Apakah Menulis itu Mudah?

•February 5, 2009 • Leave a Comment

Saya mencoba mengumpulkan pertanyaan yang biasa saya terima perihal menulis.

1. Bagimana cara menulis sih Mbak?
Sama kek kita bernafas. Sama kek saya membaca. Mengapa saya menulis? Sebab saya suka membaca.

2. Buku apa yang biasa dibaca?
Pada dasarnya semua buku saya suka baca kok. Cuma kadangkala tergantung juga dengan kebutuhan. Misalkan saya sedang ingin menulis suatu makalah, tentu saya mengulang buku-buku yang ada kaitannya dengan makalah tersebut. Dalam kondisi santai saya suka membaca buku-buku yang membuat saya mengerti hal-hal yang sering jadi pro dan kontra. Pernah di suatu waktu saya membaca buku-buku tentang PKI. Tapi kemudian saya merasa harus tahu apa itu komunisme. Lalu kurang lagi saya baca siapa Karl Marx, dll. Membaca selalu membuat saya ketagihan untuk meneruskannya pada hal lain. Serupa mata rantai.

3. Bagaimana mencari ide?
Entah juga, Tuhan terlalu sayang sama saya. Kalau sekarang saya punya buku, itu sudah pasti karena ide-ide itu tanpa sengaja saya temukan begitu saja. Nah mungkin terbit ide itu dengan sukanya saya pada melamun, berkhayal dan mendengarkan banyak orang di sekitar saya membicarakan masalah mereka.
Kata orang bisa juga menemukan ide dengan banyak membaca, hm…saya juga hampir percaya dengan itu.

4. Kalau menulis tiba-tiba macet di tengah jalan? Atau bahkan ada tema tapi tidak bisa menuangkannya kek mana?
Mungkin bensinnya habis, karenanya jadi macet ya? huehuehue. Atau jalanan sedah penuh sesak dengan kendaraan lain. Atau ada kecelakaan di perempatan depan. Jadi cari jalan yang paling aman saja. Kekeke
Jangan ada beban, jangan ada beban, jangan ada beban. Menulis adalah membaca dengan cara lain. Saat menulis niatkan untuk seluruh. Sebab terlalu banyak beban (teori, ketakutan, horison harapan, dll) justru akan membuat kita berhenti menulis.
Jadi intinya membaca bukan? Sebab dengan membaca kita akan dengan mudah memiliki dan mengatur barometer kebenaran kita sendiri memandang suatu tema/hal.
Menulis adalah proses belajar juga, jadi semakin giat belajar akan semakin menguatkan insting dan cara kita dekat dengan hal-hal yang dibutuhkan dalam menulis.

5. Apakah tulisan saya bagus, Mbak?
Aduh mak, sampean salah orang kalau bertanya begitu pada saya, sebab bagi saya semua tulisan selalu bagus. Misalkan saya tidak suka, mungkin karena saya bukan pembaca yang pas untuk tulisan sampean. Nah, jangan lupa setiap pembaca selalu memiliki horison harapan yang berbeda-beda. Tentu itu tidak lepas dari wacana yang ada dalam tiap pembaca juga kan?
Saya juga orang yang selalu berpikir bahwa setiap tulisan yang kita baca selalu memberikan sesuatu. Baik dan buruk, salah dan benar sebuah teks tergantung dari bagaimana dan sejauh mana kita melibatkan diri di dalamnya.
Tapi menghibur diri sendiri; kita hanya menulis, mengkritik itu tugas kritikus sastra berikut pembaca yang mungkin tak suka. Tapi biarlah, begitulah semua memiliki tugas sendiri. hehehehe….

