stasiun di antara kereta -Bima-, 8
Apakah aku nampak tak baik-baik saja?
Apa aku nampak tak lagi bernyawa?
1.
Saya melihat penumpang kereta Bima itu turun dari dalam kereta. Tak ada kehidupan dalam jiwanya. Tapi tidak juga derita. Serupa langit yang sederhana saja perempuan itu menghampiri saya dan bercerita.
”Mengapa tak jadi berangkat?”
”Pernahkah tidak saat saya belum berkata iya.”
”Lho, saya pikir sampeyan mau naek Bima ke sebuah kota.”
”Saya butuh secangkir kopi, dan sebatang rokok, maukah berbagi dengan saya?”
Saya lantas menuju kantin stasiun, mencari sebungkus rokok dan secangkir kopi panas, seperti mau dia. Saya iba padanya, bagaimanapun dia mencoba terlihat manis, dia masih nampak teramat letih. Adakah seseorang merebut jiwanya?
Bukan mungkin lagi, tapi dia memang pecah. Saatnya berangkat mulai diperhitungkan dengan cepat. Belum sempat diterimanya kau sebagai kekasih, dia sempurna mengucapkan selamat tinggal. Kau telah nampak seperti seseorang yang mengucapkan SELAMAT JALAN baginya.
Sekarang dia ingin bersembunyi dari pagi. Dadanya terlanjur retak. Dia butuh waktu sembunyi dalam pot bunga yang kau kirimkan. Dia merasa tak seharusnya tumbuh dalam pot yang pernah kau pakai menanam kembang lain. Apakah bungamu sudah mati? Tentu belum. Jadi ada apa sebenarnya? Bisakah kau yang menjelaskannya?
Apakah dia hancur? Atau sungguh pecah? Kau temukankah sisanya? Berdiri dia menunggu dirinya sendiri, bukan kau. Seharusnya kau pulang pada kembang yang lama kau tanam dan siram. Bukan padanya yang belum tentu menjadi. Sungguhpun dia mulai ragu pada keinginannya sendiri.
Kalau kau lihat asap membumbung tinggi. Di sanalah dia membakar dirinya serupa mestia. Tapi tak disisirnya rambut yang tergerai. Dijauhinya bedak dan pemerah bibir. Dia tak ingin sempurna. Apakah dia nampak pucat? Bibirnya memang biru, bukan karena perpisahan. Tapi begitulah hari berjalan dan kesuciannya terjaga. Hati yang terjaga. Yang sama….
Dia tak menangis. Berkaca-kacapun tidak. Tapi terdiam begitu, membuat saya ingin memeluknya. Sekarang sebagai seorang aku, tak bisa tidak saya harus memeluknya selagi sempat. Meski saya tahu dia tak membutuhkannya. Dia terbiasa bisa dengan sendiri bukan? Kau sedang apa di kota sana? Menata hiasan dinding? Mengecat ulang rumahmu? Atau mengganti sprei dan pewangi ruangan?
Tahukah kau? Dia terlalu pandai berpura-pura untuk nampak baik-baik saja. Dia ingin bersembunyi dari mimpinya. Sepi yang menyergap, hadir serupa bayanganmu yang semakin jauh. Meski dia tahu kau tak pernah benar-benar sendiri. Tapi begitulah dia enggan melepas semua lamunan dan impian.
2.
Mas, Amerika itu letaknya di bawah kursiku ini. Tepat dimana aku duduk terdiam begini. Kalau di sini siang, di sana sedang malam. Kalau aku sedang terjaga begini, sampeyan sedang lelap menjaga mimpi. Tak pernah sama bukan? Memang begitu, kita bertemu sebagai pecundang. Jadi biasa saja kalau berakhir dengan sebuah kekalahan baru.
Di pagar Mas, ada empat burung kecil. Salah satu dari mereka nampak seperti seseorang yang menangis. Bulu-bulunya berdiri, dan suaranya tak seperti yang lainnya. Sementara yang lain sibuk berkicau, dia sibuk menata deritanya sendiri.
Mungkin Mas, ketiga temannya itu sibuk membicarakan rumput yang mulai kering. Atau seluruh buah srikaya yang kering di pohon samping mereka. Aku tak yakin, sibuk memperhatikan si burung kecil yang meratap itu. Baru pagi tadi dia bertengger di pagar itu.
Oiya Mas, sekarang mendung. Padahal tadi terik sangat. Bahkan terasa menyengat meski AC kunyalakan dan di luar angin kencang. Begitulah, cuaca sering berganti. Terlalu cepat dan mudah bahkan. Entah.
Jangan bertanya apa-apa. Aku tak terbiasa menjelaskan bila sedang begini. Karena penjelasan hanya akan mengundang pertanyaan baru. Lebih mudah bagiku diam dan menjaga segala hal sendirian. Tak bisakah ini dipahami dengan lebih sederhana? Memang bagitulah seharusnya bukan? Oiya, aku terserang amnesia mendadak. Lupa sampeyan tadi cerita apa…
Yogyakarta,15mei08









Gilee…keren banGeT. Gue dong udah baca novel Garis Tepi Seorang Lesbian.Keren abis. Dengan bahasa sastra yang apik dan kadang juga bikin orang ingin terus baca n baca… apa akhir dari kisah ini.. once again akhir dari cerita ini mengejutkan.Sekarang dong, gue nemu blognya si empu cerita. Makin gemezzzzzz gue…salut
Bima lagi Bima lagi.Yang laen dong.Ikutan bunyi iklan di Tipi.Tapi kerenlah klu ndak jadi naek bima.Naek pesawat aja sama aku.Urusan hp ditinggal,asal mao pacaran kubeli berapapun tu hp.kqkqkqkq
Tapi sesuai pesenanku ini kan?Bagus kok bagus.
pada kereta Bima
Seberapa besarkah keraguan akan kau tanamkan padaku? Seberapa banyakkah rindu yang tak akan sampai. Bukit-bukit yang semakin enggan menjadi gunung. Mereka merayakan pesta-pesta jelata. Sayang, kau kira babikah aku?
