perihal lama, 2

•January 24, 2009 • 13 Comments

f a n g
(1996 – 2009)

sebab aku menemukanmu kembali, fang. dalam tubuh yang sama teguhnya. dan kita tak lagi kanak-kanak yang nampak ranum oleh seragam pramuka juga tas sekolah dan pensil-pensil berujung runcing.

kau masih memiliki senyum yang mengundang. dengan dua biji mata di bawah lengkungan alis yang teramat sederhana. dan kita tak lagi kanak-kanak, yang sedia diri menyimpan cinta. kau kira kanak-kanakkah aku hanya karena menyimpan waktu? membiarkan tahun berganti sebanyak tiga belas kali tanpa bicara ya atau bahkan tidak saja?

lantas mengapa kau mulai sekarang? tidak saat dengan kegigihan seorang lelaki kecil kau sulamkan namaku di sebuah kain perak warnanya. kukira hanya aku, tapi itu kita. bukan aku tapi juga kau. bukan kau tapi juga aku. kita.

kita terlambat bukan?
menyampaikan semua dengan kata-kata. mengapa dulu tak cukup untuk kita mengerti dalam diam saja?

mustinya aku miliki keberanian yang sama seperti hari kemarin. mustinya kau miliki kegigihan yang lebih mengawalinya dulu. tapi kau mengira hanya kau saja yang menyimpan cinta yang kau kira kanak-kanak. tapi kukira hanya aku saja yang menyimpan cinta yang kukira kanak-kanak.

kita tak lagi kanak-kanak, karenanya mungkin tak seharusnya mendirikan pertemuan dengan cium dan sesal. tidak lagi merencanakan pertemuan diam-diam di belakang perempuan lain yang menunggu kau maharkan.

kita tak lagi kanak-kanak, fang. aku ingin merebutmu dariku. aku ingin kau merebutku darimu. tapi mengapa tak mudah, sebab kita memang tak lagi kanak-kanak. semustinya kita bisa sekadar mencintai saja. tapi begitulah, jiwa kanak-kanak jugakah yang telah memenuhi kita sekarang?

mengapa kita terlambat? apa karena kita bukan manusia pemberani? tentu bukan. tapi hatiku tak jauh, fang. tapi hatimu tak tandus. sebab tahun yang berganti tiga belas kali hanya soal angka belaka. aku masih ingat kau seluruh.

caramu berjalan.
caramu menyisir rambut yang hitam.
caramu berlalu dari air ke mushola sekolah kita.
caramu tak suka.
caramu tertawa.
caramu menyentuhkan ujung jari di lenganku.
caramu penuh seluruh.
dulu kita kanak-kanak.tapi sekarang tidak.

bukankah sekarang segala masa lalu tak lagi bisa kita sebut sia-sia? bahkan bila kau kuminta tetap memaharnya…sebab kita memang ada.

Yogyakarta, 2009

perihal lama

•January 24, 2009 • 4 Comments

fang

pernahkah kau mengingatku?
-atau tidak sama sekali-
pada jarak yang jauh dan rawan
sebagai teman sementara bersama
bangku-bangku coklat yang menghitam di sisinya
;sekolah lama kita juga seragam pramuka

di sebuah sudut pernah kuharapkan dirimu
serupa kebahagiaan yang tertunda belaka
sebab aku mengenangmu penuh seluruh
sebagai lelaki yang selalu tersenyum
juga ingatanku sendiri

padamu tak pernah menjadi alasan untuk
bersama kelak

kulupakan cara wajahmu melukis senang
menanggalkan jalanan tua dan rel kereta tempatku
belajar mempercayaimu
tapi semua menambah panjang mimpi buruk dan masa lalu
yang tak ingin lenyap dalam aku

memang tak pernah ada kita
maka kau tak harus mengingatku
selain tentang perempuan kecil yang
padanya kau dapatkan salam dari gadis lain

telah kukenang mimpi paling sirna
memugarnya menjadi mimpi buruk baru
lantas selain diam apalagi yang kumiliki?

Oh kapankah kau mengenali aku
betapa kupersiapkan segala suka untuk
menyambutmu

mungkin tak akan pernah singgah segala harapan
sementara orang-orang lebih pandai lagi menghitungku
pada hal-hal yang tak kupahami
sementara kau semakin jauh
sejak semula jauh

dan sekali lagi aku takut menemuimu
sebab pertemuan lebih banyak menawarkan ngilu
sedang dalam diam aku tetap menjagamu

jakarta – 2005

saya menikah

•December 13, 2008 • 9 Comments

; tentang lidah serdadu

Berita pernikahan saya menyebar dengan cepat. Tidak saja ke orang-orang dekat saya, tapi ke teman-teman orang dekat saya. Banyak yang menghubungi saya, “Oh selamat, dia bilang kamu sebentar lagi menikah, kapan?” Ada juga yang tanya, “Nikah kok ndak kabar-kabar, sama siapa?”