Sementara ini dulu. Semoga hutang saya lunas pada yang menagihnya pada saya….

salam sayang untuk semua

fuckin decision (eh maaf…)

•February 5, 2009 • 4 Comments

janji apakah lagi yang ingin kau dengar?
apakah tak cukup semua sekian? kenyataan
lagi kutenggelam dalam diam
yang bahkan kau tak sempat hitung juga kenang
ingin apakah kau dari tubuh rinduku sebab
kau sempurna menciumku saat perpisahan kita dirikan
dengar sayang, kenanglah sekali lagi

sebab dalam jauh aku selalu padamu
dalam senyap dan sunyi yang derita
jauh dari senyum dan senja keparat
aku tak lagi bisa lebih lama tak mendengar
selalu dalam kau segala kisah menjadi sampai
padamu kelak aku mengemis takdir

kematian apakah dariku yang ingin kau saksikan
apakah tak cukup dengan hilangnya ingatan pelan-pelan
dariku di antara senyap dan cara lama sebab di hari
yang kemarin kita pernah bersama dan sekali lagi
ingin kutenggelamkan tangis di dadamu bersama kopi dan sunyi
kau apakan aku sayang? tak bisakah
saksikan aku yang mencukupkan diri dari tempatku

Yogyakarta, 30 januari 2009

Sebab Aku Marah

•February 5, 2009 • 2 Comments

Kelak jangan salahkan aku bila kutanam biji yang sama dalam rumah kita. Sebab kau ajari aku berkebun dengan cara yang paling benar. Bukankah bagiku kau akan menjelma guru? menjelma Tuhan dan jalan?

Kelak jangan hukum aku bila kusimpan kelopak bunga yang sama, toh mereka hanya buah dari biji yang pernah kita tanam. Bukankah kau lebih pandai menyimpan teratai juga edelweis? Aku hanya punya mawar juga kamboja.

Kelak bukan hari ini. Sebab aku bisa saja mengalah dan memperbaiki. Seluas apa janji bisa memenuhi. Sedalam apa kasih bisa melindungi? Sebab padamu aku berguru cara baru merangkai rumput juga keladi.

Yogyakarta 2 feb 2009.
was taken from http://herlinatiens.multiply.com

sebab tak bisa kubiarkan diriku menjadi lebih keparat dengan memilikimu

•January 25, 2009 • 12 Comments

; tulisan selepas mimpi Zen

kekinian banyak betul lahir lagu-lagu judulnya ’selingkuh’ atau setidak-tidaknya yang bertema itulah ya. psikologis masyarakat -dalam hal ini pendengar- seperti dikondisikan atau memang jadi kek cermin kondisi masyarakat yang ada ya? well sebab, suatu karya tidak pernah lahir dari kekosongan belaka kan?

itung punya itung, dalam banyak kajian dan karya, mengapa perempuan yang datang belakangan selalu dibilang perebut hayo? atau kenapa selalu disebut sebagai si brengsek karena mencintai lelaki/perempuan orang lain? kenapa ndak coba lihat sisi yang lain?

sebab yang pertama -dianggap- selalu setia, dan yang kedua yang menggatal.

dalam novel yang sudah-sudah, saya sering menempatkan si tokoh sebagai penjahat beradab yang menghindari manusia yang sudah berpasangan. ini berbeda dengan tokoh saya dalam sebuah cinta yang menangis. ya, iyalah, kek mana ndak lha wong tokoh ‘aku dan dia’ dalam novel tersebut jatuh cinta -lagi- dengan seseorang yang dikenalnya di masa kecil. seorang teman sekolah, gitu katanya. eh atau memang tak pernah benar-benar berhenti mencintai lelaki kecil itu? ketahuan dueh…

seorang teman, Nana namanya bicara pada saya, “sampean kurang jahat, nontonlah sinetron biar bisa jahat.”
Nah kan, sinetron pun banyak ngajari kita pada ritual-ritual ‘ayeaaah’ pada masyarakat. belum lagi pembagian tokoh yang terlalu hitam putih. terlalu benar dan salah. terlalu antogonis dan protagonis.
yang hitam yang ndak punya kasih. yang putih yang setia. beuh….mak…

jika salah mencintaimu, maka biarkan ini tetap menjadi salah.
sebab tak harus menjadi benar untuk menciptakan surgaku sendiri.
dalam diam aku menang. dalam bicara akupun terus menang.
sebab pertempuran ini hanya milikku saja. bukan denganmu.
bukan dengannya.
sebab musuh yang mencoba merebutku darimu hanyalah aku sendiri.
dan tak bisa kubiarkan diriku menjadi lebih keparat dengan memilikimu.

