RSS

Ritual Temu Sastrawati Nasional

13 Jun

”…. saya, Laut Selatan dari Tenggara Barat daya, saya seorang sastrawan dengan buku sekian ribu dan ini itu sekian ratus. Saya memiliki jaringan ini itu. Saya terkenal lho. ”Kira-kira begitulah peserta yang bertanya pada pembicara saat maju ke depan dan memperkenalkan diri dalam forum tersebut.

KEBETULAN saya adalah salah seorang yang diundang secara resmi melalui telepon, faks dan diulang dengan surat resmi berkop Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Membaca tulisan semacam resume (kalau boleh saya sebut demikian) tentang Temu Sastrawati Nasional yang ditulis oleh Evi Idawati (KR, Minggu Legi, 10/12/2006), semacam mengingat sesuatu yang tak sempat saya ingat –dengan baik– sebuah ritual yang dilaksanakan di Jakarta.

Menurut hemat saya, permasalahannya bukanlah terletak pada, untuk apa kegiatan itu diselenggarakan, atau siapa-siapa saja yang hadir dalam ruangan ‘sepoi-sepoi’ itu –saya katakan sepoi-sepoi, karena memang terlihat tidak jelas konsep yang berlaku dalam forum itu–, tapi siapakah yang menyelenggarakan acara tersebut. Sedikit kekecewaan yang saya baca dari ‘semacam resume’ yang ditulis oleh Evi Idawati. Kekecewaan yang saya rasakan lebih pada efisiensi yang tidak tercapai. Kenyataannya hal paling bermanfaat justru pada saat coffee break, karena omongan yang bermutu justru lahir dari situ, tentu saja tak lantas bagi saya menganggap sia-sia pertemuan itu.

Dari awal saya sudah mencurigai, bahwa penyelenggaraan acara tersebut adalah untuk semacam penutupan program kerja yang departemen itu miliki. Sebuah pencapaian sistem yang akan dipertanggungjawabkan oleh pejabatnya kepada pemerintah. Jadi ya, tidak usah berharap berlebih pada mutu dan keseriusan pertemuan yang digelar itu.

Terlihat sekali bahwa panitia seperti tidak mengenal good prepare, meskipun saya tahu, acara tersebut sudah diisukan beberapa bulan sebelumnya. Di bulan Juni, saya sudah dihubungi oleh pihak penyelenggara, menanyakan nama-nama sastrawan perempuan yang tinggal di Yogyakarta. Saya yakin, ini juga dilakukan penyelenggara pada peserta yang lain. Jadi mohon dimaklumi saja Mbak Evi, kalau ruangan diskusi yang ‘sepoi-sepoi’ itu menjadi hening. Bahkan muncul sastrawan Korie Layun Rampan, yang oleh pihak penyelenggara dipikir adalah seorang sastrawan perempuan. Jadi, untuk yang diundang tidak usah semegah dan yang tidak diundang tidak perlu kecil hati.

Sebenarnya saya cenderung kurang sepakat dengan istilah, siapa yang ‘pantas’ disebut sastrawan dan siapa yang tidak pantas disebut sastrawan. Ini terkait dengan rembugan peserta waktu itu, yang diserahi konsep penyelenggaraan Festival Sastra 2007. Sempat terlontar bisa jadi dilaksanakan di NTB, mengapa di NTB? Banyak alasan yang kemarin dilontarkan, baik dari pihak penyelenggara maupun dari pihak peserta. Beberapa peserta sempat juga nyeletuk. ”Asyik dong, sekalian jalan-jalan, tapi ya di hotel lho ya.” Apapun kesepakatan yang diambil tentang siapa yang pantas disebut sastrawan dan siapa yang tidak pantas, Festival Sastra dan forum-forum sastra seperti itu pada dasarnya adalah milik setiap orang yang ingin bersapa dengan dunia sastra.

Saya lalu ingat, seorang sastrawan dari Yogyakarta juga, mengirimkan sebuah pesan pendek melalui mobile saya, ”dunia sastra ibarat pohon, ada akar, batang dan daun selain buah dan bunga. Mbok yo jangan hanya bunga dan buahnya saja yang diperhatikan” jelasnya beliau Sang Penyair ini ingin mengungkapkan bahwa yang hadir dalam forum Temu Sastrawati Nasional lalu itu adalah bunga dan buahnya saja, hasil olahan dari daun yang disuplai gizi dari apa yang akar peroleh melalui batang. Coba bayangkan kalau akar-akar tersebut berkumpul bersama bunga, buah, batang dan daun untuk membicarakan dengan kasih dan hangat sastra Indonesia kini dan yang akan datang. Itu mungkin idealnya sebuah pertemuan sastra.

Pertanyaannya kemudian adalah, siapa akar, siapa batang, siapa daun, siapa bunga dan siapa buahnya. Nah, silakan termenung sebentar untuk menjawabnya. Bukan sebuah tugas yang mudah untuk menjawab itu bagi sastrawan sendiri. Apalagi bagi pihak penyelenggara Temu Sastrawati Nasional saat itu. Karena masing-masing ‘sistem pelabelan’ di otak kita memiliki gambaran sendiri tentang siapa akar, batang, daun, bunga dan buah tersebut. Belum lagi ada banyak pohon yang tumbuh di banyak taman, ada juga yang dianggap semacam resrespo bagi yang lainnya.

Tidak dapat dipungkiri, hadir dalam forum nasional bersama orang-orang yang dikenal sebagai seorang sastrawan, memberikan pelabelan tersendiri bagi para peserta. Seperti halnya para pembaca kita, mereka seringkali berharap lebih pada sang pencipta karya. Nah, rupa-rupanya peserta forum tersebut pun ada yang berharap terlalu banyak pada penyelenggara untuk melakukan hal yang ideal dan sempurna. Sudahlah maklumi saja agenda yang diselenggarakan pemerintah untuk deadline tutup tahun. Jika menginginkan sesuatu yang ideal, ya akan baik jika sastrawan sendiri yang menyelenggarakan forum sastra dengan dukungan penuh dari masyarakat dan pemerintah. Lalu kembali muncul pertanyaan, mungkin nggak ya? q – g.
(Harian Kedaulatan Rakyat, Sunday, 24 December 2006, Rubrikasi – Budaya) links

 
3 Comments

Posted by on June 13, 2007 in Essay

 

3 responses to “Ritual Temu Sastrawati Nasional

  1. singa

    June 22, 2007 at 5:26 am

    Satu hal yang kadang nggak saya mengerti tentang anda.
    kenapa nulis ‘good prepare’? bukannya good preparation? oya satu lagi, presenter ya presenter, bukan precenter. Atau anda seorang self-centrism? Yah, apapun, anda masih tampak menarik untuk diajak bercinta

     
  2. singa

    June 22, 2007 at 5:27 am

    Anda lebih menarik dalam menggunakan bahasa indonesia. kenapa harus bahas inggris?

     
  3. herlinatiens

    June 22, 2007 at 8:01 am

    terimakasih masukannya yah..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: