tentang pilihan
(perihal mencukupkan diri itu)
…kalau-kalau, suatu hari, seseorang dari kita sampai pada sebuah bar yang dipenuhi dengan segala jenis minuman dengan berbagai warna, rasa, dan kenikmatan -saat haus tentu saja-
jangan tergesa memilih, biarkan dulu pikiran kita menenangkan dahaga kita. Percayalah, rasa haus bisa kita tawar dengan jiwa kita sendiri, tak perlu mengambil pilihan-pilihan yang ditawarkan pelayan. sebenarnya saya suka kopi, tapi anggur nikmat juga, mungkin air perasan jeruk juga segar. nah, nah, nah, kita telah dimanjakan dengan banyak pilihan itu bukan? apakah kita boleh memilih seteguk kopi, seteguk anggur, seteguk air putih? kalau saja itu terlihat sopan bagi pelayan…seperti Tuhan, pelayan seringkali bermain-main…
“wahai pelayan, ajarilah aku cukup dengan secangkir kopiku…”
Saya tak suka memilih, tapi kalau-kalau kopi itu terlalu manis, saya akan tinggalkan, saya takut kena diabet! sejujurnya, saya selalu cukup dengan liur saya sendiri….karena sesungguhnya seperti kita;kopi, syrup, anggur, atau ladypink tak suka menjadi pilihan…
Sebagai manusia, sayapun benci memilih, semoga tak pernah ada pilihan untuk saya. Karena saya tahu, saya pasti akan memilih diri saya sendiri!
(untuk adek kecil…Rusli Hariyanto)









saya sedih dengan pilihan Mbak. tapi saya pikir juga benar kalau mba milih diri sendiri. bukankah diri mba itu sangat indah? bener lho…gak peres.
apa maksudnya dengan kopi dan pelayan? kalau saya yang disuruh pilih, pasti saya akan pilih jadi kopi yang mba teguk ketimbang jadi pelayan.
dari semua catatan mba itu, saya senang membacanya. kecuali perihal Tuhan yang mbak bilang main – main. jangan membuat perumpamaan lho mba. Tuhan gak pernah main – main. kalau mba Linatiensku baru suka main – main. dah banyak korban kan? kabarnya para penyair yang banyak jadi korban ya….
jangan salah paham mba. saya bukan mengajari. bukan juga sutasoma. saya gak suka melihat mba kesepian…jangan sedih terus ya…dan jangan lupa maam nasi…
sepertinya penyair juga ya Pak? kalau herlinatiens menulis begitu, biasanya memang sedang ada korban baru. tapi bagaimanapun dia, saya pasti suka kalau dia mau menjadikan saya salah satu korbannya.siapa yang tidak mau menikmati senyum mbaknya itu. kalau dia sudah berkata, “saya pikir begitu.” aduh seksinya. kalau menimati dia seang serius bicara…
keterlaluan sekali komentarnya…tak ada korban.
mas Dhamparan…maen-maen apa maksudnya? mang dah pernah tak maenin po
jangan suka nuduh ah…
tapi bolehlah komentar-komentarnya.
jangan becanda Mas. saya ni tidak seperti. tapi memang penyair…dan bukan korban. tapi mengorbankan
mengorbankan diri maksudnya…hehehe
pilih, memilih, dipilihh ahhh terlalu sulit! mending aku menendang anusku sendiri yang tak berlobang. agar aku bisa tersenyum. sekali lagi jangan pernah merasa bisa memilih! streess orang orang melihatmu, dan kemudian berebut untuk dipilih. ada kopi yang pahit berusaha untuk mengejar gula agar kau pilih karena kau suka…kemudian kau bilang takut diabetes! dia mencaci berusaha membuat gula itu terasa pahit…! eh rasa kopi itu aneh…tetap saja akan membuatmu diabetes. walau seribu orang bilang itu baik itu baik. walau seorang utusan kopi bilang ahh cuman sedikit. hanya kamu yang bisa memilih… terlalu…terlalu berani sang kopi… nekat.. tapi itulah kopi.. tuhan juga pernah main main lha wong tuhannya punya kuasa.. yahhh terserah mau main main atau tidak…mau eek atau mau punya istri.. itu kan
Anda benar saudara Rusli, saya sepakat. tapi memilih dan dipilih herlinatiens sama-sama enaknya.
