Teman tapi Teman

CB. Hendrawan

.: Apakah saya nampak seperti penyeleweng? hanya karena saya mencintai diri saya dengan cara yang saya pilih? :.

Namanya Hendrawan, dia mantan pacar yang selalu menjadi karib dan sahabat yang manis. Sempatlah wajahnya tersipu malu kemarin siang saat saya bilang, “Ayolah, tak ada yang lebih ganteng di mata saya selain kamu, Wan.”
Saya memang menggodanya, melihat dia tersipu begitu saya ingat; memang hanya dialah satu-satunya ‘mantan’ saya. Ya, siang kemarin dia begitu ingin tahu wajah seseorang…(siapa?)

Sebelumnya, di suatu hari yang jauh dia menelepon saya pagi-pagi benar, dan bertanya dengan suaranya yang -masih dan selalu- manja, “Kok sampeyan jahat sih, sampeyan dah nikah ya?”
GLODAK!!! saya kaget, angin apa yang membuatnya bertanya begitu. Oh Tuhan, ternyata dia bermimpi saya menghampirinya dengan cincin kawin di jari manis. Ah, Iwan…

“Sampeyan dimana?”
“Di, Hongkong airport.”
“Kapan pulang?”
“Satu minggu dua minggu cek client ke Texas.”
“Oh, baguslah, jaga kesehatan.”

Ah, mantan saya itu. Dia memang tak pernah tak manis. Selalu begitu saat tersenyum, selalu begitu saat menatap, selalu begitu saat memanggil saya, “Cinta.”
Bagus, pacar-pacarnya yang kemudian disinggahinya tak membunuhnya. Iwan tak pernah berbeda, dia selalu malu-malu saat saya menatapnya. Saya tak malu lagi. Iyalah, wong ngliatnya cuma di web cam. Masih saja malu-malu itu tampak, bagaimanapun cara dia menutupinya. Dia, laki-laki itu. Mukanya selalu begitu saat dia menulis, “Berantakan tapi tetap menarik.”
Dasar pembohong besar, pikir saya.

Empat tahun, empat puluh hari. Saya merasa memiliki dia sebagai pacar. Sebagai kawan diskusi yang canggih. Sebagai koran utama saya di setiap minggu dengan surat-surat penjangnya. Sebagai sahabat yang tak pernah memaki saya. Sebagai mantan pacar yang membuat saya dicemburui banyak perempuan; sebagian pacar dia, sebagian lagi selingkuhan di belakang pacar, dan yang lain-lain para pengagumnya.

Dia pacar yang manis, selalu manis setalah berpisah sejak enam tahun yang lalu. Saya masih sangat muda, dia juga sangat muda. Tapi what the hell!!! saya hanya bisa percaya pada dia sampai saat ini. Mempercayainya sebagai karib yang jujur pada hal apapun. Sekarang sebagai perempuan; saya meyakinkan diri bahwa dia memang selalu laki-laki. Eh, bentar laki-laki yang kek mana? Ups!! sorry cinta…

Sudah lama saya lupa menaruh dimana surat-surat panjang kami. Tapi saya menyimpan dengan baik surat-surat dari perempuan-perempuan dia. Ah, mantan saya ini, memang menarik bagi banyak perempuan (dan laki-laki?hahahaha)

Nah, jadi jelas bukan bagi yang merasa cemburu pada saya dan memberi komentar di tulisan lain…Semoga ini membantu anda semua memupus rasa cemburu pada saya.

…Iwan, sukses untuk kau dan aku. Amien..

Yogyakarta, 7 April 2008

~ by herlinatiens on April 7, 2008.

15 Responses to “Teman tapi Teman”

  1. he he he
    akulah penyair pedang berdarah /wah tiru-tiru saur sepuh/

    kugoreskan
    embun jernih
    ke segenap nadi
    dan biarkan sepoi lembut
    mendinginkan
    segalanya
    saat
    dua anak manusia
    saling mencinta
    tapi
    tak kuasa
    menembus luka yang menghadang

    cintailah AKU /bukan aku kecil lho/
    Hanya cintaKU yang sanggup mengalahkan segala dera cinta manusia.

