stasiun di antara kereta -Bima-, 4
.: di Ruang Tunggu, duduk dan termangu :.
Sekarang saya merasa seperti mencium tanah basah. Saya kira, saya sedang memandang ke arah taman belakang kamar saya. Berharap anginlah yang membawa keringat dan bau tanah itu sampai pada saya. Ternyata, memang hanya ada diri saya sendiri membentangkan tangan di pintu gerbang itu. Begitu hari menjadi penuh, hujan pelan-pelan jatuh di samping saya, dalam dada saya.
Seperti malam yang terus berganti. Bayangannya hadir menyelinap. Serasa seabad ia dapat hidup dalam benak saya. Mencuri celah yang bisa saja saya gunakan untuk menata hati. Oh, kiranya berapa banyak cerita dan kenangan yang bisa dia tasbihkan dalam seabad itu?
”Sayang, hanya dengan jiwaku sendiri, aku menjemputmu.”
Hujan dan malam. Rasanya terasa begitu karib bagi saya. Bersebelahan dengan batang-batang tembakau dan kopi panas di atas meja. Sekarang tampaklah nyata bagi saya; hujan dan malam telah tumbuh serupa kerinduan dan harapan bagi saya.
Hujan dan malam. Atau begitulah mustinya sebuah kesunyian layak lahir. Ketika senja pelan-pelan menurun, dan dengan tabirnya yang santun mengganti hari dengan malam. Saat itulah kerinduan saya terhadapnya lahir serupa benih-benih delusi yang memecah labirin. Sungguh tak enak merasa rindu begini. Perasaan saya menjadi kacau dan semua tampak tak benar.
Kalau saya tersenyum, itu pasti karena saya sedang mendustai diri saya sendiri. Kalau saya hanya terdiam saat malam, itu pasti karena begitu berat beban kerinduan yang musti saya tanggung. Kalau saya berbicara dengan bayangannya, itu sudah pasti karena saya memang sudah GILA!
Setiap kali saya memasuki sebuah malam dengan melihat sebuah bintang melintas, kerinduan terhadapnya akan pecah memenuhi keinginan saya. Saya akan menitikkan airmata, tapi bukan menangis. ”Tak semustinya kebahagiaan dikotori oleh airmata.”
Saya ingin melihatnya sekali lagi, melihat ke dalam matanya, menasbihkan ruang di antara kedua mata itu. Tapi saya tak pernah sampai. Kalau dia sekali lagi membisikkan sebuah peristiwa dalam mimpi-mimpinya, saya akan menahan nafas -lagi-. Sebab, tanpa kelahiran mimpi, semuanya bisa saja saya abaikan dengan cepat.
”Sayang, kapankah kita sampai?”
Seperti sebuah sedih. Saya mendengar suara malam menghampiri lelap saya dan berbisik, “Datanglah, Nona. Datanglah segera. Kau tak hanya dapat merindu tanpa pernah menemuiku.”
Saya sedih bermimpi begitu. Tapi saya selalu tertawa menyembunyikan semua. Saya tak seharusnya bermimpi tentang hutan yang berangkat dewasa. Tentang dunia rantau yang lahir begitu bertemu. Pertemuan sudah seharusnya menjadi angan-angan yang melayang serupa awan.
Sekarang teruslah tersenyum. Karena malam menjadi sudah tanpa senyummu! Seperti musim kali ini Sayang, tanpaku, duniamu akan terus berputar seperti biasanya…
Maka, tampaklah benar segalanya sebelum sampai.









ini sepertinya memang ada apa-apa dengan bima ini.yang pasti lagi bukan bima kereta.tapi manusia.saya rasa ini seperti nama tokoh2 dalam novel bu herlin yang selalu memiliki arti dan makna tersendiri entah dalam keutuhan novel itu ataupun dalam kehidupan nyata.
bima! telah kau dakwa aku dengan cintamu, kau jatuhkan pidana,
aku terima tanpa meski aku banding dan atau kasasi atau bahkan peninjauan kembali.
aku takluk dengan pidana cintamu, bima!
Duh Bang Bima-nya kemana ya,kok pada banyak yg nyari,pada jatuh cinta keknya ma si abang ni.Mau dijatuhi hukuman -cinta- mati pula sama ibu hakim satu ini.Duh si abang ni ah…Oh Astri,terganya dirimu pada bang Bima. Eh, emang Bima siapa sih? Yang mana? kenalin dong…
@asalnama: Oh Bang Bima sedang populer di sini ternyata. Tapi saya dah posting tulisan baru yg judulnya bukan BIMA…perihal ada arti itu sudah pasti benar adanya. Misalkan nama Smesta Mahatvavirya dalam novel Koella. Itu karena saya menganalogikan sesuatu dengan kata smesta itu. Saya terinspirasi pada kisah teman saya yang bernama Bayu. Nah Bayu dalam bahasa jawa kan artinya angin.Angin sangat berpengaruh pada dan dengan semesta, makanya saya mabil itu. Bisa saja sih saya memang sedang kenal dengan seseorang bernama Bhima,lantas saya menganalogikannya pada sebuah cerita.Hanya saja tidak mutlak begitu adanya. Ada bagian yang tersembunyi ada yang diada-adakan,ada juga yang ditiadakan. Pendeknya,sefaktual apapun sebuah cerita,tetaplah tulisan Stasiun di antara kereta adalah karya fiksi.
bang bima! aku ga da bilang bang. kog pake bang?
bima ya bima.. kamu mau aku kenalkan ma yang bang bima? sini, selasa lusa aku mau ke belahan bumi sono.. mau ikutan kamu (dalam mimpi kale atau imajinasi)..
lelah aku buk!!
o o,kamu ketahuan pacaran lagi dengan si bima,teman baikmu.seperti lagu mattaband.o,jadi bener namanya bima?o,si bima?atau singkatan nama?
Eh nambah.Kalau gitu berarti ada tokoh gambarannya didunia nyata bu?siapa?laki-laki atau perempuan?nama aslinya siapa? kok jadi bima kenapa?kalau ada kok tidak mampir ke blog ini bu?kenapa?atau sengaja disembunyikan atau memang tidak ada?lebih baik tidak ada,aku mau daftar soalnya.
kalau koella aku belum baca.aku baca malam untuk soe hok gie.itu novel aku suka lho bu,mantan pacarku kukasih itu.dia aktivist.
Saya seperti buku yang terbuka.Tidak menyembunyikan apapun.Tapi kalau ada hal yang membingungkan itu tinggal bagaimana pembaca memaknainya.Seingat saya.Koella itu menceritakan seorang perwira AD yang pacaran ma anak sebuah keluarga yang di-PKI-kan. Malam untuk Soe Hok Gie? ya begitulah.
@ Astri: Ya deh Astri, aku dikenalin ya bang Bima,kali-kali ane jatuh cinta kek si ‘penumpang’…kekekke
siapa penumpang itu mbak..? emang si astri supir Bus
hehehe…
Penumpangnya ya yg di tulisan2 saya itu. tokoh penumpang dlm tulisan itu de.Ni,bacanya sambil senyum2 sih,makanya ndak paham.Astri?supir bus?Bukan dia calo de…
penumpang nye si mbak herlin ini hihihaha tapi dari pada jd penumpang kereta dia mah lebih cocok jadi penumpang ojek kakaka. uda dandan bagus2 pake gaun make up tebel2 kek amoy2 di film2 tp naek ojek,nyampe2 tempat nya dandanan nya uda jadi nasi campur hiahiahiahia lucu jg kalo dibayangin :p
@til: Bagooos…seep..nasi campur ya? trus sampeyan makan dong.