saya tidak sedang mendebat anda mbak herlinatiens, saya sedang menulis apa yang ingin saya sampaikan saja. Saya mengorbankan diri juga, tapi beliaunya terlalu pemilih. Saya senang membicarakan dia dengan seorang kawan (perempuan) yang kebetulan merasa pernah menjadi korban mbak Herlinatiens. Kabarnya, mbak herlinatiens selain lihai menulis, memainkan mata juga menghisap bibir-bibir yang luka.
mbak,mau namanya festival penyair perempuan,mau festival penyair nasional tetap saja kalau sekup nya nasional namanya festival penyair nasional.bisa kita diskusikan lebih lanjut.ya,kecuali mbak nggak mau diskusi sama anak 2006 yg seperti anda ucapkan.
sukma ini penyair atau apa ya? kok goblok begitu? ya menurutmu pasti sama, tapi bagi yang pintar bisa saja melihat dengan berbeda. bodoh.mbak herlinatiens, katanya mau ngajari nulis? kok malah anak-anak itu yang diajari sih.
hmmm…seserius inikah dunia? waw, aku sudah lama tertidur rupanya, dan terbangun dengan beberapa kepeng mata uang yang tak lagi laku di pasaran. Tolong beri tau aku kalo ada museum atau tempat penjualan benda antik, siapa tahu kepeng tak berguna ini bisa ditukar mahal oleh para kolektor dan pemerhati benda cagar budaya.
Satu hal yang merupakan karunia dan kutukan terbesar dari Tuhan pada Manusia adalah ”Kebebasan untuk Memilih” bahkan Tuhan-pun hanya ”mengingatkan” Adam dan Hawa untuk tidak memakan buah yang terlarang tetapi keputusan tetap di tangan mereka
The Elevated Places (Al A’raf)
[7.19] And (We Said): O Adam! Dwell you and your wife in the Garden; so eat from where you desire, but do not go near this tree, for then you will be of the unjust
Dan pada akhirnya Hawa-pun ”memilih” untuk memakannya..
Maka kisah kehidupan manusia pun dimulai, dan semua berdasarkan pada pilihan yang di ambil dalam begitu banyak persimpangan hidup sehingga manusia pun memilih masing-masing jalannya
Hidup adalah sebuah pilihan..
Ada yang memilih untuk berputus asa, beberapa memilih untuk menyerah, sebagian memilih untuk kalah, ada juga yang memilih untuk pasrah dan bertahan namun ada yang memilih untuk bangkit kembali dan berjuang, banyak yang memilih untuk menjadi pemenang, beberapa memilih untuk bertarung lagi dan lagi, dan semua-nya tetaplah sebuah pilihan.
Tidak ada pilihan untuk menjadi kaya, atau memilih untuk miskin. Karena itu semua adalah hasil akhir dari sikap mental yang dipilih. Kaya dan miskin hanyalah efek dari mentalitas pilihan sebenarnya dan sebelumnya. Seperti halnya menang maupun kalah bukan karena warna dadu yang menunjukkannya, tapi adalah pilihan sebelum dadu digulirkan.
Manusia tidak pernah dipaksa untuk berbuat dosa. Semua dilakukan dengan sadar, sukarela, tahu dan mengerti setiap konsekuensinya. Bahkan Setanpun tidak pernah mengancam, kebalikannya Tuhan yang banyak memberikan ancamannya.