  2. he he he
    mbak herlinatiens tidak tahan melakoni cerita buku sekaligus cerita hidup ya..? hingga keluar photobucketnya
    waaah jadi hilang misteriusnya…

  3. ” maka dengan kemanisannya itulah mbak masih menyimpan surat2nya bahkan dari surat para wanita2 itu….hehehe..”

    salamku,
    langitjiwa…

  4. Yos ditipu ma herlinatiens saja mau. pacar dia kan banyak. ya maksudnya, selingkuhan-selinguhannya kan banyak. yang paling penting tu tau siapa bima itu. pasti ini cara herlinatiens mengalihkan perhatian pembaca untuk melupakan siapa bima.hahahaha.kamu ketahuan,pacaran lagi,dengan si bima orang amerika.

  5. iwan kok koyok wedok? jangan-jangan dia perempuan ya?

  6. @ Yos: sebenarnya saya memang tak pernah misterius kan? saya selalu apa adanya. Hampir-hampir seperti buku yang terbuka. Bagi saya rahasia terbesar saya adalah tak adanya rahasia yang saya buka…lho?piye to? kekekke

    @ langitjiwa: duh dia manis ya? kekeke. saya kira cuma manis di depan saya saja. ndak tau..mungkin hanyut juga.

    @ asalnama: pacar saya banyak? siapa aja dong? wew…well, Bima. Bima itu semacan perjalanan yang mau tak mau musti dijalani.Ndaklah,masak saya mencoba mengalihkan pembicaraan. Kadang-kadang Iwan memang tampak perempuan, tapi dia laki-laki kok. Sepertinya begitu, seperti yang tertulis di kartu pelajar yang pernah saya lihat.

  7. @asalnama
    Yos ketipu ama herlinatiens????
    hwa ha ha ha
    lu aja kali, gue enggak..
    mungkin herlinatiens yang tertipu, kalo nggak percaya siapakah aku ini….
    ha ha ha ha /ngguyu koyo jin iprit/

  8. wahahaha..
    soulmate sejati kayaknya..
    terkadang, kenangan mengajarkan banyak hal yang tak pernah kita sadari..
    termasuk, belajar mencintai tanpa harus memiliki..
    salam,

  9. aku bilang ditipu herlinatiens untuk mengalihkan pembicaraan dari bima ke teman tapi teman-nya.kalau kamu berpikir menipu dalam hal lain.aku tidak tau.aku jadi curiga,jangan-jangan kamu terobsesi pada bibir herlinatiens,sampai salah tangkap.

  10. @ yos: kapan2 pakelah sama Sita Dewi….

    @ tehaha: mungkin begitu…mengajari sesuatu yang terkadang kita sendiri butuh seseorang yang lain untuk mengingatkannya; bahwa itu sebuah pelajaran yang baik. hoek…

    @asalnama: silahkan silahkan. jangan asal tuduh gitu.

  11. @asalnama
    cuman nama asalnama pernah juga saya pake buat komen di sini, zaman-zaman (tgl comment) puisi sunyi, kokrosono masih aktif dll

  12. @yos
    kalau saya sebut nama asli,si ibu ini akan tau siapa saya.jadi saya asal comot nama.kalau sama ya aku minta disorry.
    @herlinatiens
    bu ingat lagu siapa dia,yang jadi lagu berpacu dalam melodi tidak?

  13. @ asalnama: inget, inget. lapo? apek ta? terusno lho…

  14. yo aku teruskan. pacarherlinatiens siapa bu?

  15. pacarherlinatiens ya pacarnya mungkin. ndak tau. nanti saya tak merenung dulu bertanya pada cermin. kali2 dapat jawaban

Leave a Reply