stasiun di antara kereta -Bima-, 7
.: mengapa tuan itu menganggap saya binatang? :.
saya semakin sangsi. untuk terus berada dalam Bima atau turun segera. saya tiba-tiba terlelap dan bermimpi;
saya -seperti- menerima selembar pesan. cepat-cepat saya membukanya. selesai membaca surat itu saya senang sekaligus sedih. kiranya seseorang yang jauh telah berbuat jahat pada saya.
“binatang seperti anda dilarang naik, silahkan turun atau kami seret keluar!”
sebenarnya saya masih perempuan, bukan anjing ataupun ular seperti yang tuan bilang! tapi tak apa kalau itu membuat anda sekali ini saja mendengarkan saya.
saya kira, sekarang di mata semua orang, saya telah nampak sebagai seekor binatang busuk warna-warni. selembar surat itu sedemikian menuduh. tentu saja saya ingin membalas surat panjang itu. tapi tangan saya terlanjur gigil, dan malam sedemikian suram.
baik, baiklah tuan, kalau anda memanggap saya serupa babi atau anjing hutan yang liar, tak apa. saya ingin menjelaskan, tapi apalagi yang harus saya jelaskan? menatap mata tuan, saya tak lagi bisa. apalagi mengeluarkan suara.
bila jeritan hati saya hanya tuan anggap sebagai bunyi-bunyian serupa gesekan daun bambu juga tak apa. setidaknya saya tahu, anda memang tak pernah benar menilai saya. tuan, bersabarlah sebentar. tunggulah saya sebentar lagi, dengarkan penjelasan saya sekali ini saja. tak bisakah tuan?
mengapa tuan sedemikian yakin dengan kesimpulan tuan sendiri? mengapa tuan tak mau mengakui anak-anak saya yang lahir karena tangan tuan sendiri? darah ini tuan, yang menjadikan anak-anak itu bermata kaca. tuan kira darimanakah darah itu menetes? darah ini Tuan, darah saya yang tak mau berhenti oleh panah yang tuan tancapkan di jantung saya.
tapi saya tahu, tuan tak pernah mempercayai saya. bila surat-surat untuk saya dari prajurit lain sampai di telinga anda, maka tampaklah saya sebagai seorang pendosa sial bagi anda. bahkan sekalipun saya tak mengenal siapa mereka. nah tuan, dapatkah tuan memahami derita saya? tentu tidak, karena tuan terlalu asyik menganggap diri tuan sendiri sebagai seseorang yang terluka di sini. menimpakan derita dengan menulis surat pendek begini pada saya. ah tuan…sekali saja tuan, pahamilah saya.
…..
sampai di situ saya terbangun. saya tak mengerti arti mimpi itu. saya seperti tidak mengenal siapa perempuan yang ada dalam mimpi saya, ataupun si tuan penulis surat pendek itu.
belakangan ini, saya memang sering bermimpi. tapi saya tak mau mengartikannya sebagai sebuah pertanda -lagi-. saya takut saya akan terluka lebih dalam. saya takut darah akan benar-benar mengalir dari jantung saya sendiri.
lantas saya menatap kaca jendela -Bima-, “apakah saya memang menjelma binatang seperti yang dikatakan si tuan dalam mimpi itu?”
ternyata saya masih manusia perempuan. senyum saya memang tak nampak. mata saya juga tak lagi seperti kaca seperti yang orang-orang bilang. oh, saya seperti tak mengenali diri saya sendiri. saya terlalu nampak sedih. saya terlalu nampak rindu. saya terlalu nampak mencintai. atau ini memang hanya sekadar ‘nampak’?
saya ingin cepat sampai pada stasiun pemberhentian, menemui kekasih hati saya. tapi sungguh saya takut kecewa. dan bila saya berharap bisa menikmati secangkir kopi bersamanya di sebuah malam, sumpah mati saya hanya akan memendamnya.
sayang, jangan lagi kirim puisi padaku, karena dengan begitu semakin berharap saya dan aku padamu.
dan bila esok hari sampeyan mendengar tentang sebuah surat yang ditujukan pada saya ataupun aku -lagi-, jangan sampeyan lantas menganggap saya berdusta…hanya tuan yang pernah saya harapkan, seumur hidup saya sekarang. mungkin juga aku…
Yogyakarta. 17April08









tuan itu mungkin tak mengerti tentang manusia
Tuan oh tuaaan….
hehehe nuwun mas Hafidzi, ternyata fansnya penulis AAC ya? kmrn baru saja say membaca ulasannya di blog seorang sahabat…
untung saya bukan penumpang kereta bima. katannya sih mahal tiketnya
wah wah, kenapa gak gajayana saja sih hehehe.aku tunggu stasiun di antara kereta -Bima-, 1 milyar nya biar meledak mata saya membacanya haha
emg di bima ada kereta ya??
saya tidak percaya aku!!!