Namun bagi beberapa orang, dunia ini semua hanya merupakan ancaman yang termanifestasi dalam bentuk kalimat dan kata-kata tanpa ada bobot atau tanpa kuasa sanksi dan konsekuensi yang berdampak secara langsung dan instan. Dan beberapa orang hanya percaya bahwa semua hukuman dan konsekuensi akan diberikan kemudian di waktu yang akan datang, di kehidupan setelah kematian sehingga bagi mereka ada beberapa saat untuk melakukan pertobatan atas semua salah dan dosa yang telah dilakukan. Seperti apa yang tertulis dalam semua buku tentang agama atau kitab-kitab tentang keyakinan manusia
Padahal pada kenyataannya dalam kehidupan saat ini, setiap pilihan yang kita ambil ada satu bahkan lebih dari satu konsekuensi, resiko ataupun sanksi yang menyertainya dan berdampak secara langsung, instan dan mendadak. Sehingga sanksi ataupun konsekuensi sebenarnya sudah dan atau akan kita temui baik di kehidupan saat ini dan ataupun di kehidupan setelah mati kemudian.
Hendaknya suatu pilihan yang diambil berlandakan pada kesimpulan yang matang dari suatu hipotesis yang berdasarkan pada banyak aspek dan pertimbangan.
Beberapa secara sadar dan sukarela memilih untuk menyalahgunakan semua kewenangan, aturan, kemampuan ataupun kekuasaan yang dimiliki selama beberapa waktu untuk kemudian bertobat diwaktu setelahnya dan berharap akan ampunan di waktu kemudian. Seperti halnya perhitungan seorang pedagang, dimana kerugian saat ini dapat ditutup dengan laba yang diperoleh kemudian.
Namun ada beberapa yang berpikir bahwa begitu dahsyatnya ancaman atas siksaan yang menanti di neraka sehingga karena ketakutan atas semua yang akan terjadi kemudian maka memilih untuk beribadah dan menjauhi larangannya semata-mata takut akan semua sanksi yang akan diterima dan mengharapkan imbalan atas semua pengorbanan yang dilakukan, bagaikan seorang budak yang takut akan murka sang majikan apabila melakukan kesalahan dan mengharapkan hadiah untuk perintah yang dilaksanakan.
Namun bagi beberapa yang tanpa pamrih, tulus dan ikhlas karena cintanya pada sang Pencipta, dengan sepenuh hati dan suka cita memilih untuk melaksanakan semua perintah dan tuntunannya tanpa keluh kesah dan tidak menginginkan balasan ataupun harapan akan kemuliaan. Hanya berdasarkan cinta. Cinta yang agung tanpa mengharapkan satu harapan sekecilpun akan pujian ataupun kesenangan. Hanya cinta yang sebenarnya merupakan dasar semua kehidupan.
Meskipun konsekuensi di kehidupan yang akan datang itupun masih sebuah merupakan bentuk ramalan, perkiraan maupun khayalan karena secara empiris tidak dan belum pernah dibuktikan. Namun hal ini sebenarnya merupakan hakikat tentang semua hal yang berkaitan dengan keyakinan, Tuhan, Agama maupun kepercayaan yaitu Iman
Mungkin sudah merupakan watak manusia untuk tidak menggubris sanksi ataupun konsekuensi namun bertekuk lutut pada tipu daya. Tapi sebenarnya bukan tipu daya ataupun faktor lain yang membuat manusia bersalah ataupun berdosa. Tetapi merupakan manifestasi dirinya sendiri ketika secara sadar dan sengaja berbuat hal-hal tersebut, karena apabila ada faktor ketiga, dalam hal ini setan ataupun tipu daya kesemua hal tersebut bukanlah pemicu untuk keputusan yang diambil, karena pada akhirnya keputusan ada di tangan manusia sendiri yang sadar atau tidak, semua manusia merupan suatu entitas yang sangat kompleks yang terdiri dari indera, akal, perasaan dan nafsu, suatu bentuk pemikiran yang nyata, yang baik maupun yang buruk, yang benar maupun yang salah.