Mungkin tak akan lagi menjadi sama. Segala percakapan dan pembicaraan. Hati yang kau tikam berdarah menyuburkan kehidupan. Aku hilang letih segala warna.
Pada bayang-bayang kota, telah kuterimakan segala hal yang bernama sia-sia. Seperti harapan yang pernah kuluangkan untukmu. Pergilah, berjalan-jalan melihat pagoda dan budha. Ceritakan pada mereka segala bentuk yang coba kau ubah.
Mengapa menjadi sangsi? Mengapa mengetuk pintu rumahku -lagi-. Tak cukupkah hanya dengan dia mengait mimpi? Jangan begitu, Sayang. Aku malas bepergian.
”Maafkanlah untuk segala harapan yang kutanam dan kupelihara untukmu”
Kau tak seharusnya minta maaf. Kau kira percayakah aku pada janji? Tak pernah. Selama ini aku terbiasa melihat janji serupa dongeng sebelum tidur. Serupa mitos bahwa Jonggrang menjadi batu karena cinta yang binasa.
“Oiya, aku terserang amnesia mendadak. Lupa sampeyan tadi cerita apa…”
Seperti kata2 seorang pacar yang sedang marahan
:p
tepatnya lagi sibuuuuuuk banget.
tulisan yang beraura letih.
//ikut pilu//
produktip sekali…. kash tips semangat menulis dong..
@ ashardi: kata kuncinya I do cares about you, honey. I just thought you need to know. Jadi amnesia dueh
Marahan itu yang kekmana ya? saya lupa:p
@ yos: ndak sibuk, ndak letih. suatu hari Yos, waktu duduk di sebuah warung kopi sekitar marlboro, ada perempuan gila lewat dan pake kaus berwarna putih, tulisannya “MENDERITA AKU” bener ini…serius.
@ kw: Eh, tadi saya mampir blog sampeyan lho…trus liat foto Mikael.
marahan tuh kalo pacar ndak mau angkat telpon ama bales sms… trus kalo ngomong jawab seadanya dan tidak cerewet (kalo ini termasuk sisi positifnya :p )…
lha emang ndak pernah melalui kejadian2 yang tersebut diatas?
bima!! buk, kalo bima naik bima apa jadinya yaa?
Bima naek Bima? Hm..ya gak ada apa2
Berarti Mas Bima atau Pak Bima naek kereta Bima. Nah begitu…
@ Ashardi: Wah gitu ya? saya lupa caranya soalnya. Tepatnya belum kali ya. Kapan-kapan saya praktekkanlah. Memangnya kalau marah gitu apa penyebabnya ya?
kalo ditanya ama saya , pasti saya bingung juga jawabnya
weh…weh… makanya kalo nulis buku (baca:Garis Tepi Seorang Lesbian) ndak usah terlalu nyelem, jadinya gini deh…semacam tingkat keparahan sudah mencapai stadium 17.
Kalo pacar itu biasanya marah2 kalo sms ndak dibales2 ama telpon gak diangkat2, huehuehueheuhue… bawaannya curiga… kira2 seperti itu…
nggg… semacam sudah ada target operasi nih, kok ampe nanya2 hal2 seperti ini…
Herinatiens kok sampe ndak tahu.bohong banget.Yang maki-maki dia karena pacarnya tertarik ma dia aja uakeh.Istri orang ya ada.Makanya Her, pacar jangan banyak-banyak jadi imun.Ndak tahu kalau dicemburui.Kabar Hendra gimana?
“Perempuan dimalioboro pake kaos “MENDERITA AKU”
aku juga baru duduk2 di situ lha tak kirain perempuan itu herlinatiens, yang duduk minum kopi selebritas… eh ternyata wek kekek
@ realylife: Bagaimana dan mengapa. Hehehehe. Nggih sampun ndak tanyalah.
@ anton ashardi: Sampeyan iki isok ae lho. Hahaha. Tragedi passing over diberlakukan. Seperti layang-layang. Jadi ndak boleh hidup dimaenkan angin, harus kita yang tau bagaimana caranya bermain dengan angin, tanpa ataupun dengan turut serta menjadi pemain.
@ wawan: Hendra baik-baik saja, mungkin sedang menghitung jeda dan tarikan untuk mempersiapkan pelaminan. Hehehe. Semoga mereka berbahagia dan kekasihnya berhenti mencemburui…
@ kenthir: Lhah, tak pikir malah sampeyan sing pake kaus itu…
Sama anak Smg itu? Turut berdukacinta. Yang berdukacinta kamu apa Hendra? Hendra ya?
Anak smg itu apa? Sales Promotion Girl maksudnya ya?
@ wawan: TAK ADA yang berduka cinta. Semua baik-baik saja. Kesedihan berlalu. serupa musim yang berganti…demikianlah segala hal berjalan dengan cara yang benar.
@ bukanasalnama: TUTUKMU NAK, dijaga….
nyanyian kenthir:
Gugusan hari-hari
indah bersamamu mbak herlina
tak sebiduk pun jemari mengajakmu kesana
tiba tiba langkahku terhenti
…
berhenti? woow youwish
adaptasi prom camelia ebiet ade
Aku suka banget lagu itu. Camelia..
//ingin kumati mereka berkata//tak perlu kau tangisi segala impian tak pasti//hari ini juga mimpi maka biarkan dia datang diharimu//
eh salah ya? entah