Perempuan yang Menjadi Selebritis
Sekarang aku sangat berterimakasih pada siapapun yang telah mencintainya dan bersedia menerimanya sebagai suami ataupun selingkuhan.
Aku hanya ingin menjadi pelacur. Bercinta dengan tiga orang perempuan sekaligus. Bersetubuh dengan tiga laki-laki sekaligus. Kenyataannya aku telah berhasil membunuh dua perempuan dan satu laki-laki dalam hatiku!
(Sebuah Cinta yang Menangis: 16)
Tokoh yang mengucapkan kalimat itu Farlyna namanya. Perempuan dewasa, mapan, cerdas, memiliki daya tarik yang seolah selalu siap untuk membuat lawab bicaranya jatuh cinta. Farlyna, menjanjikan mimpi dan impian. Tak sedikit yang kemudian patah hati dan memutuskan pergi.
Tapi begitulah, ada saatnya kemudahan itu justru berbalik menjadi senjata. Saat dia kembali pada agama yang dipilihnya dengan mencintai seorang suami perempuan lain. Jelas, itu sesuatu yang sangat dihindarinya. Tapi rupanya ‘peta cinta’ tidak cukup membantunya melepaskan impian yang dimilikinya pada suami perempuan lain itu.
Lantas benarkah dia ingin menjadi pelacur?
Mungkin sampai kini, pelacur tampak seperti anti-tesis cinta. Sesuatu yang dijauhi. Yang memuakkan bagi banyak orang sekaligus didambakan oleh beberapa yang lain.
Dari hetairae pada Zaman Yunani kuno, hingga raja-raja (Jawa?) abad tujuh belas, pelacur sudah lama menjadi objek cinta bahkan sesuatu yang diinginkan. Konsep Geisha di Jepang, bagaimanapun orang melihatnya sebagai perempuan seniman, pada akhirnya lelang mizuage hampir tak memiliki perbedaan yang signifikan dengan pelacur. Para geisha magang akan diajari oleh kakak angkatnya cara melirik, cara berjalan, cara menari, dan memperlihatkan selembar kulit ranum mereka dari balik kimono yang mereka kenakan.
Mereka menemani laki-laki di rumah-rumah teh. Memberikan kenikmatan dunia luar rumah bagi para laki-laki yang royal membagikan uang dan bosan pada lembarang kulit yang dikawininnya. Ini tentu saja bukan perihal mencoba menilai dan memberikan penilaian bahwa geisha lebih tinggi atau lebih rendah dari pelacur. Baiklah,mungkin geisha adalah pelacur sejati tradisional yang lebih dari sekedar cantik di Jepang. Oiron atau pelacur senior adalah perempuan berpendidikan tinggi, terlatih dengan baik dalam hal musik, puisi, dan tentu saja seni bercinta.
Maka tak heran, pada jaman Yunani banyak pelacur yang menginspirasi para filsuf, pemahat, seniman dalam menciptakan karya besar mereka. Kabarnya, para pelacur ini mengajari mereka perihal cinta dan keluhuran. Bandingkan dengan pelacur sekarang? Ini bukan perihal dosa dan tidaknya melacurkan diri. Tapi alih-alih meminjam konsep teman-teman LSM yang konsen mendampingi teman-teman PS (Pekerja Seksual) yang mengatakan ini sebagai sebuah profesi.
Bagaimana degan Marea Magdalena? Perempuan dari Magdala itu? Begitu bangganya dia berhasil membuat Yesus melirik padanya (entah kagum, sayang, kasih, hormat. mana ane ngarti) dengan permainan musiknya. Mereka (Marea dan kawan-kawannya) menari, yang oleh orang-orang Farisi dianggap kerasukan tujuh roh jahat. Serupa perwakilan iblis, mereka dicaci. Begitu Marea membasuh kaki Yesus dengan rambut ikalnya yang hitam serta minyak yang wanginya membakar kecemburuan banyak laki-laki, disebutlah Marea pelacur. Meski banyak dari Umat Katolik yang menyangkal itu juga, “Tak ada satupun ayat yang menganggap Magdalena pelacur.”
(perihal perempuan yang membasuh kaki Yesus ini, juga belum jelas, apakah dia Marea dari Magdala atau yang lain.)
Namun, sampai sekarang Marea Magdalena dikenal sebagai pelacur paling terkenal sepanjang jaman. Linus Suryadi AG yang kebetulan beliau juga seorang Romo begini menulis sebuah puisi “Maria dari Magdala” yang sepenggalnya berbunyi;
Saya, Maria Magdalena,
lonte.
Tujuh setan nunggang kemolekan tubuhku.
Bibir, perut, penthil, dijilatinya pahaku.
Bahkan gawukku diubeg-ubeg komplit.
terbakarlah urat saraf dan jiwaku.
Tapi Ia berkata:
“Aku tak menghukum kamu. Malahan aku jatuh kasmaran. Tapi imanku menyelamatkan. Pergilah kamu dengan akal sehat.”
Bersama Wahid Eko, teman kuliah saya, saya sering membaca puisi ini dalam beberapa pentas teater. Wachid menjadi Yesus. Saya menjadi Marea Magdalena. Dan saya senang lantang menyebut; Marea Magdalena!
