stasiun di antara kereta -Bima-, 5
.: sang penjaga mimpi :.
Sekarang saya seperti tak memiliki alasan untuk lelap. Segalanya memang menjadi benar. Perasaan ini apa namanya? Seperti cemas dan sangsi untuk menamainya apa. Ya, karena segalanya menjadi tak memberi saya celah untuk menganggap sesuatu yang saya khuatirkan itu tak benar adanya.
Kenyataan bahwa hari-hari saya menjadi payah, itu sudah pasti benar. Dengan kerinduan yang tak pernah kurang. Dengan hampa yang sempurna. Dengan rasa yang sudah pasti menyeruak saat malam pelan-pelan turun menemani saya. Maka saya akan secepatnya berharap pagi segera datang. Dengan begitu kegelisahan dapat sedikit terbayar.
Saya mengkhuatirkan itu. Bukan karena saya takut sesuatu yang saya pikirkan itu salah, sebaliknya saya cemas sesuatu itu benar adanya. Ya, bahwa cinta yang saya miliki terhadapnya adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa saya sangkal.
Sekarang seperti malam yang sedih. Hari-hari akan memasuki catatan kecil, dunia mimpi yang segera berakhir saat ayam berkokok memanggil pagi. Saya rasa, saya tak memiliki kekuatan yang lebih untuk terbangun -lagi-.
“Sayang, ijinkan aku untuk terus lelap begini. Bermimpi begini, membuat derita sempurna adanya.”
Bahwasanya saya tak menginginkan dia, itu sudah pasti benar. Tapi kenyataan bahwa saya ingin selalu bersamanya itu lebih dari sekedar kebenaran mimpi pribadi. Pendeknya saya telah dengan sembrono memasuki mimpi untuk memotret dedaun yang ada di dalam dunia lelap itu. “Oh, mana bisa kita memotret mimpi.” Dan sekarang, sayalah orangnya, yang telah mengingkari keyakinan saya sendiri itu.
Saya takut lelap, saya takut bermimpi. Kenyataannya? sekarang saya duduk menunggu mimpi berikutnya sampai. Saya tak mau terbangun. Saya akan membungkam kokok ayam yang mengundang pagi untuk datang.
“Kalau rindu begini, Sayang. Aku hanya ingin melihat matamu.”
Memang tak ada yang cukup. Saya memang harus belajar lagi untuk mencukupkan diri dari mimpi yang datang ini. Kalau dia datang, saya -berjanji- akan menjemputnya. Kalau dia lelap, saya -berjanji- akan memeluknya. Kalau dia menangis, saya -berjanji- menjadi airmatanya. Kalau dia terluka, saya -berjanji- akan menjadi darahnya.
Kalau sudah begini saya seperti tengah memasuki peta-peta kekalahan. Pada kota tua yang tak pernah saya kenali dengan benar, saya menjadi semakin asing. Tugu berdiri dengan cara yang baru di mata saya. Orang-orang bicara dengan nada yang sama sekali baru di telinga saya. Semua nampak baru dan jauh dari saya. Hanya dia, satu-satunya yang tak menjadi asing bagi saya.
Dia, penjaga mimpi saya; dengan sempurna mengingatkan malaikat-malaikat bersayap yang melepas busur tanpa memikirkan derita jantung yang terbakar. Sayalah anak panah yang berdarah itu. Menikam jantung sendiri dengan cara seperti yang dia minta. Saya memulainya dengan benar, begitu panah itu menusuk jiwa saya. Dengan kedua telapak tangan saya sendiri, saya meremas jantung saya. Pelan-pelan, saya merasa sedih sekaligus menderita sesudahnya.
Sekarang, jelaskan pada saya. Adakah yang lebih tasbih dari mimpi pribadi yang saya yakini kini? Mustikah saya yakinkan penjaga mimpi saya untuk tak kemana? Saya tak berani memintanya. Tuan itu, tak mengajari saya meminta.
Saya, terbiasa mencukupkan diri dengan lelap yang cukup. Mimpi yang seadanya. Harapan yang sewajarnya. Kenangan yang biasa. Tapi sekarang, bolehkah saya meminta Tuan Penjaga Mimpi untuk terus menjaga mimpi saya? Menjaga kereta Bima saat membawa saya?
Kereta Bima berhenti di hadapan saya, petugas stasiun mengabarkan, kereta akan telat berangkat karena kerusakan mesin kereta. Saya seperti harus naik. Memasukinya, memilih bangku dekat pintu. Saya belum memiliki tiket Bima, tapi saya sudah menyiapkan uang denda kalau-kalau saya terbawa sampai ke Jakarta tanpa sempat turun untuk membeli tiketnya.
Duduk di samping jendela, saya tak lagi sempat melihat ke dalam stasiun yang ramai oleh penumpang dan pedagang. Saya ingin pergi bersama Bima. Tapi di tangan saya hanya ada tiket Gajayana. Saya bimbang sekaligus senang. Saya ingin lelap melanjutkan mimpi, tapi saya takut benar-benar bermimpi dan terbangun di stasiun berikutnya sebelum sampai pemberhentian terakhir.