Disengaja atau tidak manusia adalah pergulatan yang sempurna dan berlangsung dalam tiap detik antara malaikat dan iblis.
Jadi mengenai dosa, apapun juga manusia secara sadar dan sengaja melakukannya. Dan itu adalah sebuah pilihan yang diambil berdasarkan pertimbangan yang dipengaruhi oleh akal, pola pikir, perasaan, kondisi eksternal maupun internal, faktor lingkungan, rasio dan penalaran. Sehingga manusialah yang harus menanggung semua resiko dan konsekuensi yang menyertainya
Dan Tuhanpun tidaklah bermain dadu..
Seperti halnya sebuah pilihan, yaitu satu hal yang meskipun kelihatan sederhana akan tetapi merupakan suatu jalinan garis yang sangat rumit dengan ribuan bahkan jutaan peluang yang ada saling terkait antara satu sama lain dan tidak dapat berdiri sendiri, bahkan suatu pilihan untuk menoleh atau melangkah pun merupakan suatu rangkaian interaksi yang dipicu oleh pilihan yang dilakukan oleh orang lain dan atau faktor sekitarnya yang juga tidak berdiri sendiri. Satu pilihan yang kita lakukan merupakan suatu rangkaian dari seluruh kehidupan yang kita jalani berikut semua unsur atau komponen yang berada didalamnya.
Mau tidak mau semua rangkaian jalan hidup manusia masing-masing jalin-menjalin dengan manusia yang lain dalam suatu bentuk yang sangat rumit meskipun kelihatan sangat acak dan tidak teratur namun sebenarnya adalah suatu rencana agung dengan jutaan faset, jutaan skenario, jutaan bahkan milyaran proses dengan milyaran hasil akhir dan tiap pilihan yang diambil akan membawa hasil yang berbeda-beda yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam suatu rangkaian rencana yang sangat-sangat kompleks dan rumit, semua telah memiliki tempat, fungsi, pengaruh atau efek masing-masing dalam rincian yang sangat detail dan teliti meskipun semua hasil akhir sangatlah bervariasi, dan semua tergantung pada satu pilihan yang diambil sebelumnya.
Jadi mungkin sebenarnya kehidupan tidak mengenal kebetulan, ketidaksengajaan, kecelakaan atau semua hal yang seolah-olah berdiri sendiri, karena pada dasarnya kehidupan sebenarnya terpola, terukur, nyata dan pasti akan menjadi, meskipun peluang untuk terjadi hal yang satu dan hal yang lainnya tergantung dari suatu pilihan sederhana yang mengawalinya.
Tidak akan terjadi suatu hal yang disebut dengan “kebetulan” ada dalam suatu bentuk rencana yang sangat teliti dalam detailnya terjadi.
Ta Ha
[20.115] And certainly We gave a commandment to Adam before, but he forgot; and We did not find in him any determination.
[20.116] And when We said to the angels: Make obeisance to Adam, they made obeisance, but Iblis (did it not); he refused.
[20.117] So We said: O Adam! This is an enemy to you and to your wife; therefore let him not drive you both forth from the garden so that you should be unhappy;
[20.118] Surely it is (ordained) for you that you shall not be hungry therein nor bare of clothing;
[20.119] And that you shall not be thirsty therein nor shall you feel the heat of the sun.
[20.120] But the Shaitan made an evil suggestion to him; he said: O Adam! Shall I guide you to the tree of immortality and a kingdom which decays not?
[20.121] Then they both ate of it, so their evil inclinations became manifest to them, and they both began to cover themselves with leaves of the garden, and Adam disobeyed his Lord, so his life became evil (to him).
All Qur’an Text Originaly copied from The Holy Qur’an
Translator Shakir, M. H.
Tahrike Tarsile Qur’an, Inc
P.O. Box 1115, Elmhurst, New York 11373.
Ada yang dakwah disini ya Tiens?Ya pencerahan dong ya.