Tapi pertanyaan yang saya dengar serupa itu biasanya berlalu dengan cepat bagi saya. Tapi Tuhan, ketika lelaki yang itu yang mengucapkannya pada seseorang yang lain yang kemudian sampai pada saya mengapa begitu mengganggu saya.

Petaka apakah yang mengganggu saya, hingga selembar kalimat apapun itu yang keluar dari mulutnya menjadi sedemikian meresahkan saya. Adakah saya masih menginginkannya? Tentu tidak, -oh sekali lagi saya terdengar seperti seorang pendusta- saya bahkan sudah lupa tentang dia, oh saya berdusta lagi.

Konon kabarnya lelaki yang akan saya nikahi berasal dari Australia. Saya dibuat heran, mengapa sampai terbit negara itu dari mulutnya. Berita pernikahan tidak mengganggu saya, tapi mengapa dia mampu menyebut kata Australia? Oh dia memang pandai berbohong. SIALAN. Adakah saya menyembunyikan sesuatu darinya dulu? hingga dia menganggap saya mendapat restu dari aku untuk menikahi sebiji lelaki?

Ya, berita pernikahan saya menyebar dengan cepat. Ada yang menduga meskipun sudah menikah saya tak ingin memiliki anak, makanya saya tidak membiarkan diri hamil. It’s gud idea…

Berita pernikahan saya menyebar dengan cepat…sebelum saya sendiri tahu akankah saya menikah…wew…

Yogyakarta, 12 Desember 2008

Kalau Saya MATI

•November 28, 2008 • 1 Comment

; Pada karib yang hendak merayakan mahar
20042007008
Kalau saya mati sampean melayat ndak? melihat bangkai saya mungkin. Sekali lagi menyelam di kedua mata saya, meski tidak lagi terbuka. Atau bolehlah sampean kecup kening saya untuk yang pertama sekaligus terakhir kalinya.

Kalau saya mati, entah karena sakit atau tertabrak becak di depan rumah, sampean datang ndak? Mungkin memberi saya kembang mawar sekali lagi, yang putih saja ya. Atau mungkin kembang lain. Gimana? Tak takut pada tubuh tanpa nyawa kan?

Roh saya mungkin melayang. Melintasi sampean, menari-nari di dada sampean yang telanjang melayang. Kalau-kalau sampean lewatkan malam seperti saat kita bersama membaca puisi Gandrung* saya akan mencuri kecup di bibir sampean yang ranum aduhai sayang. Jadi bagaimana? Masih bersabahat dengan tubuh tanpa nyawa -itu-?

Kalau saya mati, saya titipkan kenangan tentang saya pada sampean. Itu satu-satunya harta saya. Saya percayakan bukti kita pernah saling belajar menjadi binatang dengan diam. Dulu. Ya dulu, saat kita masih kanak-kanak dan begitu belia menyebut kota Santiago dan Buenos Aires.

Tolong catat nama saya sekali lagi. Meski hanya di pojok kertas lusuh atau sudut dinding kamar mandi sampean. Dengan begitu saya mengerti kita saling menepati janji. Ya itu sih kalau saya mati siang nanti, atau setidak-tidaknya lebih dulu dari sampean. Karena kalau sampean yang mati lebih dulu, saya sudah pasti akan menuliskan nama sampean di buku harian saya -eh saya musti beli dulu keknya-. Ya, meski tidak dengan tinta emas, saya kan bukan pujangga atau juragan emas…

Lahir
Kawin
Mati…

Sampean kan sudah lahir, buktinya saya kenal sampean. Nah kawinnya sebentar lagi to? Tinggal matinya saja. Wah dapat nilai 100 sampean ya…Mungkin saya kebagian nilai 60 saja…lahir dan mati. Tapi bisa jadi lho ya dapat 130, lha kalau kawin dua kali? 160 kalau menciptakan duda 3 kali. Hehehe..maybe yes maybe not kan kek iklan…

Benar kan? Memang tidak pernah ada yang istimewa yang bisa saya berikan ke sampean. Bahkan saat dengan keberanian seorang lelaki, sampean memahar seorang pengantin; hanya ada ini dari saya untuk sampean. Saya sih punya keinginan mendoakan sampean, tapi saya lagi jarang berdoa. Daripada sekali lagi saya disebut ingkar janji, jadi sementara ini saja dulu ya. Cukup kan?

