kabar kawan
dear Al,
apakah itu hidup Al? segala hal akan nampak ringkas saja. hujan dan kemarau. perpanjangan musim dan sebab. semua kisah bisa berlaku. pernah ada kita. sekarang biarkan menjadi aku dan kau. kita tak akan fana.
apakah kerinduan ini begitu lama?
kau akan pulang, sebentar lagi katamu. tapi tentu bukan untuk menyempurnakan sebuah pertemuan. segala hal telah berubah dengan cepat.
dan bila pagi-pagi yang sempurna datang, seseorang di sampingmu dengan setia akan membangunkanmu. “selamat pagi sayang.”
lalu, apakah aku berdosa karena pernah membuatmu terjaga dan membuyarkan seluruh mimpimu tanpa harus membisikkan itu di telingamu.
tentu tidak bukan?
Al, masing-masing dari kita datang dan pergi dari arah yang seluruhnya berbeda. perjalanan-perjalanan panjang. waktu-waktu yang singkat. dan bekal yang sama sekali berbeda. meski kau tak nampak sebagai pejalan karib yang tersesat.
Al, kau selalu terlihat seperti kanak-kanak sejak pertama dulu. dalam dirimu, kiranya jiwa masa kecil terbelah dan mencuriku diam-diam untuk memasukimu. bahkan dalam kebohongan, kau tetaplah sebuah kejujuran yang benar. maka bila kau terlahir sekali lagi, tetaplah menjadi Al yang kukenal. bila mataku mulai kabur oleh usia yang udzur, biarlah cerita semakin tak kenal pudar. jangan pernah jauh, kau dan aku sudah di rumah.
oiya, bagaimana babi-babinya? sudah besar? aku jijik. hidung babi membuatku merasa mual kalau melihatnya. mungkin karena ingatan yang buruk tentang cerita babi dalam film-film yang kutonton. atau bisa juga pengaruh dari cerita orangtuaku. atau karena babi diharamkan dalam keyakinanku.
di sini sedang sering hujan. pagi, siang, malam. seperti tak jengah dimaki pengendara motor, para pekerja, anak sekolah dan pasangan yang sedang pacaran. hujan datang tanpa permisi. memang sesekali terlihat awan tebal, tapi seringkali menghambur begitu saja.
hampir tak ada perhitungan musim yang benar. bulan tak lagi menjadi milik kemarau atau penghujan saja. pernah sebulan penuh desember, tak ada hujan. petani-petani akan repot. beberapa merutuki nasib di depan rumah mereka sembari merokok dan minum segelas besar kopi yang tak tersentuh gula. tapi rasa cinta dari istri, membuatnya tetap manis belaka.
Al, BBM mau naik lagi. kabarnya ini satu-satunya jalan yang musti diambil. seperti biasanya, memang begitulah selalu yang ditangkaskan oleh pemenerintah. lantas akan lahir para pendemo di jalan-jalan besar, di kampus-kampus seluruh negeri ini. orang mencaci dan unjuk rasa. mogok makan, menjahit mulut mereka, juga ada yang -pernah- telanjang.
tapi kau dan aku tahu, yang sudah naik begitu mana bisa turun. BBM lebih kuat dibandingkan raja dan presiden yang bisa turun karena didemo oleh mahasiswa dan rakyat. tapi BBM? mana bisa. sebenarnya aku sendiri sering tak terpengaruh oleh kenaikan harga BBM. aku tidak perlu bensin untuk menjalankan mobil. makan juga seperlunya, kan aku tidak hoby makan. tidak perlu ini itu yang ribet. hitung punya hitung, siapa yang paling rugi kalau BBM naik begini? katanya sih memang rakyat kecil. tapi aku juga kecil kan? lhah…
kalau kau pulang Al, jangan lupa bawakan certa-cerita pengantar tidurmu selama di sana. semoga segera sampai apa yang harus sampai dan menjadi.
salam kangen.









Oalah Al…Al… ndang pulang po’o Al, ada yang kangen ini lho, jangan lupa oleh2nya, bandeng presto 2 kotak sama krupuk rambak ya…
kalo pulang ntar ati2 di jalan, kalo bangun jathu ndiri ya…
nb: nama lengkapnya Al kuwi sopo? Ali? si Al? Alhamdulillah?
Aku ikut tanya,siapa si Al?Oleh-olehnya coklat saja, si Na kan suka coklat.Masih suka kan Na?
siapa lagi ini Tiens?
Salam kenal Mbak
ini cerita tentang bali //pulang
kayak lagune ebiet rasanya
…gemuruh ombak di pantai kuta…
kayaknya
mulai april ini
hilang “O o belum tentu kawan”nya herlinatiens
njuk manutan
hilang “selera debatnya”.
lalu aku bikin puisi lagi…
saat bintang cemerlang
meredupkan cahaya semua bintang
hingga tinggal kau seorang
betapa cinta berbinar
untuk kekasih yang ceria // bukan iklan hape lho
“nunggu pelangi ngamuk”
//njiplak syair barzanji//
@ Ashardi: Alif Lamiim, dhalikal kitabulla roibafi hudalil Mutaqin..eh salah nulisnya ya.
@ hendra: Iya, coklat GUYLIAN dan MERCI aku suka. Tapi beberapa coklat dari Swiss yang lain dengan campuran kristal rum di dalamnya juga boleh, biar kek ableh kalau makan kebanyakan. Soalnya jadi pingin ngakak-ngakak.
@ erika: Penting ya Ka? Ada deh..rahasia dong :p
@ sister: kemayu!
