akhirnya dia menikah

•November 3, 2008 • 4 Comments

; tulisan saat goblok mendera karena dingin dan kabar

satu lagi sahabat saya akan menikah. tapi saya tak memiliki alasan -lagi- untuk datang. begitulah, sejak lama saya menjauhi suasana pesta perayaan itu, khususnya pesta-pesta pernikahan sahabat-sahabat saya sendiri. kebetulan selalu saja ada acara yang tak bisa tinggal. tapi bulan depan itu? adakah alasan untuk saya tak datang ke acara itu?

yang akan menikah adalah sahabat masa kecil. kami boleh saja menyebutnya, ‘mantan pacar’ tapi hubungan kami tak pernah lebih dari keakraban dua manusia kecil yang sibuk membahas banyak hal. tiba-tiba saya bersedih, bukan karena cemburu, sama sekali bukan. tapi karena merasa ditinggalkan oleh kawan-kawan saya dahulu. oh, saya tentu saja senang dengan kabar itu. saya bahkan berharap dia ‘baik-baik’ saja dalam pernikahan yang dia dirikan bersama pengantin pilihannya.

tapi mengapa saya tak memiliki kemantapan hati untuk datang? saya bisa saja memberi alasan; terlalu jauh, cinta (begitu kami biasa saling memanggil setelah perpisahan sekian tahun dulu). atau; kau tahu aku tak mudah menghafal jalan, aku pasti kesasar. memang segala alasan terbuka lebar untuk saya, tapi sering saya merasa ini tidak adil untuk saya sendiri jika menerus menjauhi pesta pernikahan.

kiranya kemantapan hati seperti apakah yang bisa dimiliki seorang sahabat pada karibnya di pesta pernikahan? saya lebih senang tiba-tiba tahu mereka semua sudah menikah, dengan ataupun belum adanya seorang anak.

dari sekian banyak teman saya, ada satu orang yang membuat saya cemas menunggu sekaligus tak berharap mendengar kabar pernikahan darinya. seseorang yang pernah mengajari saya menyeberang sebuah jalan dengan cara yang paling aman dan benar. seseorang yang saya rindukan sekaligus tinggalkan. seseorang yang selalu membuat saya bergetar saat dia menatap saya lembut dan santun. akan butuh waktu untuk saya menuliskan ini lagi suatu saat nanti, bila dia yang memberikan selembar undangan untuk saya.

sekali lagi, saya akan ditinggalkan sahabat-sahabat terbaik saya. lagi dan lagi.

puisi pengung

•November 3, 2008 • Leave a Comment

; mewakili M untuk L

aku akan memilihmu
sebentar lagi
saat tak lagi kau temukan tempat untuk nyimeng dan
madat

aku akan memilihmu
sebentar lagi
saat tak kau temui lagi ganja dan alkohol

aku akan mengawinimu
sebentar lagi
saat kau tak lagi mencintai diriku saja

aku suka kau yang binal dan telanjang
dengan caramu tersenyum dan menggelitik nakal
mengunyah biji jambu dan tomat

istri yang lain

•October 11, 2008 • 4 Comments

close to you

dia marah karena perempuan itu menyembunyikannya. dia kesal, karena perempuan itu lebih senang menemuinya dengan sembunyi-sembunyi di kota lain. dia merasa tak istimewa, maka mengatur segala sesuatunya agar nampak sempurna di mata si perempuan.

tak sekalipun perempuan itu menyebut namanya dalam pertemuan-pertemuan yang perempuan itu dirikan tanpanya. tak sekalipun perempuan itu menyelipkan foto-fotonya dalam segala catatan yang perempuan itu tasbihkan. seolah dia kekasih rahasia yang dicintai saat hanya berdua saja. tapi bukankah tak ada alasan untuknya tidak mempercayai kekasihnya sendiri? sudah jelas, perempuan itu hanya ingin mencintainya. mustinya, dia cukup mengerti itu.