Yogyakarta, 25 Januari 2009

perihal lama, 2

•January 24, 2009 • 16 Comments

f a n g
(1996 – 2009)

sebab aku menemukanmu kembali, fang. dalam tubuh yang sama teguhnya. dan kita tak lagi kanak-kanak yang nampak ranum oleh seragam pramuka juga tas sekolah dan pensil-pensil berujung runcing.

kau masih memiliki senyum yang mengundang. dengan dua biji mata di bawah lengkungan alis yang teramat sederhana. dan kita tak lagi kanak-kanak, yang sedia diri menyimpan cinta. kau kira kanak-kanakkah aku hanya karena menyimpan waktu? membiarkan tahun berganti sebanyak tiga belas kali tanpa bicara ya atau bahkan tidak saja?

lantas mengapa kau mulai sekarang? tidak saat dengan kegigihan seorang lelaki kecil kau sulamkan namaku di sebuah kain perak warnanya. kukira hanya aku, tapi itu kita. bukan aku tapi juga kau. bukan kau tapi juga aku. kita.

kita terlambat bukan?
menyampaikan semua dengan kata-kata. mengapa dulu tak cukup untuk kita mengerti dalam diam saja?

mustinya aku miliki keberanian yang sama seperti hari kemarin. mustinya kau miliki kegigihan yang lebih mengawalinya dulu. tapi kau mengira hanya kau saja yang menyimpan cinta yang kau kira kanak-kanak. tapi kukira hanya aku saja yang menyimpan cinta yang kukira kanak-kanak.

kita tak lagi kanak-kanak, karenanya mungkin tak seharusnya mendirikan pertemuan dengan cium dan sesal. tidak lagi merencanakan pertemuan diam-diam di belakang perempuan lain yang menunggu kau maharkan.

kita tak lagi kanak-kanak, fang. aku ingin merebutmu dariku. aku ingin kau merebutku darimu. tapi mengapa tak mudah, sebab kita memang tak lagi kanak-kanak. semustinya kita bisa sekadar mencintai saja. tapi begitulah, jiwa kanak-kanak jugakah yang telah memenuhi kita sekarang?

mengapa kita terlambat? apa karena kita bukan manusia pemberani? tentu bukan. tapi hatiku tak jauh, fang. tapi hatimu tak tandus. sebab tahun yang berganti tiga belas kali hanya soal angka belaka. aku masih ingat kau seluruh.

caramu berjalan.
caramu menyisir rambut yang hitam.
caramu berlalu dari air ke mushola sekolah kita.
caramu tak suka.
caramu tertawa.
caramu menyentuhkan ujung jari di lenganku.
caramu penuh seluruh.
dulu kita kanak-kanak.tapi sekarang tidak.

bukankah sekarang segala masa lalu tak lagi bisa kita sebut sia-sia? bahkan bila kau kuminta tetap memaharnya…sebab kita memang ada.

Yogyakarta, 2009

perihal lama

•January 24, 2009 • 4 Comments

fang

pernahkah kau mengingatku?
-atau tidak sama sekali-
pada jarak yang jauh dan rawan
sebagai teman sementara bersama
bangku-bangku coklat yang menghitam di sisinya
;sekolah lama kita juga seragam pramuka

di sebuah sudut pernah kuharapkan dirimu
serupa kebahagiaan yang tertunda belaka
sebab aku mengenangmu penuh seluruh
sebagai lelaki yang selalu tersenyum
juga ingatanku sendiri

padamu tak pernah menjadi alasan untuk
bersama kelak

kulupakan cara wajahmu melukis senang
menanggalkan jalanan tua dan rel kereta tempatku
belajar mempercayaimu
tapi semua menambah panjang mimpi buruk dan masa lalu
yang tak ingin lenyap dalam aku

memang tak pernah ada kita
maka kau tak harus mengingatku
selain tentang perempuan kecil yang
padanya kau dapatkan salam dari gadis lain

telah kukenang mimpi paling sirna
memugarnya menjadi mimpi buruk baru
lantas selain diam apalagi yang kumiliki?