@ yos: pokoknya aku padamulah…punya teman seperti sampeyan kan enak, bisa jadi apa aja to :p
weks, ngapain coba nunggu si PELANGI marah, jangan gitu. Ntar kalau tiba-tiba dia muncul lagi trus bicara yang aku tak paham lagi, wew….
ganti nama ah
kabar-kabari di RCTI
Ya kalau KISS di Indosiar.Tiens,kau menyebalkan.
wew kok jadi ngomongin BBM? -_-’ disini harga rokok dan minuman beralhokol naik. errrr…juga ada larangan ga bisa masuk club setelah jam 2. terus petugas2 pemeriks tiket makin rajin jalan2 ngincer mangsa kekeke.. babi? ntah udah berminggu2 atau beberapa bulan dia hidup damai ga saya siksa2 lols. itu jg bukan babi saya jadi ga perlu saya sayang2 kan kekeke ini kok jadi saya yg jawabin lols!
klu kamu yg jwb berarti kamu AL ya?angkatan lauta?Atau Angkatan Letup?
@ til: clubbin molo! kuliah tu cepet kelarin be. Lhah babi yg mana yg dimaksud? Gak ikut2an. Ntar jadi palsu dan budak cinta lagi dong :p
@ bukanasalnama: ganti-ganti nama tapi ora jelas. Al itu mungkin Ali, Also, Angel, eh gak ya? Ah entahlah huhehehe
al pulang… baguslah! sekalian oleh2 tuk aku yaa… boneka babi juga boleh…
btw, kalo Til Pulang, dah lese donk kul nya disana.. so bawakan juga boneka babi tuk aku yaa..Til.. Sombong!!
AL sopo iki rek?
akhirnya aku ketemu juga dengan blog-mu… aku kangen dengan provokasimu seperti di Garis Tepi Seorang Lesbian!
@ Wawan: Al…entah
@ qizinklaziva: provokasi? ah…yang benar saja…
Al Hendra Bayu Setyawan saja.
jengis siapa ya? she/astri?
………………. babi mu mana Til??
ada tuh di belakang rumah lagi pada kedinginan. JenGis siapa ya?
@ til : siapa hayoooo…?! kalo saya.. ndak tau sampeyan punya babi segala atuh
, mang ternak babi yah ?!
babi utan apa babi ‘ngepet’ ? kekekekek….
@ wawan: Halah mekso banget sampeyan. Ra ono iku.
@ til: Itu si kunyuk Be…si odong yang kita kerjain dulu.
@ JenGis: Sok misterius lu, mana bisa. Kamfret…
@ She: Ini malah ikut-ikutan..
yah… saya kan juga tamu di sini mbak
ndak pa pa tha ?!
ku Fret lu! taik babi lu mana yaa..?
@Til.. pulang ke indon bawa babi dan koala ya..
kasi ma buk herlina… ODONG!
@ mbak she… yaa, tamu toh kog dilarang!! hajar ja mbak tersayang kamu itu…
KANGEEENNNNNNN…
@ JenGis :… tamu toh kog dilarang!! hajar ja mbak tersayang kamu itu… >>> Wew!! yah.. ndak mungkin banget lah. aku kan sayang
hehehe.. betul begitu kan mbak ?!
bagaimana kabar sampeyan bos..?!
maafka aku.. teman. maaf!
@ she, aku baik, tapi jangan panggil bos lah…ok kan!!
@ she: Iya, sampeyan juga tamu saya. Tamu yang baik harus selalu dihargai dan dihormati kok memang.
@ SHE dan ASTRI: Non, Astri..tiba-tiba aku menemukan ini di monitorku. Bisa tidak bantu aku menerjemahkan ini…
Perempuan itu berhenti di hadapan saya, tapi tak mau turun. Dia mengatakan terluka tapi tak mengatakan apa saat saya bertanya ’kenapa?’ dia tak pernah mau menjawab saat saya bertanya ’siapa?’Atau saya yang salah sangka?
Dia akan tertawa begitu menyadari saya tengah menatapnya. Seperti tengah menerima sebuah pesan tanpa tulisan. Memang seharusnya saya menjauh dan tidak terlalu pusing memikirkannya. Toh dia sudah bersuami.
Tapi dia selalu menghentikan mobil di hadapan saya malam hari. Bicara pada saya dari dalam mobilnya. Dia tak pernah sudi untuk turun. Tak mau atau tak bisa? Saya tidak mengerti dan mulai tak ingin mengerti. Lebih tepatnya mengabaikan segala sebab dan alasan.
Dia boleh berhenti kapanpun dia ingin berhenti. Dia boleh tertawa sekali lagi dan mengatakan ada yang terluka sekali lagi. Mengapa menjadi rumit memahami setiap kata-kata yang meluncur dari bibirnya yang mungil?
Seperti malam tadi. Dia berhenti dan menyapa saya. Mengatakan dia tengah menanti saya. Tapi saya sendiri tidak merasa sedang bepergian hingga harus dia nanti dan tunggu. Sebenarnya saya sedang menatap ke arahnya dari dalam rumah saat dia termenung begitu.
Saya mulai takut dia melucuti senjata dan rasa kasih saya. Dia tidak pernah mengijinkan saya untuk tahu siapa dia. Dia tidak pernah memperkenankan saya memahami dia. Dia seperti ingin tinggal juga menetap seketika. Dia mulai lupa, saya manusia yang butuh suara dan kata-kata.
Mungkin, selama ini dia bersuamikan seorang jin. Hingga lupa bahwa tak banyak yang bisa saya pahami hanya dengan tertawa dan tatap mata saja. Malam tadi, dia tertawa saat saya bertanya, ’kamu sakit?’ saya kesal dan mulai meragukan segala keyakinan dan kejujuran saya terhadapnya.
opo yo…?! wah.. nge’BlaNk’ saya mbak…
coba saya resapi dulu ya mbak.. * halah *
aneh bertemu aneh!! wajarlah