Selamat dan semoga bahagia…Amien

*) Gandrung itu salah judul puisi Gus Mus dalam antologi puisi beliau GANDRUNG.

Yogyakarta, 28 Nov 2008

Pertengkaran Kesekian

•November 28, 2008 • 1 Comment

; pada matamu yang semakin sipit

sebab kita tidak tahu
mengapa pertengkaran menjadi
dan sedih mengganas

-sejak kapan kau aku menjelma kita?-

mustinya tidak harus
sebab kita teman
bukan kekasih yang saling cemburu

tapi kini malam semakin sulit
dan hari berganti tidak seperti biasanya
sementara jemarimu makin lihai menulis kata
memojokkanku

KAU apakan AKU, sayang?
AKU apakan KAU?
hingga kita mulai pandai menjadi
pengecoh takabur

sebab aku ingin selamat dari
pengertianmu yang tak juga aku
pahami cepat

kau boleh namai aku batu
tapi hatiku serupa tisu di keningmu
yang basah oleh keringat dan hujan

21 Nov 2008

kita pernah selesai, 2

•November 6, 2008 • 4 Comments

demi tuhan jangan jadikan iblis berhasil. melahirkanku sekali lagi. aku senang mati begini. menjadi bangkai dan tulang curian anjing malam tanpa nama.

demi iblis jangan membuat tuhan bersenang-senang. berhasil membunuhku sekali lagi di ujung jalan. aku senang memadamkan neraka dengan darahku untukmu.

di sana kau menemukanku. pada jalan-jalan sempit saat api memudar menjadi bara. kelak kita tanam kurma dan apel untuk anak-anak. mengolah anggur untuk para tamu. menyemai biji-biji padi untuk dikirim ke surga. merawat lebah untuk sungai madu mereka.

bila neraka menjadi sedingin hatimu. kusediakan diri menjadi kayu bakar perapian. bersediakah kau sayang? mendirikan mahar di neraka bersamaku?

Yogyakarta, 5 November 2008

(taken from http://herlinatiens.multiply.com)

akhirnya dia menikah

•November 3, 2008 • 4 Comments

; tulisan saat goblok mendera karena dingin dan kabar

satu lagi sahabat saya akan menikah. tapi saya tak memiliki alasan -lagi- untuk datang. begitulah, sejak lama saya menjauhi suasana pesta perayaan itu, khususnya pesta-pesta pernikahan sahabat-sahabat saya sendiri. kebetulan selalu saja ada acara yang tak bisa tinggal. tapi bulan depan itu? adakah alasan untuk saya tak datang ke acara itu?

yang akan menikah adalah sahabat masa kecil. kami boleh saja menyebutnya, ‘mantan pacar’ tapi hubungan kami tak pernah lebih dari keakraban dua manusia kecil yang sibuk membahas banyak hal. tiba-tiba saya bersedih, bukan karena cemburu, sama sekali bukan. tapi karena merasa ditinggalkan oleh kawan-kawan saya dahulu. oh, saya tentu saja senang dengan kabar itu. saya bahkan berharap dia ‘baik-baik’ saja dalam pernikahan yang dia dirikan bersama pengantin pilihannya.

tapi mengapa saya tak memiliki kemantapan hati untuk datang? saya bisa saja memberi alasan; terlalu jauh, cinta (begitu kami biasa saling memanggil setelah perpisahan sekian tahun dulu). atau; kau tahu aku tak mudah menghafal jalan, aku pasti kesasar. memang segala alasan terbuka lebar untuk saya, tapi sering saya merasa ini tidak adil untuk saya sendiri jika menerus menjauhi pesta pernikahan.

kiranya kemantapan hati seperti apakah yang bisa dimiliki seorang sahabat pada karibnya di pesta pernikahan? saya lebih senang tiba-tiba tahu mereka semua sudah menikah, dengan ataupun belum adanya seorang anak.

dari sekian banyak teman saya, ada satu orang yang membuat saya cemas menunggu sekaligus tak berharap mendengar kabar pernikahan darinya. seseorang yang pernah mengajari saya menyeberang sebuah jalan dengan cara yang paling aman dan benar. seseorang yang saya rindukan sekaligus tinggalkan. seseorang yang selalu membuat saya bergetar saat dia menatap saya lembut dan santun. akan butuh waktu untuk saya menuliskan ini lagi suatu saat nanti, bila dia yang memberikan selembar undangan untuk saya.

