RSS

Monthly Archives: July 2007

dejavu, Sayap yang Pecah, 279

Sisa salju, dingin dan mandul. Kelopak senja sedikit telat menurunkan tabir kehiduapn. Tak ada lagi senja yang sama, seperti saat Mahendra memasrahkan nafasnya pada rumput yang menyimpan air seni domba-domba.

Salju yang mulai meleleh. Diam-diam tanah kembali siap terluka. Lalu dengan sedikit senyum kutitipkan isyarat pada siapapun yang mengingat aku. Jika sisa senja menuntut banyak perhatian dan hembus angin lupa berderit, jangan berpura-pura diam dan memanggul sedih. Cepatlah bergegas mainkan kecapimu dan menarilah bersama liukan daun dan celoteh rumput.

Aku di sini pada bilik yang tenang, jauh tersembunyi meski bukan di dalam hutan. Sungai kecil yang berkilauan airnya saat matahari sedikit berbagi hangat, juga bintang-bintang yang mengedip pada pintu yang terbuka, mengisyaratkan semua padamu tentang rahasia di balik semua naskah.

Kekasih, bilakah rindu ini sampai di pelabuhan hatimu, biarkanlah tetap terkemas rapi dan manis, dengan pita merah dan kecupan bibirku sebagai pembungkusnya. Malam-malamku yang padam baru saja mengeja setia, berharap cinta masih berderap di hatimu. Hingga panas semesta tak terasa menesap ke lukaku.

…………
Namaku akan terpahat pada papan kosong atau mungkin batu hitam yang berhati mulia; karena memperbolehkanku menitipkan nama padanya di sebuah acara pemakaman. Aku pergi bersamaan menghilangnya mimpi-mimpi juga elegi. Sudahlah biarkan semuanya berakhir sebegini saja.

Kepergianku tidak membutuhkan penjelasan. Perpisahan bukanlah sesuatu yang pantas dipaparkan. Biarlah semua datang dan pergi dengan keinginannya sendiri. Bahkan tinta seorang penyair pun tak akan sanggup menghentikanku.

Aku pergi dengan sayap terbakar
Kurobek jantungku sendiri dengan kedua tanganku
Meremas detaknya hingga tersiar kabar ke negeri seberang
Hingga darah yang menetes memprasastikan setia dan cintaku
Di dalamnya ada namamu, entah kapan kau tahu
Biarlah dengan demikian cintaku terbalas

Pergilah sudah harapan. Dan hikayat yang tinggal biarlah menjadi catatan bagi sang ahli sejarah, jika itu pantas dijadikan sejarah. Sejarah yang mungkin bisa menjadi dongeng sebelum tidur bagi semua saja.

Biarlah kepergian menjadi sesuatu yang sakral. Jangan mengharap penjelasan. Kelak, aku kan lahir dengan senyum yang sama untuk mengejarmu, menuntut jawaban dari sekian dendam yang belum kau sampaikan padaku.

Advertisements
 
17 Comments

Posted by on July 27, 2007 in Novel

 

Tags: , , , ,

Garis Tepi Seorang Lesbian, 57-59

Rafael……….

Kau katakan cinta adalah melakukan, aku menjadi tambah mumet. Terlepas dari kata sepakat ataupun tidak sepakat, aku menjadi bertanya-tanya, melakukan apa? Melakukan yang bagaimana? kalau demikian, melakukan adalah transitif, ia butuh objek. Jadi apa?

Aku sendiri lebih sepakat mengatakan bahwa cinta adalah tidak melakukan sama sekali. Karena itulah cinta bisa bebas, lepas dari segala batasan. Tapi bukan berarti cinta menjadi lepas dari segala batasan. Aku menjadi bingung.

Rafael, kita lanjutkan.
Ketika cinta adalah melakukan, maka ia menjadi terikat, menanggung beban dan konsekuensi untuk berbuat. Adakah keharusan, sebuah kewajiban yang dilakukan untuk dan demi sebuah kewajaran. Bahwa cinta adalah melakukan. Untuk bercinta. Syaratnya; melakukan, harus. Demikiankah? Sebagai contoh misalnya adalah kata perempuan. Perempuan adalah bla bla bla. Jika tidak bla bla bla mala dia bukan perempuan. Untuk menjadi seorang perempuan maka harus bla bla bla. Bukannya ini justru akan menjadi sebuah paradoks? Ketika keharusan ini berhadapan dengan cinta itu sendiri? Aku kurang sepakat. Lebih tegasnya lagi tidak sepakat. Kecuali, jika kau mengajukan argumen yang lebih hebat dan kuat lagi.

Teori berpikirku masih berkutat pada paradoks kucing katamu! Biarlah.

Kemudian kita menuju pada apa yang telah kukatakan sebelumnya padamu. Cinta adalah tidak melakukan sama sekali. Sebetulnya tidak tepat demikian maksudku. Cinta adalah…….
Nah, begitulah! Cinta adalah tidak ada sama sekali. Karena cinta adalah cinta. Tidak ada konsekuensi, tidak ada keharusan. Bebas untuk melakukan ataupun tidak melakukan sama sekali. Dan ini justru inilah yang bisa kita jadikan parameter kita untuk memaknai sebuah cinta yang kita inginkan. Mengukur cinta dengan cara yang memang sangat abstrak. Cinta adalah memilih. Memilih untuk melakukan, atau sebaliknya, tidak melakukan. Memilih untuk tidak memilih sama sekali. Tapi ini tetap pilihan bukan?