sejujurnya senyumnya terlalu menawan. cara menatapnya selalu hangat dan jujur. tak ada alasan yang lebih menjanjikan selain cara dia mencintai perempuan itu. tapi benarkah segala hal hanya cukup berkutat pada cinta?

memang benar perempuan itu memikirkannya, sebentar lagi akan penuh seluruh perempuan itu menginginkannya. sama besarnya dengannya sendiri. rumah akan didirikan, jalan akan dilebarkan, segala rintangan akan pelan dibinasakan. maka menjadilah apa yang semustinya menjadi. tapi bisakah kita rahasiakan semuanya lelakiku?

saat merindumu terasa -lebih- menyenangkan, 10okt2008

damned

•October 11, 2008 • 5 Comments

Saya memutuskan untuk memulai semuanya dengan cara yang paling alami; mencintainya -lagi- sebagai kenangan yang tak harus saya singkirkan dari kepala saya. Bagaimanapun juga dia memang selalu mudah membuat saya mengulang lagi dan lagi menoleh ke arahnya.

Tentu bukan karena dia memang memiliki senyum yang selalu nampak baru itu. Juga bukan karena matanya mengedip dengan cara yang terlihat istimewa bagi saya. Bukan, bukan hanya karena itu. Jelas bukan saja karena itu saja…

Sebentar lagi dia akan menikah. Bukan dengan seseorang yang saya duga, tapi dengan perempuan lain yang katanya memiliki cara tertawa yang sama dengan saya. Saya sering merasa masih memilikinya, meski kenyataannya tidak lagi. Saya masih sering bermimpi tentangnya, meski tak senang saat mengingatnya begitu terjaga.

Saya tahu, memaafkan adalah cara saya memberikan ruang untuk kenangan-kenangan itu mengapung bersama hidup yang musti dijalani. Saya pernah menyesal mengundurkan diri, sekarang saya tak ingin menyesal lagi dengan melupakannya sebagai harapan tak bertuan.

Sekali lagi saya akan membenci perayaan itu; pesta-pesta lebaran dimana orang akan bertanya dan menuduh. Sekali saya akan tak suka pada pesta pertemuan dan senyuman yang dia berikan. Karena dialah dulu yang selalu saya harapkan saat takbir mulai saya dengar beradu dengan suara petasan.

Jadi, saya memutuskan untuk berhenti berusaha melupakannya; demikianlah dia akan selalu bersama saya sebagai kekasih tanpa nama yang pernah saya perjuangkan di masa remaja saya. Seseorang yang karenanya saya melacurkan diri pada hujan yang membuat gigil dan merindu, oh saya membenci hujan sejak saat itu. Seseorang yang berhasil meruntuhkan dunia kecil saya dengan selembar kalimat; “Aku tak menyangka, kau tahu alasannya?”

Ngawi-Yogyakarta 4 Oktober 2008

handphone diperkosa provider

•September 13, 2008 • 6 Comments

Saya tidak sedang puasa, hanya tidak makan dan minum. Kalau puasa saya tak akan marah hari ini karena counter pulsa tidak juga mengirimkan pulsa saya, meski konon kabarnya sedang tidak ada masalah di nomor handphone saya. Akibatnya? Saya jadi harus berangkat rapat karena tidak bisa menelepon dan kirim sms.

Belum sembuh jengkelnya, ada sms masuk dari nomor tak dikenal begini isinya; Mbak, maaf pulsa 100-nya tidak ada, saya ganti 10 ribu aja ya, sisa uangnya bisa diambil besok. Lhah? kamsudnya? Duh, napa gak dari tadi ya bilangnya. Tapi sebenarnya saya sendiri lupa sih, isi pulsa berapa rupiah, karena begitu ada laporan masuk senilai 10ribu saya ya anteng saja tu :D

Nah, saya mencoba menelepon rumah untuk tanya sesuatu. Karena sedang gencar telpon gratis atau murah entahlah, susahnya minta ampun deh masuk tu. DARI DULU SAYA PALING TIDAK SUKA program telpon murah apalagi gratis. Sering saya dibuat jengkel dan kesal karena jadi sulit nyambung dengan nomor yang saya tuju. Padahal saya harus majukan jadwal ini, kroscek perihal itu, atau menanyakan keadaan ini. BISA NGGAK YA, ndak usah ada program gratis kalau provider-nya kek ndak siap gitu. Payah….