Oh kapankah kau mengenali aku
betapa kupersiapkan segala suka untuk
menyambutmu

mungkin tak akan pernah singgah segala harapan
sementara orang-orang lebih pandai lagi menghitungku
pada hal-hal yang tak kupahami
sementara kau semakin jauh
sejak semula jauh

dan sekali lagi aku takut menemuimu
sebab pertemuan lebih banyak menawarkan ngilu
sedang dalam diam aku tetap menjagamu

jakarta – 2005

saya menikah

•December 13, 2008 • 9 Comments

; tentang lidah serdadu

Berita pernikahan saya menyebar dengan cepat. Tidak saja ke orang-orang dekat saya, tapi ke teman-teman orang dekat saya. Banyak yang menghubungi saya, “Oh selamat, dia bilang kamu sebentar lagi menikah, kapan?” Ada juga yang tanya, “Nikah kok ndak kabar-kabar, sama siapa?”

Tapi pertanyaan yang saya dengar serupa itu biasanya berlalu dengan cepat bagi saya. Tapi Tuhan, ketika lelaki yang itu yang mengucapkannya pada seseorang yang lain yang kemudian sampai pada saya mengapa begitu mengganggu saya.

Petaka apakah yang mengganggu saya, hingga selembar kalimat apapun itu yang keluar dari mulutnya menjadi sedemikian meresahkan saya. Adakah saya masih menginginkannya? Tentu tidak, -oh sekali lagi saya terdengar seperti seorang pendusta- saya bahkan sudah lupa tentang dia, oh saya berdusta lagi.

Konon kabarnya lelaki yang akan saya nikahi berasal dari Australia. Saya dibuat heran, mengapa sampai terbit negara itu dari mulutnya. Berita pernikahan tidak mengganggu saya, tapi mengapa dia mampu menyebut kata Australia? Oh dia memang pandai berbohong. SIALAN. Adakah saya menyembunyikan sesuatu darinya dulu? hingga dia menganggap saya mendapat restu dari aku untuk menikahi sebiji lelaki?

Ya, berita pernikahan saya menyebar dengan cepat. Ada yang menduga meskipun sudah menikah saya tak ingin memiliki anak, makanya saya tidak membiarkan diri hamil. It’s gud idea…

Berita pernikahan saya menyebar dengan cepat…sebelum saya sendiri tahu akankah saya menikah…wew…

Yogyakarta, 12 Desember 2008

Kalau Saya MATI

•November 28, 2008 • 1 Comment

; Pada karib yang hendak merayakan mahar
20042007008
Kalau saya mati sampean melayat ndak? melihat bangkai saya mungkin. Sekali lagi menyelam di kedua mata saya, meski tidak lagi terbuka. Atau bolehlah sampean kecup kening saya untuk yang pertama sekaligus terakhir kalinya.

Kalau saya mati, entah karena sakit atau tertabrak becak di depan rumah, sampean datang ndak? Mungkin memberi saya kembang mawar sekali lagi, yang putih saja ya. Atau mungkin kembang lain. Gimana? Tak takut pada tubuh tanpa nyawa kan?

Roh saya mungkin melayang. Melintasi sampean, menari-nari di dada sampean yang telanjang melayang. Kalau-kalau sampean lewatkan malam seperti saat kita bersama membaca puisi Gandrung* saya akan mencuri kecup di bibir sampean yang ranum aduhai sayang. Jadi bagaimana? Masih bersabahat dengan tubuh tanpa nyawa -itu-?