sekali lagi, saya akan ditinggalkan sahabat-sahabat terbaik saya. lagi dan lagi.

puisi pengung

•November 3, 2008 • Leave a Comment

; mewakili M untuk L

aku akan memilihmu
sebentar lagi
saat tak lagi kau temukan tempat untuk nyimeng dan
madat

aku akan memilihmu
sebentar lagi
saat tak kau temui lagi ganja dan alkohol

aku akan mengawinimu
sebentar lagi
saat kau tak lagi mencintai diriku saja

aku suka kau yang binal dan telanjang
dengan caramu tersenyum dan menggelitik nakal
mengunyah biji jambu dan tomat

istri yang lain

•October 11, 2008 • 4 Comments

close to you

dia marah karena perempuan itu menyembunyikannya. dia kesal, karena perempuan itu lebih senang menemuinya dengan sembunyi-sembunyi di kota lain. dia merasa tak istimewa, maka mengatur segala sesuatunya agar nampak sempurna di mata si perempuan.

tak sekalipun perempuan itu menyebut namanya dalam pertemuan-pertemuan yang perempuan itu dirikan tanpanya. tak sekalipun perempuan itu menyelipkan foto-fotonya dalam segala catatan yang perempuan itu tasbihkan. seolah dia kekasih rahasia yang dicintai saat hanya berdua saja. tapi bukankah tak ada alasan untuknya tidak mempercayai kekasihnya sendiri? sudah jelas, perempuan itu hanya ingin mencintainya. mustinya, dia cukup mengerti itu.

sejujurnya senyumnya terlalu menawan. cara menatapnya selalu hangat dan jujur. tak ada alasan yang lebih menjanjikan selain cara dia mencintai perempuan itu. tapi benarkah segala hal hanya cukup berkutat pada cinta?

memang benar perempuan itu memikirkannya, sebentar lagi akan penuh seluruh perempuan itu menginginkannya. sama besarnya dengannya sendiri. rumah akan didirikan, jalan akan dilebarkan, segala rintangan akan pelan dibinasakan. maka menjadilah apa yang semustinya menjadi. tapi bisakah kita rahasiakan semuanya lelakiku?

saat merindumu terasa -lebih- menyenangkan, 10okt2008

damned

•October 11, 2008 • 5 Comments

Saya memutuskan untuk memulai semuanya dengan cara yang paling alami; mencintainya -lagi- sebagai kenangan yang tak harus saya singkirkan dari kepala saya. Bagaimanapun juga dia memang selalu mudah membuat saya mengulang lagi dan lagi menoleh ke arahnya.

Tentu bukan karena dia memang memiliki senyum yang selalu nampak baru itu. Juga bukan karena matanya mengedip dengan cara yang terlihat istimewa bagi saya. Bukan, bukan hanya karena itu. Jelas bukan saja karena itu saja…

Sebentar lagi dia akan menikah. Bukan dengan seseorang yang saya duga, tapi dengan perempuan lain yang katanya memiliki cara tertawa yang sama dengan saya. Saya sering merasa masih memilikinya, meski kenyataannya tidak lagi. Saya masih sering bermimpi tentangnya, meski tak senang saat mengingatnya begitu terjaga.

Saya tahu, memaafkan adalah cara saya memberikan ruang untuk kenangan-kenangan itu mengapung bersama hidup yang musti dijalani. Saya pernah menyesal mengundurkan diri, sekarang saya tak ingin menyesal lagi dengan melupakannya sebagai harapan tak bertuan.

Sekali lagi saya akan membenci perayaan itu; pesta-pesta lebaran dimana orang akan bertanya dan menuduh. Sekali saya akan tak suka pada pesta pertemuan dan senyuman yang dia berikan. Karena dialah dulu yang selalu saya harapkan saat takbir mulai saya dengar beradu dengan suara petasan.

Jadi, saya memutuskan untuk berhenti berusaha melupakannya; demikianlah dia akan selalu bersama saya sebagai kekasih tanpa nama yang pernah saya perjuangkan di masa remaja saya. Seseorang yang karenanya saya melacurkan diri pada hujan yang membuat gigil dan merindu, oh saya membenci hujan sejak saat itu. Seseorang yang berhasil meruntuhkan dunia kecil saya dengan selembar kalimat; “Aku tak menyangka, kau tahu alasannya?”

Ngawi-Yogyakarta 4 Oktober 2008