Biarkan cinta tetap pada tempatnya yang abstrak. Sistem kompleks ini tidak perlu direduksi dengan; adalah, merupakan, dan banyak bla bla bla yang lain. Masalahnya adalah bagaimana memandang kompleksitas dengan cara yang sederhana. Bukan menyederhanakan kompleksitas. Kursi tetaplah kursi. Bukan papan-papan kayu yang disusun sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk kita duduk. Tapi kursi juga tidak sesederhana ‘kursi’. Kursi juga sistem kompleks bukan? Memang sulit Rafael, untuk membedakan, ketika seseorang mengucapkan; kursi adalah kursi, untuk pertama kali dan kedua kali. Jadi mau bagaimana?

Rafael.
Sepertinya ada tiga tahapan penting, aku nyontek dari buku yang dua hari lalu aku baca, Rafael.
Pertama, memandang kompleksitas sebagai keserdehanaan. Kedua, memandang kompleksitas sebagai hal-hal rumit yang perlu direduksi. Dan yang ketiga adalah memandang kompleksitas secara sederhana. Nah inilah titik dari pencapaian Zen itu! Zen, bicara masalah Zen, mari kita kupas sedikit saja tentang Zen. Seingatku ia adalah ajaran khas murni Budhisme tentang pencapaian pencerahan, sebuah pengalaman, satori. Bukannya Zen meleburkan filsafat-filsafat dan tabiat-tabiat yang aneh? Aku tak paham. Sungguh. Semoga Zen ini dapat membantu melatih pikiranku untuk sampai pada satu titik temu tentang visa dan realitas dasar kehidupanku. Agar aku menjadi sadar akan keterbatasan-keterbatasanku. Tapi tentunya juga menyadari kekuatan-kekuatanku untuk tetap survive di semesta raya ini. Nah, kau tahu Rafael? cintaku pada seorang perempuan bisa membuatku mampu bertahan hidup sampai sekarang ini.

Kini aku tahu, kau tak kan pernah tahu, kalau aku telah melampaui batasan itu. Lesat dan lesat! HIngga mencapai klimaks. Teorimu, teori rasionalitas yang fundamental, dan juga radikal. Kau masih di bawah Rafael? dengan sistem konstruk yang sama? Sebuah paradigma yang bocor, kuno, dan phobia. Kuno! Tapi aku masih menghargai sistem paradoks yang ada di otakmu. Kau brilliant, otakmu cemerlang! di antara mamalia menyusui di kebun binatang itu.

Tapi Rafael, hipotesisku, cara pandang yang dibangun dengan tiga tahapan ini, akan terus bersenggama dan bersentuhan dengan tiga tahapan berikutnya. Sehingga sistem yang semula akan terus mengalami bifurkasi ini, akan menjadi sistem kompleks yang lebih kompleks lagi. Puyeng sekali bukan? Yups, entropi ini akan terus meningkat, meningkat dan meningkat. Untuk lesat dan terus melesat. Membawaku pada kesadaran tingkuat tujuh. Jauh meninggalkanmu yang masih berkutat pada hal-hal dasar yang kuno. Wagu.

Rafael, dimana ilmu-ilmu yang telah kau timba dari banyak negara itu? Rupanya selama disana kau disibukkan dengan ramalan-ramalan kitab dari manusia-manusia yang telah dimusiumkan. Hingga kau tidak punya waktu untuk bersetubuh dengan kenyataan. Tentang angka-angka yang menghasilakn carut marut yang membuat kita bego.

(……………..)
Yah Rafael, karena sampai saat ini aku masih meniadakan konsep pernikahan antara perempuan dan laki-laki, catatan: bukan berarti aku mengharamkan. Pernikahannya! Ingat! bukan wacana tentang pernikahan. Tapi proses pernikahannya. Padahal justru ini yang menghapus konsep pernikahan yang ada pada konstruk pikiranku. Maka sebetulnya aku juga meniadakan proses menuju itu, seperti yang pernah temanku lakukan.

Mungkin ini cukup Rafael. Aku mau beraktivitas. Ada sedikit semangat dan energi, setidaknya untuk satu hari ini. Entah energi darimana, aku tahu, mungkin kiriman dari kekasihku, Rie. Aku merasa sedikit segar, seperti baru saja menghirup bau tanah, kayu, dan pepohonan yang tersiram air hujan. Terimakasih (Tuhan?)

#
Aku ingin menghirup bau tanah. Berenang pada kedalaman kesejukan-Mu, sesaat saja untuk meleburkan duka lara ini. Kenapa aku menjadi sedemikian payah dan lena. Rie, dengarkan aku, Sayang.

 
35 Comments

Posted by on July 26, 2007 in Novel

 

Sajak Cinta Yang Pertama, (koella)

di sini hujan
mungkin mewakili apa yang kuingin sampaikan
padamu
Tidar selalu hujan, sayang
aku gigil karenanya

semoga hujan-hujan yang datang tak membekukan hatimu

sepotong coklat
es krim strawberry
kursi hijau berkutu
meja bersegi
aku menghadap ke jalan dan kau larang
tanpa tahu alasan

dan seekor kecoak menghindar berlari

(dalam “Yang Pertama”)

 
15 Comments

Posted by on July 24, 2007 in Puisi

 

Tags: , , , ,