Kalau saya mati, saya titipkan kenangan tentang saya pada sampean. Itu satu-satunya harta saya. Saya percayakan bukti kita pernah saling belajar menjadi binatang dengan diam. Dulu. Ya dulu, saat kita masih kanak-kanak dan begitu belia menyebut kota Santiago dan Buenos Aires.

Tolong catat nama saya sekali lagi. Meski hanya di pojok kertas lusuh atau sudut dinding kamar mandi sampean. Dengan begitu saya mengerti kita saling menepati janji. Ya itu sih kalau saya mati siang nanti, atau setidak-tidaknya lebih dulu dari sampean. Karena kalau sampean yang mati lebih dulu, saya sudah pasti akan menuliskan nama sampean di buku harian saya -eh saya musti beli dulu keknya-. Ya, meski tidak dengan tinta emas, saya kan bukan pujangga atau juragan emas…

Lahir
Kawin
Mati…

Sampean kan sudah lahir, buktinya saya kenal sampean. Nah kawinnya sebentar lagi to? Tinggal matinya saja. Wah dapat nilai 100 sampean ya…Mungkin saya kebagian nilai 60 saja…lahir dan mati. Tapi bisa jadi lho ya dapat 130, lha kalau kawin dua kali? 160 kalau menciptakan duda 3 kali. Hehehe..maybe yes maybe not kan kek iklan…

Benar kan? Memang tidak pernah ada yang istimewa yang bisa saya berikan ke sampean. Bahkan saat dengan keberanian seorang lelaki, sampean memahar seorang pengantin; hanya ada ini dari saya untuk sampean. Saya sih punya keinginan mendoakan sampean, tapi saya lagi jarang berdoa. Daripada sekali lagi saya disebut ingkar janji, jadi sementara ini saja dulu ya. Cukup kan?

Selamat dan semoga bahagia…Amien

*) Gandrung itu salah judul puisi Gus Mus dalam antologi puisi beliau GANDRUNG.

Yogyakarta, 28 Nov 2008

Pertengkaran Kesekian

•November 28, 2008 • 1 Comment

; pada matamu yang semakin sipit

sebab kita tidak tahu
mengapa pertengkaran menjadi
dan sedih mengganas

-sejak kapan kau aku menjelma kita?-

mustinya tidak harus
sebab kita teman
bukan kekasih yang saling cemburu

tapi kini malam semakin sulit
dan hari berganti tidak seperti biasanya
sementara jemarimu makin lihai menulis kata
memojokkanku

KAU apakan AKU, sayang?
AKU apakan KAU?
hingga kita mulai pandai menjadi
pengecoh takabur

sebab aku ingin selamat dari
pengertianmu yang tak juga aku
pahami cepat

kau boleh namai aku batu
tapi hatiku serupa tisu di keningmu
yang basah oleh keringat dan hujan

21 Nov 2008

kita pernah selesai, 2

•November 6, 2008 • 4 Comments

demi tuhan jangan jadikan iblis berhasil. melahirkanku sekali lagi. aku senang mati begini. menjadi bangkai dan tulang curian anjing malam tanpa nama.

demi iblis jangan membuat tuhan bersenang-senang. berhasil membunuhku sekali lagi di ujung jalan. aku senang memadamkan neraka dengan darahku untukmu.

di sana kau menemukanku. pada jalan-jalan sempit saat api memudar menjadi bara. kelak kita tanam kurma dan apel untuk anak-anak. mengolah anggur untuk para tamu. menyemai biji-biji padi untuk dikirim ke surga. merawat lebah untuk sungai madu mereka.

bila neraka menjadi sedingin hatimu. kusediakan diri menjadi kayu bakar perapian. bersediakah kau sayang? mendirikan mahar di neraka bersamaku?

Yogyakarta, 5 November 2008

(taken from http://herlinatiens.multiply.com)