Saya dulu membanggakan sebuah provider, karena dia tidak mau pake acara promosi2an gratis telpon atau murah meriah itu. Tapi sekarang tidak lagi, sama saja ternyata. Makanya saya malas angkat telpon karena banyak yang telpon hanya untuk bicara ngalor ngidul ndak jelas *eh maaf, I love you ding teman-teman.* Akibatnya? handphone saya batre-nya jadi hamil, menggelembung ndak jelas karena seringnya menerima telpon sambil dicharge. Mustinya kan penelepon tu nyadar ya, kalau saya sudah biang “Duh low batt deh, saya charge dulu ya.” Nah, mereka mustinya menyudahi pembicaraan.

Akhirnya saya musti ganti handphone kan? Ntar dikira saya yang menghamili handphone itu ^-^”. Nah mulailah saya tidak sekedar asertif bilang, “Hehehe, saya sibuk ni, udah dulu aja ya.” Saya sering mengabaikan telpon masuk. Malas baca sms, sering juga hanya untuk group tertentu dalam phonebook saja yang bisa menghubungi nomor saya. Para penelepon yang terhormat dan tercinta mustinya tau ya, mereka membahayakan telinga dan beberapa syaraf saya kalau berjam-jam menelepon saya.

Saya jadi sering dibuat kesal dengan handphone. Kalau saya matikan, kuatir nomor-nomor yang tidak tersimpan di phonebook tidak tersambung -karena fasilitas blacklist dll- ternyata adalah rekan kerja. Tapi kalau tidak saya matikan kok brisik dengan sms dan dering.

Menambah satu pesawat lagi? Oh, itu sudah, tapi tetap aja bocor kemana-mana. Lama-lama saya mimisan deh keknya….Wew…

sapi

•August 24, 2008 • 14 Comments

terkutuklah kau yang memenuhiku malam ini.
bahkan setelah apa yang kukatakan padamu. masih saja aku tak bisa menyingkirkanmu. apa aku mengenal rasa takut? atau aku mulai menyadari bahwa serupa jenasah, kaulah peti mati bagiku?

sebenarnya aku cuma mau bilang, ya bahkan saat berlari darimu aku selalu dan masih memikirkanmu serupa keparat kecil yang merindukan tuhan. jangan menjadi tuhan yang begitu baik, sayang…

calon suami vs kekasih hati

•August 23, 2008 • 6 Comments

Biasanya saya bermain peran dengan Wachid Eko dan Dadang Afryadi. Tapi untuk pementasan -PARIA- kali ini di Surabaya, saya mengajak mereka. Beginilah mereka pada awalnya Mahendra si calon suami dan Rie sang kekasih, pujaan hati :D
Dengan berbagai pertimbangan -termasuk manut panitia- mengajak orang-orang baru tidak apa kan? Jadi bisa sama-sama belajar. Toh saya juga belajar…..

Ini Vhisnu Mahendra, diperanin oleh Dimas…

Rafael : Sekarang kau menjelma iblis. Kau tolol! Kau bodoh! Goblok. Jangan mencoba menghitam putihkan sesuatu, begitu terus kau serukan di telingku. Tapi Paria, jangan mengabu-abukan sesuatu hanya untuk membenarkan sesuatu yang jelas salah!

Yang ini Rie Shiva Ashvagosha sang kekasih hati, diperanin Dyah Pandam Mitayani

Paria :O, begini-begini Tuan Rafael yang terhormat dan merasa menjadi wakil Tuhan, saya ini percaya Tuhan. Apa anda kira hanya anda saja yang percaya Tuhan? Saya kira anda salah! Saya mungkin tidak termasuk umat beragama! Tapi saya percaya Tuhan, mencintai dan meyakininya dengan cara saya sendiri!

flying for a moment

•August 17, 2008 • 9 Comments

.: when your call did not come, he asked me a question….