@ Rusli: kereta Bima ke Jakarta terakhir kemarin 190rb, kalau gajayana 200rb mungkin. Aku gak apal dek :p
Ya tergantung, bisa saja matamu meledak, bisa juga jariku yang meledak duluan:P
@ R’ Kurniawan: saya rasa tidak ada kereta di Bima. Kalau kereta Bima dek, ada tujuan surabaya-jakarta. kalau mau ke Bali ya tinggal pesan ke pihak stasiun, begitu lebih baik. Atau naek pesawat ajalah.
@ M4T4H4RI: duh susahnya ngetik namanya, A musti pake 4 ya? kenapa ndak matahari saja coba? saya karib benar dg istilah matahari ini…wew…sampeyan tidak percaya “aku?” atau “saya” yang tidak percaya pada “aku?” hm…kapan sampeyan pernah percaya?
sesusah apa? sesusah rel hati Bima?…
napa anda karib benar dengan matahari?
saya, aku percaya sampeyan.
tidak ada yang susah tentang kereta Bima..beberapa memang mengeluhkan harga tiket seperti Rusli (http://roeslioemar.wordpress.com). tapi bagi saya, semua tinggal bagaimana kita menjalaninya…perihal kekariban saya dengan ‘matahari’ itu rahasia jiwa saya….
anda benar!! matahari jiwa saya telah kembali dan saya akan merahasiakannya di setiap cahayanya… mari berrahasia akan ‘matahari’…
wew..matahari saya jelas beda dengan matahari yang anda miliki. karena jiwa saya juga jauh sangat berbeda dengan jiwa anda. mari merahasiakannya kalau gitu…tapi Mbak, perlu saya ingatkan di sini, matahari tidak kembar..kecuali dalam cerita
yaa.. tentulah mbak. kalau matahari kembar, ga mesti lah benua amerika menunggu siang dulu di Asia…. iya gak mbak?
ok ok ok ok. kali ini anda boleh juga. meski benernya ndak gitu juga, karena tergantung juga sih. mau di malam hari atau di siang hari. tergantung itu tadi Mbak…ya, ya, ya…bagus..anda membuat saya cegek kali ini. seep..
cegek apaan mbak? saya kagak paham!.. atau tergantung pula memahami ‘cegek’ seperti apa?
wek ngomongin BIMA, kereta api Bima kan artinya kereta api BIru MAlam meskipun warnanya putih. Kalau berangkatnya malam artinya nggak pernah ketemu ama mata_hari ya.
Eh titip ama bung @Rusli, kalau tiket BIMA terasa kemahalen, naik aja KA PROGO, atau KA GAYA BARU MALAM SELATAN, tak tunggu di parkirannya kang wowor he heh he.
@ M4T4H4RI: cegek itu adalah ketika aku ingin melemparmu dengan botol aqua…
@ yos: Lu kemane aja yos, lama tak bersua. Sibuk cek harga tiket ta? hehehe, iya ndak ketemu si M4T4H4RI.
Cuma memang aku dah pernah terinspirasi laginya Ebiet G Ade tentang kisah cinta di kereta api biru malam BIMA, yang liriknya …ku ucapkan kata cinta irama tra la la la la…
tapi, hurufnya pada ngumpet, nggak mau pada nongol di kretas he he he
pake botol aja tuh mbak! dalam botol ada lembaran duit seratus ribu kan??.. bagus tuh kalo gitu!
@ bapak Yos..juga mau ga di lempar ma botol ma mbak herlinatiens..!
mbak herlin… sampeyan kok suka sekali lempar botol sih?!
hehehe..
emang gak ada yang lebih keras buat lempar si M4T4H4RI
salam dariku M4T4H4RI
salam kenal buat herlinatiens, aku guru kimia smkn 5 suroboyo
@ yos: dah ingat belum sekarang? liriknya bagaimana? wes, silahkan berpuisi di sini lagi.
@ M4T4H4RI: du du du du..enak di sampeyan ndak enak di aku dong..
@ she: ada sih dek yang lebih keras, tapi janganlah..kasihan..ntar dikira kekerasan.
@ lutfi: salam kenal juga Pak Lutfi…
bima bima terus