menjadi sedemikian payah dan lena. Rie, dengarkan aku, Sayang.

 
35 Comments

Posted by on July 26, 2007 in Novel

 

35 responses to “Garis Tepi Seorang Lesbian, 57-59

  1. rusli

    July 29, 2007 at 8:53 am

    ehm ehm ehm aku membacanya dengan khidmat. satu hal yang aku dapat. tulisan yang sangat hebat..ohhh begitu arti cinta bagi seorang yang pintar..ck..ck.. aku ingin mengingat kakekku dulu yang datang untuk meminang nenekku..untung dia tidak membaca tulisan diatas.. untung untung.. untung .. coba kalau iya. pasti aku tak akan ada di dunia itu…

     
  2. novika

    August 24, 2007 at 5:39 am

    kamu bertanya dimana surga dunia itu? peluh yang mengalir di atas ranjang kita.

     
  3. zen

    January 15, 2008 at 8:01 am

    kowe eling aku ora pas nulis pasase ttg ajaran2 zen di atas?🙂

     
  4. herlinatiens

    March 27, 2008 at 1:12 pm

    eling eling lali. Ya inget kali Zen. Yang mana ya? kekeke.

    @ Novika : waduw, surga begitu dekat dong ya ma kita…di atas ranjang.

    @Ruslu : maka berterimaksihlah pada Kakekmu, BUng!

     
  5. dea

    April 23, 2008 at 7:25 am

    iyai’i….. puyeng q!!! puyeng alias ra mudeng q…………

     
    • kiki

      April 8, 2010 at 10:19 pm

      podo :S

       
  6. herlinatiens

    April 24, 2008 at 6:36 am

    @ dea: lha kok? kok nggak paham?

     
  7. meeme

    June 20, 2008 at 10:56 pm

    salam kenal tiens….

    aku malah g mudeng baca novelmu…kelewat pintar apa ya? buat cewek iq jongkok ini, sama sekali nggak ngerti

     
  8. unFoRgeTTabLeguRL

    April 14, 2009 at 9:58 pm

    suka bgt dhe sama tulisan mu ini..

    dan buku yg judul na ttg lesbian ini sangat membantu saia n lesbian lain nya tuk ngadepin rg” yg gak tau apa-apa..

    thx banget ya hernaliteins..

    trus berkarya ttg lesbian..

    hihihi..

     
  9. LigX

    July 3, 2009 at 9:34 am

    kata2 yang indah seperti para lesbian yang begitu indah,,memaknai keberagaman cinta ,menjadikan satu yang utuh untuk selalu dibaca oleh penikmatnya.buku yang brilliant.motivasi bwt para L niy..

     
  10. Adinda

    September 20, 2009 at 8:05 pm

    Betul..Betul.. Betul..

    aku mengalami hal yang sama

    jadi seperti bercermin pada diri sendiri

    luv u tiens..

     
  11. nisydas

    November 14, 2009 at 2:29 pm

    nyari bukunya dimana yah…… masih ada nggak….. ataw masih terbit….

     
  12. Liena

    December 6, 2009 at 1:07 pm

    sAya udh bCa buku’y beBeRapa..beneR” bgus..daLem bgt..syA spRt msuk k dLm cRta tRsbut..
    tp syNg buku’y udah ga ad..
    kiRa” dmN yA syA bsA beLi buku tU…atö msH mbAk msh ad…syA mhöN bgt mbAk..
    makasih sbLm’y

     
  13. sassa

    December 14, 2009 at 4:58 pm

    kmrn aku ke perpus umum di sekitar rumah aku, g sengeja nemu buku ini. mata aku langsung IJO aja.
    belom aku babad abis sih buku na
    tapi sumpah bagus banget
    aku tersentuh sama kata2 na

    brilian.