Yang terkenal lagi dan bangga pada dirinya adalah si Carmen-nya Bizet, Don Juan wanita. Dia adalah sosok ganas dan misterius. Dengan sensualitasnya yang bebas, dan kecantikan ragawinya serta kecermelangan otak, dia harus membayar semua itu dengan nyawanya. Tragis!
Dan di antara para pelacur terkenal yang menjadi selebritis di jamannya, ada juga TULLIA d’ARAGONA yang dikenal di kalangan cortegiane,di Italia pada jaman Renaisans. Dia seorang perempuan yang tulisan-tulisannya menawan hati banyak lelaki. Dan tentu saja, juga matanya yang nakal meluluhlantakkan hati mereka yang menatapnya.









hmm kebanyakan liat pose-pose calon bintang film.
waah…saya gak jadi dapet buku “Sebuah Cinta yang Menangis” secara gratis
padahal dah di umpet – umpetin,eh… di ambil lagi ma yang punya… hehehe
@ kenthir: ha? iyo ta? mosok sih? hehehe
@ she: dg ijin aja aku pasti ndak mau, apalagi dg cara sembunyi2. hehehe…lagipula non, itu kan hadiah ulang tahun.
nah lho… melakukan riset yang aneh2 lagi nih… mengumpulkan nama2 PSK dan mengurutkan berdasarkan tingkat kemashyurannya…dan mungkin kemahirannya pisan
iyah mbak…
itu kan hadiah dari seorang peCinta ya mbak ?! :p hehehe…
Pecinta siapa lagi yang dimaksud she ini? Masih yang sama Her?
Mbak Her, ga tertarik riset tentang pelacur2 di Asia juga? Banyak loh yang terkenal…..
Ambil contoh, di Cina aja ada banyak yang sampai akhirnya bikin sebuah kerajaan runtuh… Ada Da Ji (jaman baheula banget!), ada Diao Chan (Zaman 3 kerajaan), trus ada juga Wu Zetian (Dinasti Tang)… Menarik loh!
Pelacur hanya sekedar menjual apa yang dimilikinya. Benar nggak sih?
buset dah itu si Romo puisi nya… kekekek
@ anton ashardi: Duh ini bukan mengurutkan, sedikit yang disebut juga. Gara-gara ingat suatu percaapn suatu pagi tentang seseorang yang memiliki hubungan sedikit beresiko dengan suami orang. Atau mantan suami ya?
@ she: Ha? Mangnya sampeyan :p
@ wawan: Adalah, masak mau tahu. Pacar Bayu kae wae, ayu ta? hahaha.
@ chrysogonus: Sebenarnya Yang saya tulis bukan pelacur kali ya, hanya dianggap pelacur oleh orang lain. Hahaha. Entahlah. Pelacura menurut siapa dan apa barometernya coba. Beberapa orang menganggap para ledek di kesenian-kesenian tradisional semacam Tayub itu juga pelacur. Menggoda suami orang di atas panggung. Membiarkan dadanya dirogoh untuk selembar uang. Tapi hakikat hidup tidak bisa dilihat dari situ juga kan?
@ bukanasalnama: Titipan dari Tuhan, nak! Kita tak pernah punya apa-apa.
@ til: Wah iya Be, puisinya itu kalau dibaca bisa membangkitkan amarah dan semangat mempertahankan harga diri.
haha…ya ya.selebritis yang bermain main dengan sutradaranya?
Hmmm, mereka juga kan yang sebenernya dianggap pelacur, karena mereka semacam “memanfaatkan” kedekatan mereka untuk mencapai tujuan tertentu..
@ si mbak : emang nya saya kenapa mbak..?! kalo ‘ dia ‘ kan cuma meminjamkan tidak menghadiahkan kepada saya…hehehehe
seng di maksud sopo jal?! ;D
@ rusli : wew… siapa ik mas ?!
@ Rusli: iyo, kadang-kadang kita nakal dikit ma sutradara.
@ Chryogonus: Begitulah adanya, kek mana coba. Mahasiswa-mahasiswa juga banyak yg suka senyum2 ma dosennya biar dapat A. Dosennya yang odong ini pasti ya? kali aja…hehehe
@ she: Oh gitu ya? EVi pasti ya?
wew…. Evi? sampeyan kenal tha? seeppp dah
Bukannya sampeyan yang ngenalin. Aku ndak kenal sih, pernah denger nama doang.
iyah.. iyah…:D , saya yang ngenalin meskipun hanya namanya saja,
*weeeekk*
dan setidaknya menambah satu daftar pembaca buku sampeyan..
Yesus berkata : barang siapa yang merasa tidak mempunyai dosa hendaklah ia yang melempar batu untuk yang pertama kalinya pada wanita ini (Maria Magdalena) , lalu Yesus berkata : lagi bangunlah anak ku imanmu menyucikan mu.
Bukan begitu mbak
@ sheska: Duh…bukannya dia yg baca buku saya lebih dulu sebelum sampeyan ya? hehehehe….apa kabar Nona?
@ Jessus My Salvation: Pinter iki
alah mbak herlina ki mosok cari riset pelacur mpe luar negeri mbok di jogja aja kan kata berita di MP banyak tuh yang legendaris! he….he…..
kalau boleh tahu….kenapa sic mbak herlina suka tema-tema yang kayak gitu…? nggak kenapa2 sic, cm pengen th aj!
Btw mbak herlina lum baca Blogku ya…? aku pengen tahu komentarnya sic!