Begini, katakanlah muncul seorang laki-laki berumur dengan dua anak manis bermata biru yang bisa saja menjadi adik-adik kecil yang menyenangkan. Muncul begitu saja dengan pesan-pesannya untuk mengingatkan bahwa keduanya pernah berjumpa. Dari sekadar; “I wonder if we could stay in touch… maybe its too much to ask for.” juga, “its lovely to get your message, could not help go see your pictures yet again. My question is WHY?”

Serupa tokoh-tokoh dalam cerita Harlequin. Lelaki bermata dingin dengan tubuhnya yang athletis tengah bermain-main api dengan seorang perempuan dari jauh yang tak kenal red wine selain cukup mendengar nama saja. Tak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di ladang-ladang luas di Brazil ataupun Argentina. Tidak pernah menonton adu banteng di Sevilla Spain. Tidak berfoto dengan cara aneh di Taj Mahal. Tidak memiliki rumah dekat Georgia Waterfall yang dipamerkan dalam sebuah foto dengan dua anaknya dan orangtuanya yang nampak berbahagia. Juga pesta-pesta Santo Thomas ala cowboy dengan tarian dan api unggun yang memamerkan gadis-gadis bermata kelam yang menggoda.

Para tokoh dalam cerita Harlequin selalu serba terlalu. Terlalu kaya. Terlalu pintar. Terlalu berpengalaman dalam banyak hal. Terlalu tampan dengan kemeja santai maupun jas dari perancang kenamaan yang dimiliki dunia. Terlalu banyak digoda perempuan -bermain dengan perempuan?- terlalu dekat dengan pistol dan senapan. Terlalu senang berpetualang ke banyak negara selain mengurus perusahaannya sendiri.

Begitupun lelaki ini. Yang mengirimkan buket mawar meski berjarak ribuan kilo untuk si perempuan mungil. Tentu saja, perempuan itu tidak lantas merasa sedang didekati, laki-laki ‘terlalu’ semacam dia tak mungkin suka berlama-lama apalagi bertahan dengan satu perempuan saja. Jangankan tergoda, tertarik juga tidak. Jadi, perihal laki-laki ‘terlalu’ yang kemudian jatuh cinta dengan perempuan yang jauh dari tempatnya hanya karena sekali pernah berjumpa untuk mendiskusikan suatu hal kecil itu hanya ada dalam Harlequin semata. Bukan di kisah nyata. Serupa Cinderella, kisah-kisah manis hanyalah cerita yang pantas dibangun sebagai mitos dan hiburan saja.

Sementara tokoh perempuan yang dicintai si laki-laki ‘terlalu’? Biasanya seorang pembantu di rumahnya, pengasuh anak-anaknya yang menderita karena perceraian, sekretaris di kantor, atau paling banter seorang jurnalis dari sebuah stasiun tv yang mencari berita darinya. Saya ingat, ada juga di antara para tokoh itu seorang penulis yang memiliki tubuh yang tak lebih sexy dibanding tokoh-tokoh lain yang muncul di buku tersebut. Kalau tidak salah ditulis oleh Nora Roberts. Saya lupa.

Nah, tokoh perempuan yang penulis dalam buku itu. Tidak semampai, bahkan mungil menurut Nora Roberts. Memiliki tatap mata yang tajam namun sering nampak kosong. Bola matanya coklat dengan rambut masai yang seolah dibiarkan tak terawat. Penyendiri serta gemar membaca. Tentu berbeda dengan si tokoh laki-laki yang melihat sendiri segala tempat indah dan menarik di dunia dengan mata kepalanya sendiri, dia cukup hanya -mampu- melalui gambar dan tulisan di buku-buku itu.

SATU lagi; TAK berpengalaman dalam urusan cinta, apapun musimnya. Konon kabarnya sangat misterius, sukar dipahami, dan sangat menggugah perasaan ingin tahu. Ini juga kata si laki-laki ‘terlalu’.