     
    • bebek

      December 16, 2009 at 3:15 pm

      herlinatiens gitu looocH…sumpah deh loe kudu baca yang sebuah cinta yang menangis, gila booo lebih mantap. nangis bombay dan ditampar2x herlin di buku itu gw.
      ada kata2x dia yang gw ingat.

      adalah tugasku mengabaikan lelaki dengan senyuman dan mengabaikan perempuan dengan rayuan.

      gileeeeeeeeeeeeeeee

       
    • herlinatiens

      December 6, 2010 at 1:04 am

      makasih sassa

       
  14. r rianti

    April 27, 2010 at 1:12 pm

    aku sdh py buku itu lama skali, garis tepi seorg lesbian dan sebuah cinta yg menangis..
    dan begitu penasaran sm penulisnya, hehehe
    akhirnya bs jg tau seorg Herlinatiens

     
    • herlinatiens

      September 1, 2010 at 8:44 am

      nuwun untuk waktu membacanya, salam.

       
  15. anang arik pribadi....

    October 3, 2010 at 7:56 pm

    sedikit saja baca novel mbak,saya langsung senang membacana.
    novel itu cerita tentang kisah mbak sendiri ya?????

     
  16. indri

    May 2, 2011 at 9:17 pm

    hebat tulisannya , bahasanya, pengolahan katanya .
    aku pernah menjadi seorang lines tapi aku sudah sembuh ,
    .
    .
    GL k .
    salam kenal🙂

     
  17. Ova

    February 28, 2012 at 11:46 pm

    Novel mba hebat .. salah satu novel favoritku ..

     
  18. LIPYKA SEJAHTERA

    December 20, 2012 at 3:15 pm

    Koella bagus bangettt … aku sampai baca 3x😀

     
  19. novi

    December 23, 2012 at 10:05 pm

    makin sayang sama buchi gw

     
  20. Ayu

    October 4, 2013 at 7:31 pm

    aku cari novel GTSL belum nemu2 jugaaa😥

     
    • herlinatiens

      February 13, 2014 at 9:00 pm

      tahun lalu terbit lagi dengan judul cover; Ashmora Paria terbitan divapress, silahkan buka web mereka, kalau di toko sudah tak ada, bisa jadi mereka masih punya

       
  21. setya

    February 1, 2014 at 10:24 am

    kl g salah beberapa kali liat sepintas d perpus fbs uny.. tp liat judulnya aja sudah g kuat…
    kemudian di sodori tmn buat baca ini, katanya sih bagus…
    dari lembar2 pertama aja bahasa nya begitu tinggi..
    ini bukan novel pikirku, tapi kumpulan puisi…
    setiap kata penuh arti.. dari mana bisa memunculkan kata kata n ide crita seperti itu….
    the great writer.. proud of u mbak !!

     
    • herlinatiens

      February 13, 2014 at 8:58 pm

      terimakasih atas waktu yang diluangkan untuk membacanya🙂

       
    • megaayupuspita

      September 30, 2014 at 4:11 pm

      Di fbs uny ada novel GTSL?

       
      • herlinatiens

        September 30, 2014 at 9:52 pm

        Saya kurang tahu, de🙂

         
  22. WINDY

    August 21, 2014 at 7:55 pm

    Aku udh bacaaaa. awalnya ga berani. tp karena penasaran jadi jeng jeng. mantap kaaa gileee bahasanya itu lohhh keren abiss😄

     
    • herlinatiens

      September 30, 2014 at 9:53 pm

      Ah masak? terimakasih kalau begitu. Jangan lupa baca Maria Tsabat juga ya. Hehehe

       
  23. dita anggrahinita yusanta

    October 9, 2014 at 12:12 pm

    halo mbak herlina, aku mau bikin skripsi pakai novelnya yg berjudul Garis tepi seorang lesbian, boleh minta cp nya. mail aku ya novidewikurniawati@gmail.com

     
  24. dita

    October 11, 2014 at 10:23 am

    saya sudah baca beberapa link dan blog tentang sinopsis novel GTSL tapi saya belum menemukan bukunya😦
    ngiler bangettt pengen bacaa
    dimana saya bisa menemukan buku tersebut ? sudah saya cari tapi hasilnya nihil😦

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: