aku kirim kabar


Hi Al,
Apa kabar hari ini? Kuliah lancar? Di sini, beberapa kampus mulai meliburkan mahasiswanya. Sebentar lagi ujian, kurasa begitu. Sudah lama dan hampir lupa menjadi mahasiswa.
Tiba-tiba dan selalu saja membuatku seperti baru, kau menghubungi dengan suara yang sama. Kau baik-baik saja? Apakah kesedihan baru tengah lahir? Semoga tidak.

Aku sedang merindukan seseorang. Dadaku seperti retak. Jemariku serasa patah saat ingin menulis sesuatu tentangnya. Sekarang…Biarkan aku berbagi cerita padamu.

Musim semi akan segera datang bukan? Kembang-kembang dan cerita baru akan lahir. Kabarnya, musim semi adalah musim orang bercinta. Bulan-bulan yang hangat. Tidak dingin juga tidak panas bergelora. Memang begitulah seharusnya, biarkan kasih menjadi hangat tanpa gelora.

Perempuan yang mencintainya di sana akan menyebut palsu kalau aku menyembunyikan kekasihnya dalam diriku. Tapi aku tak ingin berkemas seperti yang seharusnya. Al, mengertikah kau? Cinta telah menenggelamkanku dalam pasir yang paling jahanam.

Sekarang, aku harus menceritakan BBM yang semula 4500 menjadi 6000. Saat minyak tanah dihargai 2500, Al, teman-teman kost harus membayar 3500 untuk satu liternya. Nah, kalau sekarang menjadi 4000 akan menjadi berapa di warung-warung sana?

Ibu-ibu akan semakin sesak bernafas, bukan karena uap nasi yang tanak. Tapi memikirkan tetes demi tetes minyak tanah yang berkurang dengan semakin matangnya sayur yang diolah dan tempe yang digoreng.

Mungkin sudah saatnya, kita belajar menggunakan kaki untuk berjalan -lagi- ke pasar. Berkuda ke kota lain. Akan memperlambat terkurasnya BBM bukan? Nah, kalau butuh terbang dan menyebrangi laut bolehlah sementara masih dengan BBM, sampai kita temukan bahan bakar baru untuk menerbangkan pesawat yang membawa hati dan jiwa ke sebuah kota yang jauh untuk menemui seseorang di luar sana.

Bayangkan jika persedian minyak dan batubara habis? Butuh berapa juta abad dan tulang untuk melahirkan yang baru? Jangan berpikir kiamat dulu. Anak cucu menunggu di balik-balik semak, di gunung-gunung, di karang-karang yang tak terlihat.

Aku rindu seseorang, Al. Yang lahir serupa teman lama meski kami tak pernah berjumpa. Dari matanya yang selalu kukagumi, dia mengijinkanku melihat dunia yang tak bisa kulihat dari mata yang lain. Caranya tersenyum dan berdiam. Caranya ingkar dan menyembunyikan kebohongan. Segalanya adalah kebenaran belaka. Bila kejujuran sampai telat kudengar, itu pasti karena kebenaran memilih jalannya sendiri untuk dikenang.

Al, adakah seseorang yang bisa berpikir dengan lebih sederhana daripadamu menilai suatu kesetiaan? Atau pohon-pohon di depan kampusmu menyimpan nama-nama lain yang tak sudi nampak dengan segera? Kalau saja BBM tak naek Al, aku tak akan meremukkan belulangmu menjadi serupa abu untuk menghangatkan perapian saat malam menjadi sunyi dan dingin.

Al, bisakah sekali lagi kau nyanyikan untukku sebuah lagu tentang senyum tanpa dusta?
Malam ini terasa sunyi, melebihi malam-malam sebelumnya. Aku sembunyikan diriku di sebuah kamar hotel yang sempit tanpa siapapun. Memutar televisi tanpa tahu apa acara yang sedang berlangsung. Menghangatkan bath-up dan mempersiapkan diri untuk terbenam di dalamnya bersama buih dan wangi yang senang kusentuh.

Dua jam yang lalu aku diantar roomboy yang tersenyum. Meski aku tahu dia peduli pada motornya yang akan merengek kalau bensin tak terbeli. Sendirian begini, selalu membuatku merasa dicintai kekasih. Di dalam kamarku yang tak lebih dari 3 km dari tempatku sekarang menghadap layar putih dan menuliskan ini, menyimpan rahasia dimana aku sekarang akan terjaga. Aku memang selalu sendirian. Benar.

Selamat malam Al….salam sayang selalu.

~ by herlinatiens on May 26, 2008.

15 Responses to “aku kirim kabar”

  1. rintik hujan di Allepo
    menandaskan luka di negri ini
    tatkala darah menjadi penggerak
    bensin menjadi darah
    mahasiswa marak
    haii petinggi negri
    telah lelahkah engkau duduk di singgasana
    pun jika benar
    jangan biarkan darah mengalir setetespun di negri ini demi kursi
    pun jika salah
    cahaya tetaplah akan bercahaya.
    Di negri yang telah membiru ini
    sesaat lagi akan berwarna lagi
    entahlah…
    kenapa hari-hari ini suka keluh
    saat hp lemari es mobil masih menumpuk di rumah.
    mungkin telah lupa pada embun pagi dan semilir angin
    sebelum cahaya bersua

  2. Sejak kapan mbak membela pendemo? biasanya membela pemerintah?

  3. Al.. sayangkah kamu pada dia selalu?

  4. lovin you more than forever. honey, take my word. Iam yours

  5. Pahamilah deritaku inidengan senyum
    Tentang kerinduan dan hari istimewa kita dulu
    Biarkan aku bercerita tentang warna langit
    Sambil menitipkan kepala di dadamu yang teguh
    Menggamitkan lengan pada pinggangmu yang indah

    (tentang bayu ya?aku lagi bawa bukumu ini)

  6. sudah keluarkah sampeyan dari persemedianmu?
    jgn terlalu lama ya.. ada yg sedang menantimu.. hari ini begitu sepi,.,
    tiki tak kunjung datang..

  7. Bukan bayu ini pasti.

  8. @ belgeduwelbeh: SAYA juga tidak suka dengan orang-orang yang selalu menyalahkan pemerintah. Demo dimana-mana, mencaci segala hal tanpa memberi solusi. Tapi sebenarnya saya sendiri hampir tidak mengerti dengan kenaikkan BBM. Saya mungkin terkena dampaknya, cuma ndak ngerasa aja. Bukan karena banyak duit, tapi karena sering tak mau peduli kalau ujung-ujungnya sakit hati liat yg terkena dampaknya sangat.

    @ broter: membela diri sendiri aja kok ini. huehehhe

    @ BenQ: Al siapa ini?

    @ Iloveyou: Sampeyan dimana? Jadi ke Texas minggu depan?

    @ Wawan: Tapi sampeyan lupa, ada sajak yang begini, (aku jadi ikut2an mencari bukuku ini, tinggal satu-satunya pula.freeeeet)

    //maaf aku musti sampaikan padamu//aku sudah lama tak merindukanmu//semestinya kau menerima ini dengan baik//jangan mendendam//kisah lalu memang semestinya ditutup//jangan kau buka-buka lagi// bla bla bla…

    @ KiRa: Sudah di sini. Rindukan kau Ra? Huehehe. Kangen ya? Tiki kena bom, jadi suratnya ndak sampai. Apa kubilang, balasan surat memang mustinya kutulis di email saja atau blog. Hahaha.

    @ wawan: Bukan, bayu dah mati kena tembak senjatanya sendiri. huehehe

  9. @ wawam: Oiya, tiba-tiba saya menemukan ini yang seharusnya saya kirim untuk kawan sampeyan itu…

    Barangkali memang hanya luka yang bisa kau terima kelak. Seperti yang sudah-sudah. Hanya menunggu waktu yang tepat, sayang.

    Aku akan pergi, tapi sekarang aku seperti tak memiliki alasan untuk meninggalkanmu. Bisakah kau berbuat kesalahan sedikit saja? Hingga aku tak perlu menciptakan perkara untuk menanggalkan wajahmu yang indah?

    Sayang, bisakah kau mulai semuanya demi aku? Semacam membuatku marah dan bosan? Aku tak sanggup meninggalkanmu begini. Kalau kau terus membisikkan apa-apa yang seperti serunai sampai padaku.

    Ini sudah hampir waktunya menyudahi semuanya. Tapi sungguh mati, aku tak memiliki alasan yang cukup untuk menjauh darimu. Tapi kita memang selalu jauh bukan?

    Kau boleh sekali lagi memetik foto kecilku untuk kau tanam di dalam barakmu. Tapi, mengapa harus begini rindu aku padamu. Mungkin sekaranglah waktunya aku kalah dan menyerah. Pada apa-apa yang membuatku nikmat tersesat dalam dirimu.

    Memang hanya akan ada luka kelak. Ingin ataupun tidak aku padamu

  10. suratmu untukku tidak untuk dikonsumsi orang banyak.. jadi sabar sedikit tidak mengapa bagiku.. ^-^

  11. oh baiknya… :)
    tapi jgn gigi putih tersenyum lagi ya Ra…behel kok

  12. Apa-apan ini kok ada surat menyurat segala?

  13. ada sesuatu yg hilang dari kemaren.. semoga aku temukan kembali..

  14. monyet

  15. @ wawan: Mosok yang boleh surat-suratan cuma Bayu ;) kan aku juga boleh, KiRa juga boleh, semua orang boleh. Berteman kan ma siapa aja.

    @ KiRa: Apa? apa yang hilang? Suaraku ya? Kangen ya? Hayo bilang, ndak usah malu ya…:p

    @ erika: Apa nyet?

Leave a Reply