Hanya ada cemas bersama saya, “Tuan, tidakkah Tuan ingin menceritakan pada saya, tentang pemberhentian terakhir kereta Bima?”









oooo,seperti kalah sebelum bertarung.Ibu kan petarung yang handal,mengapa harus takut?mbok seperti kalau sedang di ruang seminar.Selalu membuat peserta tertarik dan mendengarkan sampai selesai.Ada apa gerangan?Bagaimana kalau aku yang jadi kereta bima bu?atau penjaga mimpi itu?siapa sih siapa?
Bukan kalah sebelum bertarung. Misalkan kita mau biki kue, Tuan; kita tahu apa saja yang dibutuhkan dan apa saja yang kita miliki bukan? Tokoh ‘penumpang’ tidak sekadar membutuhkan gula dan tepung seperti kalau dia membuat kue. Lebih dari itu,menautkan sesuatu memerlukan jiwa yang utuh untuk meluruskannya. Coba saya nanti saya pada penumpangnya.
Kalau misal saya yg jadi penumpang itu, saya memang mungkin akan bertarung, bertarung melawan perasaan itu mungkin.kakaka,gak tau de.Namailah kereta sampeyan sendiri.Karena Bima bisa saja mengganti haluan sesuai kemauan petugas kereta.
sepertinya harus.menjagamu dengan cara seperti yang kamu mau darinya dulu.mereka memberimu kembang api?aku punya lilin.jadikan aku seperti yang kau minta.
saiki aku tahu, ada yang mencurigakan di comment foto di friendster.ni aku copy
Bhiemz – posted – 2/25/2008
I saw something different…really hard to describe,…Damn…!!
kira-kira Bima itu berasal dari nama bhiemz ini kan?hahaha,kamu ketahun pacaran lagi,dengan si bhiemz orang amerika!
bhiemz?namanya aneh.pasti orangnya aneh.mending sama aku
Bhiemz
02/14/2008 11:45 am
* A girl so happy and as special as you,always make other happy too. and on this valentine’s day, i hope that nothing but sunshine and happiness come your way. Happy valentine’s days, and many hugs to you.
kamu ketahuan…
@ kaka: makasih.
@ asalnama: wew….
kalah untuk menjadi sesuatu bukanlah kesalahan
salah menjadi sesuatu juga bukan kekalahan
bukankah lebih baik aku menjadi aku bukan kau,bukan dia,bukan mereka,bukan siapa ataupun bukan apa.
Jadikanlah aku seperti aku…
@ entah: terimakasih entah…bagus tulisannya…
buset ada brp banyak pacar nya mbak? di usa,indo,oz ada? uk? lols :p
ape? kagak? odong lu! mana bisa ane klaim sepihak. ntar dikira rebut pacar orang lagi dong. dikira palsu dan apa itu budak cinta. makane ane kagak ada pacar ini. pan baru putus ma lu!eh ita gak sih ya.glek…becanda!
hei.. odong!. sejak kapan kamu jatuh cinta!..
jatuh cinta, jatuh cinta ja… ya ga buk… toh bisa dibagi2 kog..
kayak ma kanguru dan koala, babi nya til juga. hahahahahhaha
@ Til.. KANGENNNN….pacaran yuks!! hahahhaha.. buk ikut ga?? asalnama juga mau ikut?
kok aku gak di ajak ?! gak terdafatar yah..
hehehe
saya sama sampeyan ajalah mbak herlin
@ Astri: ya pasti bisa kali ane jatuh cinta. Lu jahat bgt sih…ntar juga pasti suatu hari aku bilang ma ye..eh Astri aku lagi jatuh cinta lo. trus lu ty ma saha? aku jawab ma diri sendiri lagi. glodak! gak kok bercanda
@ she: ya okelah begitu juga baik dek. daripada ma astri…aduh..dia mah..ah apaan tuh.kekekeke *panas,panas,astri panas*
wew…kalian kompak bener, komen dua-duan gini. mentang-mentang ni ye…wew..ternyata blogku berfungsi juga sebagai ruang pertemuan, kenalan dan pacaran deh. ya silahkan dilanjut
yah kita berdua kan setia sama sampeyan mbak..
jadi yah pasti lah bakal ada komen2 dari kita selanjutnya.
senang kah sampeyan ?!
@astri: situ belom pernah liat babi saya sih ya? errr..bukan babi saya sih cuma itu babi nongol di rumah saya terus. kalo situ liat babi nya nanti naksir loh hati2.. nanti deh kapan gt saya kasih liat
wew saya jrg online skarang,lg membatasi pemakaian internet soal nye kmaren dimarahin dan diancam sama provider internet nya gara2 over limit terus lols
@herlina: alah no telp nye aje banyak bener,1 pacar 1 nomor lols.. apaan sih ngomongin itu budak cinta n palsu melulu -_-’