perihal lama, 2
f a n g
(1996 – 2009)
sebab aku menemukanmu kembali, fang. dalam tubuh yang sama teguhnya. dan kita tak lagi kanak-kanak yang nampak ranum oleh seragam pramuka juga tas sekolah dan pensil-pensil berujung runcing.
kau masih memiliki senyum yang mengundang. dengan dua biji mata di bawah lengkungan alis yang teramat sederhana. dan kita tak lagi kanak-kanak, yang sedia diri menyimpan cinta. kau kira kanak-kanakkah aku hanya karena menyimpan waktu? membiarkan tahun berganti sebanyak tiga belas kali tanpa bicara ya atau bahkan tidak saja?
lantas mengapa kau mulai sekarang? tidak saat dengan kegigihan seorang lelaki kecil kau sulamkan namaku di sebuah kain perak warnanya. kukira hanya aku, tapi itu kita. bukan aku tapi juga kau. bukan kau tapi juga aku. kita.
kita terlambat bukan?
menyampaikan semua dengan kata-kata. mengapa dulu tak cukup untuk kita mengerti dalam diam saja?
mustinya aku miliki keberanian yang sama seperti hari kemarin. mustinya kau miliki kegigihan yang lebih mengawalinya dulu. tapi kau mengira hanya kau saja yang menyimpan cinta yang kau kira kanak-kanak. tapi kukira hanya aku saja yang menyimpan cinta yang kukira kanak-kanak.
kita tak lagi kanak-kanak, karenanya mungkin tak seharusnya mendirikan pertemuan dengan cium dan sesal. tidak lagi merencanakan pertemuan diam-diam di belakang perempuan lain yang menunggu kau maharkan.
kita tak lagi kanak-kanak, fang. aku ingin merebutmu dariku. aku ingin kau merebutku darimu. tapi mengapa tak mudah, sebab kita memang tak lagi kanak-kanak. semustinya kita bisa sekadar mencintai saja. tapi begitulah, jiwa kanak-kanak jugakah yang telah memenuhi kita sekarang?
mengapa kita terlambat? apa karena kita bukan manusia pemberani? tentu bukan. tapi hatiku tak jauh, fang. tapi hatimu tak tandus. sebab tahun yang berganti tiga belas kali hanya soal angka belaka. aku masih ingat kau seluruh.
caramu berjalan.
caramu menyisir rambut yang hitam.
caramu berlalu dari air ke mushola sekolah kita.
caramu tak suka.
caramu tertawa.
caramu menyentuhkan ujung jari di lenganku.
caramu penuh seluruh.
dulu kita kanak-kanak.tapi sekarang tidak.
bukankah sekarang segala masa lalu tak lagi bisa kita sebut sia-sia? bahkan bila kau kuminta tetap memaharnya…sebab kita memang ada.
Yogyakarta, 2009









siapa ini non?
hm, again.
really great . . . .
siapa dia say?
@ aiyuu: beuh…kan tulisan say, ya itulah saja. cuma nama tokoh di dongeng kok
@ missyou: again apa sayang? dia siapa ya? tanya yang lain deh..hehehe
@ adha: makasih…
Make me jealous.Ngerti ae carane.Tanya ke siapa? Mbak Fatma atau bang Fanlik?
saya selalu suka dgn cara kau menuliskan kata-kata,mbak. sungguh itu.
sampai saat ini diriku masih ingat pesan2mu itu. ( mbak,ingat gak? )
saya juga suka cara herlinatiens menulis lho. salam kenal langit jiwa
salam kenal kembali,mas atau mbak nich?hehe
oh iya nama URL blognya apa?biar bisa berkunjung,hehe
@ langitjiwa: Duh, saya pasti ingatlah dek, cuma saya kan ndak berpesan. Hehehe, kita kan saling belajar. Nah kapan mau online diskusi lagi kabari aja, saya pasti akan lebih senang
dan perihal missyou lupakan aja, agak odong dia mah orangnya.
@ missyou: Lapo sih Mas? beuh Mas? sejak kapan saya jadi panggil Mas. Sampean tanya mbak Fatma boleh, tanya mas Fanlik juga boleh. tergantung keberanian aja deh. hueeeeeeeeek :p
waduh…
belom terlambat;
telah terlambat;
mengejar keterlambatan;
biarlah…
“dia yang santun tetap akan santun di hati”
tak akan ada kata terlambat untuk kita
@ …..: smoga, amien
@ missyou: selamat!