Oh, apakah ini serupa tantangan? permainan semacam petualangan yang akan secepatnya melahirkan rasa bosan? Maka si laki-laki akan bilang; “Well, listen to me, it’s sound you are like the pessengers of the wrecked ship were hopeless. Man must adjust himself to conditions around him in order that he could survive.”

Jadi begitulah menurut si laki-laki yang serba ‘terlalu’ ini, sekian kali dia pernah melihat perempuan itu, meski cukup sekali bisa mengajaknya diskusi di suatu tempat. Sayangnya, perempuan itu lupa, sesekali saja dia ingat tapi secepatnya dilupakan.

Maka bila dalam sehari, perempuan itu menerima telepon untuk kesekian kali dengan ataupun suara sekretaris si laki-laki terlebih dulu yang bicara. Perempuan itu selalu tersenyum; karena jelaslah baginya bahwa dongeng sebelum tidur tak harus dipercaya dalam dunia nyata. Tokoh-tokoh SERBA terlalu tak akan pernah jatuh cinta pada perempuan semacam dia. Kalaupun tertarik itu hanya untuk hitungan hari dan akan segera berakhir begitu tokoh laki-laki berhasil menarik pelatuk kecil di pistolnya.

Yogyakarta. 17Agustus2008

TURN PALE

•August 14, 2008 • 7 Comments


.: turn pale :.

like a song without rhythm
when you said you can defeat anything
so i give you a melody

as an empty touch on your eyes
I never judge

are you the special one?

you often said
we are closer than ever
more than that close every day

and I
am like a glass shattered on a rock
turn pale in your capable hand

so beib, save the last from
every last thing there

yogyakarta, 12 Agustus 2008

Pentas “Paria” dari novel Garis Tepi Seorang Lesbian di Q-ffest 2008, Surabaya.

•August 2, 2008 • 18 Comments

Awalnya saya hanya iseng ketik key word ‘festival’ di google, dan menumkan informasi ini di http://www.ccclsurabaya.com (milik Lembaga Bahasa Perancis di Surabaya). Jadi saya bagikan informasinya di sini ya, tapi tanpa gambar poster mereka…sembari narsis pasti kata orang. GPP dueh.. :D

Tadinya sih mau saya kasih posternya saja untuk pentas PARIA, tapi belum selesai saya design, eh emang belum dimulai ding :D
Cari modelnya dulu ah…hiks

satu
dua
tiga……

Tujuh tahun sudah Q! Film Festival hadir. Setelah Jakarta, Yogyakarta dan Bali, Q! Film Festival yang didirikan oleh beberapa jurnalis independen ini berkembang pesat dan pada 2007 memperluas lingkupnya di Indonesia dengan kunjungan perdana di kota Bandung dan Surabaya melalui « Traveling to Surabaya 2007 ».

Tahun ini, Q! Film Festival kembali menawarkan alternatif-alternatif baru, selain pemutaran film, acara akan disemarakkan dengan pameran foto dari fotografer Prancis Amaury Grisel dan pentas teater oleh Herlinatiens (Yogyakarta)di CCCL Surabaya.

Lebih dari 500 film dan total 75.000 penonton pada tahun-tahun sebelumnya. Q! Film Festival tak terelakkan lagi menjadi festival paling besar di Asia dari segi durasi dan pemutaran film dan menciptakan jaringan lintas negara, terutama Eropa.

Bulan Oktober, di Surabaya akan hadir Q! Film Fest di mana-mana !
www.qfilmfestival.org

“Youth Freedom”
Film – Pameran – Teater – Diskusi

Pemutaran : 15– 19 Oktober,
Pk. 14.00/ 17.15/ 18.00/19.15
Pameran: 15– 18 Oktober,
karya beberapa komunitas foto Surabaya

Pentas Teater “Garis Tepi Seorang Lesbian”: Sabtu 18 Oktober, Pk. 17.00, oleh Herlinatiens

Bersama Q-munity Surabaya
CCCL – SBY, XXI Sutos, Garlick, Gaya Nusantara

http://www.ccclsurabaya.com/bi/bi_2cine.htm